Aku tertegun mendengar jawaban Helena. Nampaknya aku harus berhati-hati padanya. Wanita satu ini sangat mengerikan. Parasnya yang cantik dapat dengan sempurna menutupi kelicikannya.
" Aku mengetahuinya dari awal. Aku juga mengincar naga itu. Kau tau kau bisa saja sangat menguntungkan untuk siapapun. Termasuk ayah tirimu, King Alfredo." Jawabnya.
"Jangan katakan sepatah katapun yang menjelek-jelekkannya. " Ancamku, aku berdiri dan segera pergi dari situ.
"Naif... Kau sangat naif." Bisiknya.
Aku berbalik dan berjalan kearahnya. " Aku memang sangat naif, tapi aku tidak bisa kau manfaatkan untuk kepentinganmu Helena... Aku bukan orang bodoh..." Aku menjawabnya dengan sedikit berteriak.
Lalu ia sedikit melambaikan tangannya di depan mataku, ia mengeluarkan cahaya biru berbentuk bola. Ia memejamkan matanya sebentar. Lalu ia menatapku dengan tajam " Jaga ini baik-baik Vale, ini adalah pemberian ku yang sangat berharga. " Ucapnya.
Aku hanya terdiam melihatnya aku benar-benar tidak tau apa yang ia lakukan. Lalu ia memasukan bola biru cahaya itu kedalam dadaku. Bola cahaya itu langsung masuk dalam tubuhku.
Aku merasakan sesuatu yang bergejolak. Seperti, listrik, api, semuanya seperti ingin keluar. Aku sedikit merintih, arghhh... Jantungku seperti diemas-remas, terbakar. Seketika aku merasa kedinginan, dan juga kepanasan. Aku seperti penuh dengan sesuatu yang memberontak ingin keluar.
Aku melihat di sekujur tubuhku, pertama-tama kulitku memerah. Lalu memutih lagi. Aku tidak bisa menahanya lagi. Kakiku sudah mati rasa aku terjatuh pingsan.
------------
author POV..
Elisa mondar-mandir di ruangannya sambil mengikuti kuku tajamnya. Ia terus mondar-mandir. "Helena....!!!!" Teriaknya sambil memukul keras meja yang ada di depannya. "Ia... Ia telah mengacaukan semuanya...!!! Aku tidak akan membiarkan mu Helena. Seharusnya aku sudah membunuhmu dari dulu." "Kurang ajar...!!!!" Teriaknya. Amukan nya mematahkan meja kerja yang ada di depannya.
Ia berjalan menatap cermin. Ia sedikit menyentuh cermin itu dan memejamkan matanya. Dengan ajaib ia masuk dalam cermin itu.
Ia masuk dalam ruangan gelap penuh dengan kristal hitam yang sangat indah.
Ia berlutut dan menatap pantulan wajahnya di kristal itu. " Aku memintamu lagi." Bisiknya. Seketika ada wajah hitam lebih mirip seperti bayangan. Bayangan itu keluar dari salah satu kristal itu, dan berjalan perlahan disekeliling Elisa.
Ia menyentuh dagu Elisa sehingga mereka bertatap wajah. " Hmmm Elisa, kau masih sangat tampan." Ucapnya dengan nada sedikit menggoda. "Aku membutuhkan kekuatan lebih." Jawab Elisa dengan nada tinggi. Bayangan itu meletakan jari telunjuknya ke bibir Elisa. "Shhh... Berhati-hatilah, perhatikan dengan siap kau bicara."
Elisa hanya terdiam. Bayangan itu berdiri didepannya. "Berdiri lah Elisa."
Perintah bayangan itu. Elisapun berdiri, bayangan wanita itu mendekati Elisa meletakan kepalanya di d**a Elisa, dan menarik nafas panjang.
" Setelah Helena, apa kau jatuh hati pada Valientine Rosetta, Putri Hersh."
" Itu buka urusanmu. Berikan aku kekuatanku...!!"
" Hmmm ia pengendali naga. Sekaligus kau jatuh hati padanya. Sempurna..."
" Aku mohon berikan kekuatanku Sekarang.".
" Aku tau apa yang kau rencanakan Elisa."
Bayangan itu mengulurkan tangannya. Dan memberikan sedikit kekuatan pada Elisa.
"Kalung itu Elisa. Akan memberimu kekuatan. "
"Hal buruk akan menimpa mu jika kau terus mengejar cinta Valientine."
"Hentikanlah...."
Bayangan itu menghilang menjadi asap kembali kedalam kristal-kristal hitam. Elisa pun segera beranjak dari tempat itu. Ia menghela nafas,... Dan beranjak pergi.
----------
Tok..tok..tok....
Vale terbangun karena suara ketukan pintu yang agak keras. Miranda masuk kedalam kamarku dengan menunduk. " Pakaian sudah siap tuan putri." Ucapnya sambil terus menatap lantai.
Vale pun bangun, dan beranjak pergi mandi. Ia sama sekali tidak ingat kejadian kemarin.
Miranda terus menunduk sambil membenahi gaun biru Vale. Vale hanya menatapnya kesal. " Ada apa Miranda? Apa aku berbuat salah?" Tanya vale, tanpa rasa bersalah. Miranda menatap mata Vale dengan sedih, " Aku tidak apa-apa Putri.." jawabnya. Vale terlihat tidak puas dengan jawaban Miranda. Ia memegang tangan Miranda, " Katakan dengan jujur Miranda.." desaknya.
Miranda hanya termenung... " Ahhh...." Teriakan Miranda membuat Vale kaget dan lepaskan tangannya. " Tanganmu terasa sangat panas. " Jawabnya. Vale terdiam dan melihat telapak tangannya, " ahhh... Matamu ada apa dengan matamu Putri." Ucap Miranda kaget.
Vale langsung berlari menuju kaca, ia sangat kaget iris matanya berubah menjadi ungu. Vale shock, ja berjalan mundur sambil terus menatap pantulan wajahnya. Tak sengaja ia menubruk meja kecil di belakangnya dan menjatuhkan vas bunga indah yang ada diatas meja itu.
Ia melihat vas itu akan jatuh, tetapi vas itu terhenti dan kembali ke tempatnya ketika Vale melihatnya. Miranda ternganga kaget, " Putri...!!! Kau.... Kau bisa .... Bagaimana kau bisa melakukan itu semua." Teriaknya.
Seketika Helena masuk kedalam kamar Vale. Vale menoleh kearah Helena dan menatapnya tajam. Ia menghampiri Helena. " Apa yang kau lakukan padaku..." Teriak Vale.
" Kau harus tenang sekarang Vale."
"Bagaimana aku bisa tenang Helena... Kau... Kau mengubah ku menjadi seseorang yang bukan aku."
" Aku hanya memberimu kekuatan sihir. Agar kau bisa mengalahkan Elisa dan mengontrol naga itu."
"Aku tidak ingin ini, tidak ingin... Ambil kekuatan ini kembali..."
" Tidak bisa Vale. Kekuatan mu jauh berkembang lebih dari yang ku perkirakan. Aku pikir inilah takdir mu Vale."
" Omong kosong.....!!!!" Teriakan Vale menghempaskan Helena kedinding.
Brakkk...... Diding itu retak seketika.
Vale terdiam dengan amarahnya yang berkobar, kekuatannya juga jauh lebih besar. Ia mengacak-acak kamarnya. Miranda yang ketakutan keluar menemui King Alfredo.
Helena berusaha menghentikan Vale dengan memegang pundaknya. Ia mengalirkan suatu energi yang merendam kekuatan Vale. Valepun jatuh pingsan.
-------
Vale terbangun dalam kamarnya, King Alfredo memegang tangannya. Matanya yang setengah mengatup, melihat King Alfredo.
"Apa yang terjadi padaku. " Tanya vale....
Suasana menjadi hening....
" Kau aku beri kekuatan sihir. " Jawab Helena memecahkan keheningan sekaligus membuat Vale tercengang. King Alfredo hanya menatap Vale, semuanya hanya terdiam.
" Kenapa? Untuk apa?" Tanyanya lagi.
" Menghancurkan Elisa." Jawab King Alfredo. Alfredo tua itu mengelus janggut nya. Ia tampak sangat tenang.
Vale agak marah ia meremas selimutnya. Tetapi semuanya mereda setelah King Edward masuk dalam kamar Vale. Ia menghampiri Vale yang terbanting. " Ayo semuanya kita harus bersiap." Ucapnya dengan tersenyum tipis menambah kemanisan parasnya yang tampan.
Ia mengangkat tubuh Vale dan menepuk pundak Vale " Ayo bersiaplah. Kita sudah terlambat. " Ucapnya. Vale hanya bisa terdiam. King Alfredo dan Helena pun pergi dari kamar Vale. Miranda menyiapkan gaun Vale, gaun biru yang sangat indah. King Edward tersenyum dan pergi.
-------------