Beberapa pesan BBM kembali masuk, menjawab pesan masal yang dikirimkan Radit ke beberapa temannya untuk meminjam alat mendaki sore tadi.
semua pesan masuk tadi bernada sama, smua rekan pendakiannya dulu memutuskan untuk pensiun dari mendaki gunung dan menjual alat-alat pendakianya dan memilih untuk fokus membina keluarga kecil dan karir mereka bahkan beberapa dari mereka tidak merespon pesan yang dikirimkan.
"b*****t",
"pas dibutuhin semuanya ilang"
hanya kata itu yang bisa Radit ucapkan
rasa kesal, stres dan beberapa perasaan aneh berkumpul.
Radit kembali menyalakan rokok dan matanya menerawang jauh, seperti memikirkan sesuatu yang tidak jelas rupa dan arahnya
malam ini didalam kepalanya terasa berisik sekali.
beberapa kali seperti ada yang berlari dan berlalu, ada pula teriakan-teriakan kesakitan. ada pula seperti desahan ribuan orang bersenggama.
semua suara itu berkumpul dan berebut ruang dalam kepalanya dan siap tumpah melalui lubang pori-pori diantara rambut-rambutnya.
"tok tok tok"
suara ketuk pintuk yang membuyarkan petualangan sesaatnya.
tiga kali pintu kamar di ketuk, sedikit kesal.
Radit beranjak dari duduknya dan berupaya membukakan pintu.
"emih (nenek)"
"kapan datang?"
neneknya berdiri dibalik pintu, raut wajah yang semakin menua tak memudarkan senyumnya.
diusianya yang mungkin menginjak 80 an, neneknya masih terlihat segar dan tegak.
Radit adalah cucu pertama dikeluarganya, keadaan ekonomi orangtuanya memaksa untuk menitipkan ke neneknya sedari usia 3 bulan hingga ia lulus SMA di daerah pegunungan tanah sunda, jauh dari perkotaan.
mereka tinggal dirumah tua dengan halaman yang luas peninggalan kakeknya.
dengan kesederhanaan Neneknya mengajarkan banyak makna hidup kepada Radit.
"Radit"
"damang?"
"(baik?)"
Radit mencium tangan neneknya dengan lembut, dan mempersilahkan neneknya masuk kedalam kamarnya, dituntunnya untuk duduk dikasur.
raut semangat terlihat dari wajah radit, ia sangat rindu dengan neneknya, dan bersiap untuk mendengarkan cerita-cerita jaman dulu dari bibir neneknya.
"emih, gimana kabarnya?
"Radit kangen"
"Lebaran kemarin Radit ga datang kesana"
"kerjaan kantor bikin Radit seperti tidak ada waktu"
Dengan wajah menunduk seperti menahan sesuatu.
"teu nanaon,dit" Neneknya berkata dengan lembut.
"Dit, anjeun bade kamana?"
"(Dit, kamu mau kemana?)"
"ulah ka dinya"
"(jangan kesana)"
"disana teu aman"
"loba oray, darah jeung jurig"
"(banyak ulang, darah dan setan)"
Radit sedikit terkejut dengan perkataan neneknya, dan seperti sudah tau ia akan pergi kemana, dengan siapa.
Radit menginggat saat-saat ia kecil dulu, ia sering melihat nenek bermain dengan dua harimau besar kesayanganya.
Awalnya ia sangat takut, namun lambat laun ia semakin terbiasa dengan Harimau peliharaan neneknya. saat ia mulai besar, ia pun paham bahwa Harimau yang selalu ada disebelah neneknya bukan makhluk nyata.
Neneknya bukan orang sembarang, ia pernah cerita bahwa kita adalah salah satu keturunan kerajaan ditanah sunda yang disembunyikan.
semua nama dan gelar kita dihapuskan, entah karena alasan apa.
sedari kecil, nenekpun sering mengajari Radit untuk melalukan tirakat
mulai dari puasa yang hanya makan bunga melati selama empat puluh hari, hingga puasa yang mengharuskan Radit untuk tidak makan sesuatu dan tidur selama tiga hari berturut. selama tirakat tersebut dijalankan setiap tengah malam Radit diwajibkan merapal beberapa mantra berbahasa sunda dan arab yang dicampur, ia tidak pernah tau tujuan dari ritual-ritual tersebut. biar baktinya kepada neneknya yang menuntun.
Radit masih menyimak setiap perkataan dan nasihat neneknya. dengan tenang dan santun, sangat berbeda dengan perangai buruk yang biasa ia miliki. sesekali mengangguk dan mengiyakan setiap perkataan neneknya.
lambat laun, badan Radit merasakan sebuah rasa dingin, pelan-pelan semakin dingin dan basah seperti menjalar keseluruh tubuhnya.
"astagfirullah"
Radit tersadar ia masih belum beranjak dari teras lantai dua kamarnya, ia bangun dari tidurnya dengan badan yang basah karena terkena air hujan yang tertiup angin.
nalarnya masih belum terkumpul sempurna, namun ia tiba-tiba menunduk, diam, dan dengan sadar mulai menangis.
"emiihhhh" Radit merintih memanggil neneknya.
Neneknya sudah meninggal dunia, ia mengalami kecelakaan saat perjalanan menuju sekolah Radit untuk mengambil ijazah kelulusan.
mobil angkutan umum yang mereka tumpangi mendadak mengalami rem blong, dan terjun bebas kedalam jurang.
hampir semua penumpangnya mati, kecuali Radit. ia dilarikan ke rumah sakit terdekat oleh warga yang melihat kejadian tersebut. beruntungnya hanya mengalami pingsan beberapa hari dan luka ringan.
saat ia tersadar, ada dua orang yanv ia anggap asing berdiri tertunduk didapannya. mereka mengenalkan diri sebagai orang tua Radit. meminta maaf karena tidak pernah menemuinya dan menjelaskan semua kejadian yang terjadi. hingga Radit menangis sampai meraung-raung.
patah hati terbesar saat ia dipertemukan oleh kematian orang yang paling disayangi.
beberapa hari perawatan dirumahsakit, Radit diizinkan pulang.
orang tua kandungnya akan membawanya ke jakarta, tapi sebelumnya Radit ingin diantar kemakam neneknya, di hadapan pusara neneknya ia berjanji akan datang menjenguknya disetiap tahunnya taklupa ia menanam bibit pohon melati di gundukan tanah makam neneknya.
perlahan ia mengusap airmatanya dan beranjak masuk ke kamar, untuk mengganti baju yang basah dan segera kembali tidur.
ia melirik jam dinding besar dipojok kamarnya. waktu menunjukan pukul 23:07 malam dan jam itu pun seperti berhenti berputar untuk selamanya, diam dan tidak berubah sampai hari ini.