Keesokan paginya, Isabella terbangun dengan mata yang terasa berat. Kepalanya masih berdenyut dan tenggorokannya jadi perih karena bekas cekikan Matthew semalam.
Ia menatap langit-langit kamar cukup lama sebelum akhirnya memaksakan diri untuk bangkit dari tempat tidur.
Setelah membersihkan diri, Isabella menatap nanar tubuhnya yang begitu menyedihkan dari kaca panjang. Ia tertawa getir, memikirkan begitu malang nasib yang ditakdirkan untuknya.
“Ibu, aku rindu…,” gumamnya menitikkan air mata. Sejak ibunya tiada, Isabella terus kesepian, menjadi Duchess pun rasanya tidak berguna. Isabella memeluk tubuhnya sejenak, ia mengusap air mata dengan tangan yang lemah.
Dalam kesedihannya, Isabella bersiap-siap memulai rutinitas pagi harinya. Ia mengenakan gaun yang telah disiapkan pelayan sejak pagi. Sesekali ia menahan ringis karena kain yang menyentuh kulitnya begitu menyiksa.
Setelah merapikan rambutnya dan memakai serbuk mutiara untuk menutupi memar dan bekas luka, Isabella keluar dari kamar.
Koridor Crownvale masih cukup sepi pagi ini. Langkah Isabella terdengar sangat lambat saat ia berjalan melewati lorong panjang yang dipenuhi lukisan leluhur keluarga kerajaan.
Sebagai Duchess, seharusnya ia memiliki pelayan pribadi. Namun sejak awal pernikahannya, Isabella lebih sering mengurus banyak hal sendiri, bukan karena Duke atau Grand Duchess tidak memperbolehkan, tapi karena ia memang tidak terbiasa dengan itu.
Isabella lantas menuju dapur untuk mengambil secangkir teh hangat. Ia membutuhkannya agar perut yang terasa kram dari semalam bisa lebih baik.
Namun sebelum ia sempat masuk, suara bisik-bisik para pelayan terdengar dari dalam.
“Benarkah Duke menikahinya karena cinta?”
“Entahlah… aku masih tidak percaya.”
Isabella berhenti tanpa sadar.
“Bayangkan saja. Duke Matthew, pria paling sempurna di Aveloria menikahi gadis dari rakyat jelata!”
“Padahal banyak Lady bangsawan yang jauh lebih pantas.”
“Benar. Aku bahkan mendengar dia dulunya hanya pekerja kasar dan anak seorang pemabuk.”
Terdengar tawa kecil yang meremehkan di antara mereka.
“Kadang aku bertanya-tanya, apa yang sebenarnya Duke lihat darinya.”
Isabella menahan napasnya. Tangannya yang memegang ujung lengan gaun mengencang sedikit.
Ia memang tidak lagi terkejut dengan hinaan-hinaan seperti itu di istana. Namun, tetap saja sebagai manusia yang berhati, ada rasa nyeri yang singgah.
Tanpa berkata apa pun, Isabella berbalik dan menjauh dari dapur. Ia tidak ingin para pelayan mengetahui bahwa ia telah mendengar semuanya.
Langkahnya membawanya keluar ke taman belakang Crownvale. Salju telah menutupi jalan dan cabang-cabang pohon yang kini tampak gundul. Udara dingin membuat napas Isabella berubah menjadi uap putih.
Kemudian, ia berjalan melewati taman yang luas itu. Menikmati waktunya tanpa Duke.
Ah, benar, Isabella belum bertemu dengan suaminya. Bahkan pria itu sudah tidak ada di kamar sejak ia membuka mata.
Isabella hampir tidak bertemu siapa pun sepanjang hari. Hanya beberapa pelayan yang berpapasan dengannya lalu membungkuk sekilas sebelum berlalu.
Tanpa terasa, waktu terus berjalan. Langit berubah jingga, lalu gelap.
Isabella duduk sepanjang hari di sebuah bangku di tepi taman, menatap langit malam yang mulai dipenuhi bintang. Sementara itu, cahaya lampu-lampu taman menyala satu per satu di sekitarnya.
Ia termenung cukup lama di sana. Saking memikirkan perkataan para pelayan tadi, rasa lapar pun hilang begitu saja. Isabella tidak berniat kembali ke dalam untuk mengambil makanan.
Angin malam meniup ujung rambut panjangnya yang tergerai. Sesaat, Isabella merasa tenang. Tidak ada yang memarahi, menghukumnya atau pun menarik tangannya dengan kasar.
Biasanya, jika sudah bersama Duke. Jangankan bergerak, ia diam pun harus berpikir, apakah Matthew suka atau tidak.
Tidak dipungkiri, Isabella merindukan kehidupannya sebagai b***k. Setidaknya, ia masih bisa menjalani hari dengan keinginannya sendiri.
Namun, ketenangan yang didapatkan nya sekarang tidak bertahan lama.
Tiba-tiba, seseorang menarik tangannya dengan sentakan kuat. Isabella terkejut dan langsung menoleh.
Matthew sudah berdiri di sana dengan ekspresi tidak sabar. “Di sini rupanya kau,” katanya dingin.
Isabella buru-buru berdiri. “Duke… aku–”
“Apa kau lupa hari ini ada jamuan?” potong Matthew tajam. “Atau kau memang berniat mempermalukan keluarga ini lagi?”
Isabella menunduk. “Aku tidak berniat begitu, Duke.”
“Kalau begitu berhenti membuang waktu.” Matthew melepaskan tangannya lalu berbalik. “Ikut aku. Kau harus bersiap sekarang.”
Tanpa menunggu jawaban, Matthew berjalan lebih dulu ke dalam dan Isabella segera mengikuti dari belakang.
Beberapa saat kemudian, mereka telah kembali ke aula utama Crownvale. Grand Duchess sudah berdiri di sana, ditemani beberapa pelayan yang membawa mantel musim dingin.
Isabella yang berusaha menyamakan langkahnya dengan Matthew, tiba-tiba menangkap perubahan ekspresi dari pria yang semula dingin seketika melunak. Ia berbalik ke arah Isabella, lalu meraih tangannya dengan sikap yang lembut dan penuh perhatian.
Senyum kecil muncul di wajahnya. “Sudah siap, Duchess-ku?” katanya dengan nada yang terdengar hangat.