Gandhi POV
"Maaf mengganggu malam-malam, Bi."
"Tidak apa-apa, Den. Non Chaca sudah bilang."
Suara Ratih terdengar pelan. Di belakangnya ada bunyi pintu ditutup, lalu keadaan menjadi lebih sunyi.
Aku duduk di tepi kasur, memegang ponsel dengan kedua tangan.
"Anjar memang pernah Bibi asuh?"
"Iya. Waktu masih kecil."
"Sudah lama Bibi nggak ketemu?"
"Lama sekali. Setelah berhenti dari sana, Bibi pindah pekerjaan. Belakangan ikut keluarga Non Chaca."
Aku mengangguk meskipun dia tidak bisa melihatnya.
Ratih menceritakan foto itu. Anjar diminta berdiri rapi sebelum berangkat ke sebuah acara keluarga, tetapi terus berlari-lari. Ratih akhirnya ikut berdiri di sampingnya supaya anak itu diam.
Seseorang memotret mereka.
Beberapa hari kemudian, dia diberi satu lembar hasil cetaknya.
Cerita biasa. Kenangan seorang pengasuh tentang anak yang pernah dijaganya.
Aku mendengarkan dengan perasaan yang sulit dijelaskan.
Anjar rupanya pernah menjadi anak kecil yang susah disuruh diam. Sebelum namanya membuat dadaku panas, dia juga pernah menarik tangan seseorang untuk ditemani.
"Den Gandhi kenal dari mana?" tanya Ratih.
Aku terdiam sebentar.
"Ada urusan pribadi, Bi. Saya sedang memastikan orangnya."
"Oh."
Aku tidak ingin berbohong, tetapi juga belum siap menjabarkan rumah tanggaku kepada semua orang.
"Chaca bilang wajah kecilnya mirip saya."
"Iya. Non juga mengirim foto Aden yang di panti."
Aku menegakkan duduk.
"Menurut Bibi?"
Ratih diam cukup lama.
"Ada miripnya. Tapi foto lama begitu kadang menipu, Den."
"Iya, saya mengerti."
Aku hampir mengakhiri percakapan. Rasanya tidak pantas terus menggali kenangan orang hanya karena aku punya firasat yang belum jelas.
Namun Ratih justru bertanya lebih dulu.
"Den Gandhi memang sejak kecil tinggal di panti?"
"Iya."
"Sejak umur berapa?"
"Bayi. Bunda yang menemukan saya."
Tidak ada suara dari seberang.
Aku menunggu.
"Bi?"
"Iya, Den. Maaf."
Suara Ratih berubah. Bukan panik, tetapi lebih hati-hati.
"Sekarang usia Aden berapa?"
"Dua puluh sembilan."
Kali ini keheningannya lebih panjang.
Aku mulai merasakan sesuatu bergerak tidak nyaman di perutku.
"Kenapa, Bi?"
Ratih menghela napas. Ada bunyi kursi ditarik, seolah dia baru saja duduk.
"Bibi takut membuat Aden berharap pada hal yang belum tentu benar."
Jantungku berdetak lebih keras.
Aku berdiri tanpa sadar.
"Hal apa?"
"Dulu Anjar punya adik."
Aku menatap dinding.
Seharusnya kalimat itu biasa saja. Banyak orang mempunyai adik. Tetapi cara Ratih mengucapkannya membuatku tidak bisa menganggapnya sekadar informasi tambahan.
"Laki-laki?" tanyaku.
"Iya."
"Di mana sekarang?"
"Katanya meninggal waktu masih bayi."
Tanganku mendadak dingin.
Katanya.
Satu kata itu membuat seluruh pikiranku berlari, lalu saling bertabrakan.
"Bibi pernah lihat bayinya?"
"Belum."
Aku menutup mata.
Ratih segera melanjutkan, mungkin menyadari arah pikiranku.
"Waktu itu keluarga mereka pergi ke luar kota. Bibi tidak ikut. Bibi masih membantu mengurus rumah dan menunggu mereka pulang."
"Terus?"
"Setelah kembali, bayi itu sudah tidak ada. Bibi diberi tahu kalau sakit lalu meninggal."
Aku mencoba menarik napas pelan, tetapi udara seperti berhenti di tenggorokan.
"Berapa tahun lalu?"
"Kurang lebih dua puluh sembilan tahun. Bibi tidak berani memastikan tanggalnya sekarang."
Aku kembali duduk karena lututku tiba-tiba terasa lemah.
Tidak. Jangan langsung menyimpulkan, Gandhi.
Dua puluh sembilan tahun itu panjang. Ada begitu banyak bayi lahir, begitu banyak keluarga kehilangan. Kemiripan foto dan selisih umur bukan jawaban atas hidupmu.
Tapi bagaimana caranya menyuruh hati agar tidak berharap?
Waktu sekolah, aku pernah diminta menggambar keluarga. Teman-temanku menggambar ayah, ibu, rumah, lalu matahari di sudut kertas. Aku menggambar Bunda dan terlalu banyak anak sampai kertasnya hampir penuh.
Aku tidak malu dengan gambarku.
Yang membuatku diam adalah pertanyaan seorang teman tentang laki-laki mana yang seharusnya berdiri di sebelah Bunda.
Sejak itu aku belajar menjawab seperlunya. Tidak semua orang bertanya karena ingin menyakiti, tetapi aku tetap harus membawa pulang rasa kosong setelah percakapan berakhir.
Sekarang seseorang mengatakan ada keluarga yang kehilangan bayi pada tahun yang mungkin sama.
Aku tahu itu belum membuktikan apa pun.
Tetapi anak kecil yang dulu duduk memandangi kertas gambar itu masih ada di dalam diriku.
"Ibunya masih ada, Bi?"
"Bu Ratna masih ada. Setahu Bibi begitu."
"Anjar bilang ayahnya sudah meninggal."
"Iya, Bibi dengar kabarnya."
Aku mengusap wajah.
Ratih tidak sedang mengatakan bahwa aku anak keluarga itu. Dia bahkan berkali-kali mengingatkan bahwa dirinya tidak menyaksikan kelahiran maupun kematian bayi tersebut.
Tetapi kemungkinan kecil sudah telanjur masuk.
Dan kemungkinan itu membawa nama orang yang paling ingin kujauhkan dari hidupku.
"Bibi masih punya hubungan dengan keluarganya?"
"Sudah jarang sekali. Bibi tidak bisa asal datang dan menanyakan hal seperti ini."
"Saya mengerti. Jangan lakukan apa-apa dulu."
Aku mengatakan itu lebih untuk diriku sendiri.
Jangan lakukan apa-apa ketika pikiranmu masih sekacau ini.
Setelah berterima kasih, aku mengakhiri panggilan. Ponsel kuletakkan di samping, lalu kuambil lagi hampir seketika.
Bunda.
Beliau mengangkat setelah beberapa kali dering.
"Gan? Chaca baik-baik saja. Baru selesai makan."
"Bukan soal Chaca, Bun."
"Oh. Lalu?"
Aku memejamkan mata.
Suara itu selalu membuatku ingin menjadi anak kecil lagi.
"Bunda masih ingat waktu menemukan Gandhi?"
Beliau tidak langsung menjawab.
Aku mendengar langkah menjauh, kemudian bunyi pintu.
"Ingat."
"Masih bayi sekali?"
"Iya, Gan."
"Ada sesuatu sama Gandhi waktu itu? Surat, atau barang lain?"
Bunda menarik napas panjang.
"Kamu sedang memikirkan apa?"
Aku menatap foto Anjar yang masih terbuka.
"Ada orang yang wajah kecilnya mirip Gandhi. Dia katanya punya adik yang meninggal waktu bayi."
Aku tidak menyebut namanya dulu. Bukan menyembunyikan selamanya, hanya belum sanggup mengucapkan kedua persoalan itu dalam satu kalimat.
Bunda diam, lalu suaranya melembut.
"Jangan buru-buru, Nak."
"Iya."
"Dulu tidak ada surat. Ada kain yang membungkus kamu. Bunda masih menyimpannya."
Dadaku terasa sesak.
"Kainnya masih ada?"
"Ada. Di tempat barang lama."
Aku menunduk sampai siku bertumpu pada lutut.
Selama ini aku mengira tidak ada apa pun yang tersisa sebelum Bunda menemukanku. Ternyata ada sepotong benda yang mungkin pernah disentuh seseorang sebelum meletakkanku di pinggir jalan.
"Gandhi mau lihat, Bun."
"Boleh. Nanti Bunda carikan."
Aku mengangguk, lalu menyadari beliau tidak bisa melihatnya.
"Makasih."
"Gan."
"Iya?"
"Apa pun yang nanti kamu temukan, pulangmu tetap boleh ke sini."
Aku menutup mulut.
Terlambat. Air mataku sudah jatuh.
Aku bisa menghadapi tamu marah, pekerjaan menumpuk, bahkan perlakuan Ayu. Tapi satu kalimat Bunda cukup membuatku kehilangan seluruh pertahanan.
"Bunda jangan sedih kalau Gandhi cari tahu."
"Bunda tidak sedih karena kamu mencari. Bunda cuma tidak mau kamu berjalan sendirian."
Aku menangis tanpa suara.
Di layar ponsel, foto seorang anak laki-laki masih menunggu.
Dan untuk pertama kalinya, aku takut wajah yang sedang kucari justru akan membawaku semakin dekat kepada orang yang menyakitiku.