"Eh ada mbak dokter, aduh malu saya"mbak Atin tiba-tiba berhenti bergoyang pinggul karena melihatku tiba-tiba sudah berdiri didepan pintu kamarnya.
Laraspun yang tadinya ikutan menggoyangkan kepala dan membelakangi pintu sambil melipat pakaian segera membalikkan badan dan malu."Mbak dokter bikin kaget aja" kata Laras menutupi malunya.
Akupun tersenyum kecil sambil menarik kursi yang terletak didepan kamar mereka dan duduk didepan pintu mereka.
"Ayo lanjutin dong mbak goyangnya.Kan lumayan buat hiburan sore hari" kataku menggodanya.
"Mbak dokter ini godain saya aja" jawab mbak Atin malu
"Mbak dokter ada apa nyari sampai kesini.Kenapa ngak manggil aja biar kami yang keluar."
"Tadi saya sudah manggil-manggil dari dapur tapi tidak ada yang mendengar pastinya karena yang satu lagi asik goyang dan satunya jadi penyanyi"jawabku sambil tersenyum mengganggu mereka.Aku memang kerap mengganggu mereka berdua karena menganggap mereka bagian dari keluarga.Mereka jujur dan baik dalam bekerja selama ini.
"Mbak Atin tolong buat makan malam porsinya dilebihin ya soalnya nanti malam ada tamu mas Herman ikut makan malam disini, Laras juga nanti tolong bersihkan kamar tamu ya, ganti spreinya dengan yang baru karena sudah lama tidak pernah ada tamu "
"Iya mbak dokter, tadi saya sudah ungkep ayam mau dibuat ayam goreng, sayur asam, tempe penyet, lalapan dan sambal mangga .Cukup kan mbak untuk makan malam nanti.Tamu bapak ada berapa orang mbak?"
"Cukup mbak Atin cuma seorang.Abang Hadi yang dulu pernah mampir sebentar kesini yang orang Sumbawa"
"Oh yang tinggi kurus itu ya mbak dokter orangnya yang pernah ikut mas Herman melihat mobil" kata mbak Atin sambil mengerutkan kening mengingat-ingat
"Iya mbak dia baru datang dari Lombok tadi pagi.Lagi sama mas Herman di kantornya sekarang.Diundang mas makan malam dan diajak menginap beberapa hari disini "
"Iya mbak dokter nanti saya persiapkan semua"kata mbak Atin sambil meneruskan setrika pakaian.
"Ya sudah lanjutkan dulu setrika pakaiannya.Saya mau kembali kekamar.Kalau ada apa-apa yang kurang jelas tanya saja.Nanti saya turun lagi cicipin masakan mbak Atin" ucapku sambil berdiri, mengembalikan kursi ke tempat semula dan berjalan pergi kembali ke kamarku.
Pukul lima sore aku turun ke dapur untuk melihat persiapan makan malam.Kulihat nasi dan sayur asam sudah matang.Mbak Atin sedang mencuci dan meniriskan aneka lalapan kesukaanku lalu akupun mencicip sayur asam di panci yang sudah matang duluan.
Sesibuk apapun aku tetap menjalankan kewajibanku sebagai istri untuk melayani suami biarpun diawal kami menikah jangankan memasak ,mencuci piringpun tak pernah aku lakukan.
Padahal dari remaja ibuku selalu berpesan kepadaku "Setinggi apapun posisi dan kedudukanmu di pekerjaan tapi saat dirumah kamu tetap harus patuh,hormat dan melayani suamimu sebaik mungkin" tapi karena dirumahku saat itu kami mempunyai beberapa asisten rumah tangga sehingga aku sama sekali tidak pernah melakukan pekerjaan seringan itu
Pesan yang selalu kuingat hingga hari ini adalah pesan dari almarhumah ibuku dalam menjalani tugas sebagai seorang istri.
"Gimana mbak dokter sayur asamnya sudah pas belum rasanya?" tanya mbak Atin
"Sudah pas ini , nanti goreng ayamnya setelah Sholat Maghrib aja ya biar masih anget pas makan malam.Lalap setelah ditata masukin kulkas dulu mbak biar segar saat dimakan" ujarku memberi pesan
Setelah itu aku kembali ke kamar dan membersihkan diri.Selesai membersihkan diri aku menyiapkan pakaian ganti untuk suamiku karena biasanya setelah pulang mas Herman akan langsung mandi.Aku ingat apalagi nanti malam akan ada tamu abang Hadi yang akan ikut kami makan malam dan akan menginap disini.
Lalu setelah selesai membereskan kamar tidir aku keluar dan berjalan menuju ke arah samping untuk memeriksa kamar tamu yang terletak di dekat ruang keluarga apakah sudah dibersihkan Laras atau belum.Setelah kubuka pintu kamar tamu lalu aku secepatnya mengecek dan ternyata semua sudah dibersihkan.Diganti dengan sprei baru.Kututup kembali pintu kamar lalu aku jalan kembali menuju ke dapur untuk mengecek apakah hidangan makan malam sudah siap karena sudah jam 6 petang, biasanya mas Herman sampai dirumah sebentar lagi.
Dan benar tak lama kemudian aku mendengar suara pintu gerbang dibuka oleh pak Mul penjaga rumahku.Aku segera jalan ke teras rumah untuk menyambut kedatangan mas Herman dan abang Hadi.Aku langsung menyambut suamiku dengan mencium tangannya dan dia mencium kepalaku.Lalu akupun mengucapkan salam ke abang Hadi sambil tersenyum.
"Hallo lagi bu dokter, apa kabarnya." sapanya sambil menyalamiku
"Hallo juga dan kabar baik bang" jawabku singkat tersenyum sambil menjabat tangannya
"Ayo masuk bang biar nanti barang bawaan abang diurus pak Mul"
Mas Herman mengajak abang Hadi masuk dan duduk di sofa di ruang tamu.
"Anggap rumah sendiri bang"katanya ke abang Hadi lalu melihat ke arahku
"Ma ,kamar abang sudah disiapkan?Kalau sudah tunjukin ma kamarnya biar abang bisa mandi dan istirahat sebentar sebelum makan" lanjut suamiku
"Sudah bos besar, semua sudah siap" kataku memberitahu suamiku
Dan mas Herman pamit ke abang Hadi untuk naik keatas dan membersihkan diri.
Aku lihat pak Mul membawa masuk koper yang menurutku pasti milik abang Hadi.Aku meminta pak Mul untuk membawa masuk koper abang Hadi ke kamar tamu yang terletak disamping ruang tamu.Lantas akupun mempersilahkan abang Hadi untuk menuju kamar tamu.
Aku kembali ke dapur untuk membuat kopi untuk suamiku dan abang Hadi ,karena kalau untuk kopi suamiku biasanya tidak pernah mau dibuatkan oleh orang lain.
Tak lama kemudian aku mendengar langkah kaki mendekat dan ternyata suamiku yang datang.Lalu langsung menarik kursi dan duduk di tempat kebesarannya.Akupun langsung menyodorkan kopi kesukaannya.Lalu tak lama kemudian abang Hadipun ikut keluar dan aku persilahkan duduk disamping kiri suamiku.Aku juga menyodorkan kopi kehadapannya yang langsung diseruputnya lalu mengucapkan terima kasih.
Mbak Atin masuk membawa sayur asem dan aku membantunya menata di meja lalu kuambil mangkuk kecil dan kuiisi dengan sayur asem.Aku mengambil piring dan kuisi dengan nasi lalu kuberikan ke suamiku dan aku mengisi piring dengan nasi lagi untuk abang Hadi sebelum mengisi piringku.Lalu mas Herman mengajak abang Hadi makan.Kamipun makan sambil mengobrol ringan seputar kehidupan di Sumbawa.
"Kalian berdua harus ke Sumbawa karena aku yakin mbak Andria ngak akan kuat disana.Sumbawa itu mataharinya sembilan"
candanya sambil tertawa
"Hah kenapa harus ngak kuat bang.Kok mataharinya ada sembilan.Maksudnya gimana bang?"tanyaku sambil mengernyitkan dahi.
"Itu istilah kami di Sumbawa untuk menunjukkan betapa panasnya Sumbawa.Tapi disana mbak pasti senang karena banyak kebudayaan dan etnik yang bisa mbak lihat dan pelajari.Kata mas Herman ,mbak Andria suka sekali yang berbau tradisional"
"Ah begitu.Benar bang aku suka sekali dengan sesuatu yang tradisional.Bagiku suatu negara akan bisa maju jika rakyatnya mencintai kesenian dan adat istiadat peninggalan nenek moyang" sahutku
"Benar itu.Maklumlah bang istriku ini kan campuran Indonesia Jerman.Jadi dia senang sekali melihat kebudayaan Indonesia yang kaya raya ini" mas Herman ikut menimpali ucapanku
Abang Hadi mengangguk-anggukan kepala.Lalu kami melanjutkan kembali makan dengan tenang .
Setelah selesai makan kami pindah ke ruang keluarga.Aku duduk disamping mas Herman.Lalu kami melanjutkan mengobrol panjang lebar mulai dari politik , budaya, dan tentang kehidupan abang Hadi.Kami mengobrol hingga larut malam.
Akhirnya aku mengantuk dan aku memberi tanda ke suamiku kalau aku mengantuk.Suamiku akhirnya mengakhiri obrolan kami dan berpamitan ke abang Hadi.Sambil mas Herman berkata ke abang Hadi supaya menganggap rumah sendiri.Dan supaya jangan sungkan untuk memberitahu kami jika butuh sesuatu.Lalu kami mengucapkan selamat malam dan selamat tidur ke abang hadi.Lalu kami naik menuju kamar kami