Rutinitas para pekerja dikota besar dirasa sangat-sangat melelahkan, bangun tidur dan memulai hari disaat matahari belum tampak, dan pulang berdesak-desakan dengan ratusan orang lain disaat gelap sudah pekat.
Radit, seorang Bankir Junior disebuah bank swasta dijakarta, pada tiap hari yang sama harus berlari dengan target yang dirasa tidak masuk dinalar. bulan ini target pinjaman harus naik 20% dari bulan lalu,
harus mencairkan uang 25 miliar dalam satu bulan dan menemukan ratusan debitur baru.
Bulan lalu saja targetnya hanya tercapai kurang dari lima puluh persen. jika bulan ini tidak tercapai, ia harus sanggup hati untuk keluar dan mencari tempat bekerja baru tanpa pesangon seribupun.
kepulan asap rokok, masih memenuhi gudang dokumen pada rooft top gedung kantornya. gudang kotor yang menjadi saksi keluh para Bankir muda, yang lambat laun hanya tersisa empat orang. lima bulan lalu. masih terdapat belasan orang, tapi hari ini tidak.
Radit masih melamun, sembari merokok, sudah lima atau empat batang sore ini d**a nya sedikit sesak, tapi peringatan kepala cabang dirasa lebih menyesakan saat harus pergi kalau target tidak tercapai.
"b*****t"
"target b*****t" Radit berteriak memaki.
"klik"
pemberitahuan email masuk, dibuka dan dibacanya seksama.
pengajuan cuti yang ia ajukan bulan lalu baru di setujui oleh kepala wilayahnya.
"sialan"
"disaat begini, malah dapat cuti"
"bangsaat"
lagi-lagi Radit hanya bisa memaki.
"jangan pergi"
sekelbat ia mendengar suara rintihan yang berucap dekat dengan telinganya. tiga kali ia mendengar suara yang berulang hingga tanpa terasa bulu di kedua tanganya berdiri.
"b*****t"
"siapa lo"
Radit coba untuk mengumpulkan sedikit keberanian untuk bertanya kepada sesuatu yang tidak ada rupanya seperti orang gila ia memaki sendiri.
ia kembali membakar rokok selanjutnya untuk mengusir ketakutanya. beberapa waktu suasana kembali seperti biasanya.
track ball blackberry kembali di ulirkan jari-jari Radit, membaca beberapa tulisan singkat pada Grup-grup f*******: yang ia ikuti.
jarinya terhenti saat membaca suatu pengumuman pendakian bersama, dibacanya dengan cepat sambil tersenyum karena waktunya cocok dengan jadwal ia cuti.
jari-jarinya dengan lincah menekan salah satu nomor yang tertera pada tombol handphone nya yang lain.
"halo"
"Mas Riki"
"saya Radit, yang komen di f*******: mas"
beberapa pertanyaan diselingi candaan mengiringi pembicaaraan mereka. dengan mantap Raditpun mengiyakan untuk mengikuti pendakian ini. dan berjanji untuk bertemu diwaktu dan tempat yang sudah diinfokan Riki.
panggilan pun di akhiri.
Mendaki dengan sepuluh orang yang ia tidak kenal sama sekali terasa lebih baik daripada harus selalu berhadapan dengan Steven, kepala cabangnya.
"jangan pergi"
suara itu pun datang lagi, dengan angkuh Radit pun kembali berteriak
"b*****t"
"Steven b*****t"
"Terget sialan ini bikin gw Halu"
"suara sialan"
Radit pun pergi berlalu menuju ruanganya sembari beberapa kali mengirim pesan ke beberapa temannya untuk meminjam alat untuk mendaki minggu depan.