Aksara memuat novel & drama bertema dewasa (romansa, kekerasan). Dengan lanjut, kamu menyatakan berusia 17 tahun atau lebih.

oleh aditya yudha
Radit berjalan tergopoh-gopoh mengarah menuju rekan pendakianya, beberapa kali tersandung akar-akar kecil karena kurangnya cahaya penerangan. Seperti pada pendakian-pendakian yang lalu ia selalu menjadi orang yang paling belakang urutanya. Ia berjalan menepuk Pundak orang didepannya sembari berhitung dalam hati. “satu” “dua” “tiga” “empat” “lima” “enam” “tujuh” “delapan” “Sembilan” “sepuluh” “sebelas” Expresi panik mulai terlihat dari wajahnya, Keringatpun mulai bercucuran deras dan degup jantung mulai berlari cepat. Ia coba memberi sedikit dorongan pada otaknya supaya dapat meredakan ketakutan. Ia, mulai menghitung Kembali jumlah rekannya, kali ini dari depan. Pelan-pelan masih dengan menepuk Pundak mereka. “satu” “dua” “tiga” “empat” “lima” “enam” “tujuh” “delapan” “Sembilan” “sepuluh” “sebelas” Lagi-lagi jumlahnya tidak berkurang, rasa takut dan emosinya mulai bercampur aduk. Pendakian dengan durasi yang Panjang serta beban yang terasa semakin berat membuat emosinya berangsur-angsur naik. Kalau bukan karena orang terdepan mengambil jalur yang salah, mungkin mereka sudah sampai pos 9 dan segera mendirikan tenda. Kali ini Radit mencoba untuk Kembali menghitung sembari mengenali satu-persatu wajah rekannya. “satu” “dua” “tiga” “empat” “dingin” Radit berucap. Pundak ke -Empat yang ia sentuh terasa sangat dingin. Ia mulai mengumpulkan rasa keberanian dan nalarnya. Berusaha untuk melihat dengan jelas wajah yang menunduk didepannya sembari mengingat. Bukan kah Wanita dalam rombongan pendakian ini hanya seorang? Bukankah pendakian ini hanya ada sebelas orang? Wanita itu mengangkat wajahnya pelan-pelan, siapa kah dia? **dia ada disini, dipojok kamar menunggu penulis untuk menyelesaikan cerita ini** ic_default
Karena kamu suka Misteri & Thriller, mungkin kamu suka ini juga:
Balas Dendam · Crime