" Ia mungkin akan lumpuh. Karena tulang belakangnya terbentur sangat keras. " Ucap salah satu dokter istana pada Vale. King Alfred terbaring lemah tidak berdaya. Ia menatap lurus ke depan dan tidak bergeming. Melihat keadaan ayah angkatnya itu Vale sangat sedih. Hatinya terasa sangat perih. Vale menyentuh dadanya, dan airmata mulai menetes dari mata indahnya.
King Alfred menatap Vale yang menangis. Ia mengulurkan tangan dan memegang tangan Vale. Vale pun duduk di kasur king Alfred dan terus menunduk. King Alfred menyeka air mata yang mengalir di pipi Vale. " Tenanglah.. ini bukan salahmu..." Ucap king Alfred dengan lembut. Vale memeluk ayahnya itu dan terus menangis tersedu-sedu. " Maafkan aku ayah." Bisiknya sambil terus menangis.
___________
Mendengar kabar bahwa raja Hersh sekarang sedang sakit. Seluruh pemimpin kerajaan yang bersekutu dengan Hersh pergi menjenguk king Alfredo. Temasuk king Edward. Istana Hersh sangat padat. Banyak raja-raja yang datang bergantian dengan para bangsawan. Tidak sedikit juga yang memilih menginap.
Bagi musuh Hersh keadaan ini membuka peluang mereka untuk menyerang Hersh. Berbagai pemberontakan muncul dimana-mana. Alhasil Vale sangat sering pergi untuk menumpas pemberontakan, dibantu dengan. King Edward, dan Dennish. Hal ini menimbulkan istana sangat lemah, yang memungkinkan adanya musuh dalam selimut yang akan menyerang dari dalam.
~~~~~~~~~
Hari mulai sore. Vale kembali menuju istana dengan kudanya. Ia terlihat sangat lusuh. Rambut pirangnya ternoda oleh sedikit darah. Pedang besinya itu bersimbah darah. Membuktikan bahwa ia sudah banyak membunuh demi negaranya itu. Sesampainya di kandang kuda, Ia turun dan mengistirahatkan kudanya. Ia membuka helm besinya dan menunjukan begitu banyak cipratan darah yang mengenai wajah putihnya.
Ia pergi membersihkan dirinya dan berganti pakaian. Saat ia sedang merapikan pakaiannya, salah satu pelayan istana berlari terbata-bata kearahnya. Wajah pelayan itu sangat pucat. Ia terengah-engah sambil mengatakan sesuatu yang tidak jelas. " Tu.....tua..tuan...pu...tri.."
" Katakan dengan jelas!!" Ucap Vale tegas. Pelayan itu mengambil nafas dalam, " tuan Putri king Alfredo, king Alfredo..." " Ada apa dengan ayahku?!" Tanya Vale sekali lagi, tapi sebelum pelayan itu mulai bicara Vale sudah berlari menuju kamar king Alfredo.
Ia melihat semua orang mengelilingi king Alfredo. Mereka semua menunduk. Menatap Vale dengan tatapan sedih. Vale berjalan masuk dengan kaki gemetar. King Alfredo sudah terbujur kaku tak bernyawa. Kulitnya membiru, wajahnya sangat pucat dan rambutnya mulai kusam. " AHHHHH... Tidak... Tidak mungkin....!!!" Teriak Vale sambil memeluk tubuh king Alfredo yang masih terbujur kaku. Vale sangat marah dan sedih. Perasaannya tidak karu-karuan. Derai air matanya membasahi seluruh wajah dan selimut king Alfredo. " Kau... Jangan...jangan pergi...." Teriak Vale lagi.
King Edward menghampiri Vale dan menenangkan vale. Ia membenamkan wajah Vale dalam pelukannya. Ia menatap Vale dengan tatapan sayu. " Semua yang pergi harus direlakan Vale. " Bisiknya kepada vale. Tangisan Vale semakin pecah. Ia menangis hingga ia kehabisan nafas dan pingsan dalam pelukan king Edward.
Suasana saat itu sangat tidak mengenakan. Langit mendung gelap semuanya sedang bersedih. Kepergian king Alfredo sangat dirasakan oleh rakyatnya. King Alfredo terkenal sangat bijak.
Semuanya pergi melaut untuk melepas kepergian king Alfredo. Tubuh king Alfredo diletakan dalam sebuah kapal kecil tak berawak yang sudah dihiasi dengan serba putih. Di ujung kapal itu terdapat lentera oranye yang menyala. King Edward dan Dennish mendorong kapal itu hingga hanyut. Setelah beberapa saat, king Edward melepaskan anak panah api yang langsung mengenai kapal itu dan kapal itu terbakar. Bersama king Alfredo.
Vale sangat merasa kehilangan. Bagaimana tidak? Ia kehilangan sosok ayah untuk yang keduakalinya. Ia terus menyendiri dalam kamar gelapnya yang sunyi. Ia memandang bulan yang bersinar sangat terang. Dengan tidak sengaja airmata turun dari matanya.
__________
" Mau sampai kapan kau akan begini?" Tanya dennsih. " Ayo kita pergi keluar!!" Ajak pria itu lagi. Tapi Vale tidak menghiraukannya. Dennish ahany terdiam sedih dan pergi meninggalkan Vale.
Keadaan sedang kacau, posisi raja kosong. Banyak pemberontakan terjadi, dan Dennish harus menghadapi mereka sendiri. Pasukan semakin tipis. Banyak prajurit yang keluar karena kekosongan posisi raja. Krisis terjadi dimana-mana. Semua petinggi kerajaan hanya berharap pada Vale.
Setiap hari Dennish dan Miranda berusaha membujuk Vale untuk mengisi kekosongan posisi raja. Tapi jawaban Vale tetap sama, diam, diam, dan diam. Vale benar-benar berduka.
Berbagai krisis kerajaan Hersh sangat melemahkan Hersh. Ini sudah satu tahun sejak kepergian king Alfredo dan Vale tetap diam. Sesekali Vale pergi keruang tahta menatap bangku raja yang kosong itu dan berbicara sendiri. Mungkin ia sudah benar-benar gila. Ia sudah tidak memperhatikan kesehatan dirinya. Tubuhnya sangat kurus, rambutnya sering rontok. Ia seperti orang gila.
_____
Melihat keterpurukan Hersh, king Alfredo menemui Vale. Ia sangat prihatin dengan keadaan Vale. Vale terduduk di taman. Ia memegang setangkai bunga mawar putih yang memiliki bercak merah pada kelopaknya. Tangannya sedikit berdarah. Tapi tampaknya ia tetap tidak peduli.
King Edward berjalan kearah Vale dan menggenggam tangan Vale, tangan Vale semakin berdarah. Begitu juga tangan king Edward. Lalu ia menatap Vale dengan sedih. " Jangan menanggung penderitaan mu sendiri. " Bisik king Edward. Tapi Vale tetap tidak bergeming. King Edward menatap Vale sekali lagi dan mengajaknya ke ruang tahta.
" Lihat Vale!!! " Ucap king Edward sambil menunjuk kearah tahta yang kosong. Vale menatap tahta itu dengan pandangan datar. " Kau harus sadar Vale hidupmu terus berlanjut!! Kau harus tau tahta ayahmu itu sekarang milikmu. Kau harus memimpin kerajaan warisan ayahmu ini Dangan baik!! Apakah kau mau kerajaan yang ayahmu Bagun dengan keringat dan darah hancur sia-sia!!" Ucapan king Edward membuat Vale melotot dan menyadari segalanya. Tapi Vale tetap diam dan membuat king Edward kesal.
King Edward menggendong Vale untuk mandi dan makan lalu menggiringnya duduk di tahtanya. Sekali lagi Vale terdiam. King Edward sudah putus asa dan menyerah ia meninggalkan Vale sendirian.
" Masa berkabung sudah habis..." Bisik king Edward sebelum beranjak dari tempatnya.
Semalaman Vale tidak tidur ia duduk ditahtah merenung dan mengingat, Vale berusaha menyadarkan dirinya.
" Aku akan menjadi pemimpin..!!" Ucapnya dengan lantang. Vale mengepalkan tangannya. Sepertinya tekatbyakali ini sangat kuat. Ia mengumpulkan tekadnya. Ia sampai tidak bisa tidur memikirkan apa yang akan ia lakukan besok, ia terus berfikir. " Peresmian.." tiba-tiba tersirat dalam kepalanya. Ia harus meresmikan dirinya menjadi pemimpin. Ia terus menguatkan tekadnya, " jangan lemah..." Terus menerus ia menyuarakan dalam hatinya. Tekadnya terkumpul dan berkobar. " Aku akan memerintah lebih baik dari ayah.. dan akan aku buktikan aku pantas." Bisiknya lagi dalam hati.
__________