Vale menyeret gaunnya yang berat dan masuk dalam kereta kuda putih yang telah menunggunya. Ia masih tidak bisa mengerti dengan kejadian-kejadian aneh yang menimpanya. Ia hanya menatap kedepan, dan meremas gaunnya.
Kerajaan Roopsh sangat jauh dari kerajaan Hersh butuh 2 hari untuk menempuh perjalanan kesana. Kerajaan Roopsh juga selalu diterpa musim dingin, banyak tumbuhan musim dingin yang tumbuh di tanah kerajaan Roopsh.
Malam menjelang, Vale dan rombongannya bermalam di sebuah pedesaan dekat hutan. Vale dan rombongannya menginap di salah satu benteng dekat hutan. Ia mendapat kamar tepat diujung lorong.
Setelah makan malam, Vale berjalan-jalan menikmati udara malam yang dingin. Ia dan Miranda mulai menelusuri bagian-bagian benteng. Rambut pirang Vale tertutup oleh jubah birunya. Ia mulai berjalan keluar benteng tanpa rasa takut.
" Jangan kesana tuan putri... " Ucap Miranda mengingatkan. Tapi Vale tidak menghiraukannya ia masuk dalam hutan dan menelusuri hutan. Kunang-kunang menghiasi suasana gelap hutan. " Ini sangat indahkan Miranda..." Ucap Vale. Miranda yang ketakutan hanya terdiam. Sambil menenggang lentera.
Vale kembali ke kamarnya, Miranda sudah menyiapkan air untuk mandi dan sebuah baju tidur untuknya. Setelah mandi Vale berganti baju lalu segera terlelap.
Suara angin yang meniup selambu kamar Vale membuatnya terbangun. Ia melihat jendelanya terbuka. Ia beranjak dari tempat tidurnya dan menutup jendela kamarnya.
Udara malam sangat dingin membuatnya merinding. Suasana kamarnya yang gelap dan dingin sangat mencekam. Vale cepat-cepat kembali ke tempat tidur dan memejamkan matanya.
Tetapi suara hembusan nafas seseorang membuatnya kembali membuka mata. Ia sangat ketakutan, ia meremas-remas selimut tebalnya. Dan menutupi wajahnya dengan selimut.
Suara hentakan kaki yang agak keras membuat Vale semakin takut. Selimutnya tertarik kebawah ia berusaha keras menarik selimutnya kembali ke atas tetapi selimut itu tetap jatuh. Ia duduk di atas kasur putrinya ia melihat sosok hitam berdiri di depan ranjangnya.
" Siapa kamu? " Tanya vale sambil gemetar. Sosok itu hanya diam. Lau ia naik keatas kasur putih Vale. Dan memegang kedua tangannya dengan sangat erat. Sampai Vale terelentang diatasi kasurnya. Vale tidak bisa melepaskan cengkeramannya, walau ia berusaha sekuat tenaga.
Vale berusaha berteriak tetapi suaranya seperti tertahan tidak bisa keluar. Sosok hitam itu mendekatkan wajahnya, hingga hidungnya menyentuh hidung Vale. " Kau sebentar lagi akan menjadi milikku.." bisik sosok hitam gelap itu.
Vale meronta-ronta, tak sadar kekuatannya keluar. Menghempaskan sosok gelap itu. Sosok hitam itu berubah menjadi asap, dan menghilang.
Vale sangat bingung, " benteng ini angker.." pikirnya. Dan ia kembali tidur.
------------
Ketika matahari mulai menyapa dunia. Burung-burung mulai berkicau. Bantuan burung-burung itu membuat Vale terbangun dari tidurnya.
Miranda masuk dan membawakan segelas s**u dan sepiring roti untuk sarapan. " Saya sudah menyiapkan air mandi anda tuan putri." Ucapnya.
Setelah sarapan Vale dan rombongannya melanjutkan perjalanan. King Edward dan King Alfredo memimpin rombongan mereka dan Dennish mengawal kereta Vale.
Mereka melewati hutan Reed. Perbatasan Hersh dan Yoorsh. Hutan itu cukup luas. Rombongan King Alfredo beristirahat di hutan itu. Mereka mendirikan tenda-tenda untuk beristirahat.
Dan untuk Vale, ia memilih untuk belajar memanah. Cuaca yang tidak berangin sangat mendukung kegiatan Vale ini. Vale belum mahir dalam memanah ia selalu meleset.
Tapi tiba-tiba King Edward menghampirinya dan memegang tangannya yang memegang busur dan anak panah. Ia tari anak panah itu kuat-kuat dan mulai membidik, " lepaskanlah" bisiknya.
Vale melepaskan anakpanah itu dan anak panah itu tepat pada sasaran. Ia sangat senang. " Berkonsentrasi lah ketika membidik sasaran. " Ucap King Edward Dangan melemparkan senyumannya kepada Vale. Seketika hati Vale berdegup kencang. Tanpa sadar pipinya mulai memerah.
King Edward meletakan kedua tangannya pada pipi Vale, " pipimu memerah, apakah kau kedinginan?" Tanyanya. Vale menatap King Edward dan langsung berbalik pergi. Mungkin ia sangat malu.
Perjalanan berlanjut setelah makan siang. Helena duduk di samping Vale, " kau adalah permata yang hidup Vale." Ucapnya memecahkan keheningan. Ia mengambil tangan Vale kepangkuannya. " Cobalah mengeluarkannya ke telapak tanganmu." Ucapnya sambil memandangi telapak tangan Vale. Aku hanya membalasnya dengan tatapan sinis. " Percayalah Vale, aku ada di pihakmu.
Aku hanya mengangguk dan mencoba apa yang ia katakan. Lalu keluarlah cahaya ungu di telapak tanganku. Lalu ia memadamkan cahaya itu dengan menutupnya.
" Vale, cahaya mu berwarna ungu... Sangat indah. Kekuatan mu lebih dari yang kau bayangkan. " Ucapnya dengan tersenyum. Seketika aku merasakan aura kebaikan dalam dirinya.
Kereta kuda yang memuat aku dan Helena terhenti di salah satu benteng, benteng kerajaan Yoorsh. " Kenapa kita berhenti disini?" Tanya Vale. " Kita akan sampai petang ini. Kita harus bersiap." Jawab Helena.
Kami semua turun, dan bersiap. Miranda sudah menyiapkan air mandi dan gaun biru anggun dan cantik
Miranda mendandani Vale hingga Vale terlihat sangat cantik. " Kau sangat cantik..." Ucap Helena. Vale hanya membalasnya dengan senyuman tipis. Setelah bersiap sebentar Vale kembali melanjutkan perjalanan jubah biru yang kontras dengan gaunnya sangat indah membalut tubuhn Vale.
------------
"Valientine Rosetta... Kau sangat cantik hari ini. Tunggu aku.. aku akan segera menjemput mu." Ucap Elisa sambil menatap langit. Ia menggenggam kalung hitam sumber kekuatannya itu. " Aku akan mendapatkannya.." bisiknya lagi.
Elisa pun bangkit dan beranjak pergi....
........
Langit sudah petang... Bintang sudah bertaburan di atas langit yang gelap. Kegelapan dan suasana malam yang mencekam...
Vale menyentuh dadanya.. udara dingin disekitarnya membuat Vale ketakutan.. " Perasaanku tidak enak, rasanya akan terjadi sesuatu.." ucapnya dalam hati dambil terus menunduk dan mengelus dadanya.
Helena tidak menyadari apa-apa ia hanya terdiam... Dan menggigil..
Suara burung malam bergeming disepanjang perjalanan. Lengkap dengan suara jangkrik yang melengkapi ketakutan Vale.
----------