"Sudah lama tidak bertemu," ucap Felix dengan senyun angkuh yang terungging di bibir tipisnya. Ia menyeringai licik, "mau bertanding ulang dengan ku? Kali ini akan kupastikan kalau akulah pemenangnya."
"Dengan senang hati"
Ketika Alaric dan Felix melesat lurus untuk saling menyerang satu sama lain, tiba-tiba saja seseorang yang pergerakannya jauh lebih cepat dari mereka berdua datang, menghentikan aktifitas mereka.
"Apa-apaan kalian, kalau kalian mau bertarung jangan disekolah. Sudah bubar, Felix kau ikut dengan bapak!" marah Kepala Sekolah lalu pergi meninggalkan Battlefield.
"Cih, tunggu saja kau Alaric suatu saat kita pasti akan bertarung lagi, dan akan kukalahkan kau di saat itu juga!"
=====
"Eh, tadi ada ribut-ribut di arena, bahkan sampai kepala sekolah turun tangan sendiri guna menangani masalah itu, kalau tidak salah ada Alaric sama satu murid pemngendali pasir di sana," jelas Cathabell yang baru saja kembali ke kamar Calista.
Kay berjalan kearah jendela dan melihat pemain nomor berikutnya sedang bertarung "Heh, tak ada tuh?"
"Yah, sudah selesai kali ribut-ributnya," kesal Cathabell.
"Oh ya, Calista kalian kapan tanding ulang lagi?"
Calista menoleh kebingungan. "Tanding ulang, bukannya aku sudah kalah ya?" bingung Calista.
"Alaric dia memilih untuk menyerah, tapi tidak diperbolehkan oleh kepala Sekolah, jadi akhirnya dia minta bertarung ulang," jelas Hera.
Calista terdiam dan tidak menlajutkan percakapan tersebut.
=====
"Baik pertarungan hari ini telah selesai, dan Alaric bukankah kau meminta pertarungan ulang. Kalau begitu sekarang saya beri kesempatan," jelas Kepala Sekolah.
Tiba-tiba saja Calista maju, dan sontak menjadi pusat perhatian, "pemenang pertandingan tadi Alaric pak, bukan saya jadi tolong biarkan dia menang! Saya menolak untuk kembali mengadakan pertandingan ulang!" teriak Calista. Alaric terkaget pada pengakuan Calista.
Alaric mengernyit heran saat mendengar pernyataan tersebut terlontar dari mulut Calista. Pria tersebut memperhatikan betapa serius ekspresi Calista saat ini. Pria bersurai perka tersebut menyunggingkan simpul di bibirnya, ia tersenyum.
Calista melirik kearah Alaric yang sedang memperhatikannya, tatapan serius gadis itu menatap intens Alaric. "Ini adalah kemenanganmu, sudah jelas tadi aku pingsan karena kekutanku sendiri dan kau masih sadar bahkan setelah menerima semua seranganku. Gelar peringkat pertamamu rupanya bukan hanya sekedar nama," ucap Calista.
"Jadi, bagaimana Alaric? Apa kau masih ingin bertarung ulang atau menerima pernyataan dari Calista lalu menerima status peringkat pertama Abira?" ucap Kepala Sekolah menatap Alaric yang masih tersenyum kecil.
"Kalau Calista menginginkan hal seperti itu, akan kulakukan. Lagipula, terima kasih atas pujiannya Calista Chloe. Akan ku ingat kata-kata mu, dan namamu," ucap Alaric. 'Dia sangat menarik, ia tidak memanfaatkan kebaikan ku untuk melakukan pertarungan ulang dan lebih memilih hasil yang sebenarnya telah terjadi. Tampaknya ia gadis yang baik' ucap batin Alaric.
Orang-orang bersorak akan kemenangan Alaric yang pada akhirnya kembali menerima gelar peringkat pertama kelimanya. Alaric sudah lima tahun bersekolah di EHS bersama sahabat-sahabatnya, ia sudah berkali-kali ditawarkan untuk masuk kelas dengan pangkat lebih tinggi daripada Abira. Namun, selalu saja ditolak oleh pria air tersebut. Ia masuk ke EHS di usia dua belas tahun, setiap tahun selalu ada tes arena dan selalu dimenangkan oleh Alaric.
=====
Sudah lima hari sejak ujian pertarungan. Peringkat kelas Abira telah ditetapkan. Para murid telah menanti-nanti di aula sekolah.
"Pengumuman untuk peringkat tahun ini, telah ditetapkan. Selamat pada Alaric Zeroun mendapat penghargaan peringkat pertama kelimanya pada pertarungan ini, disusul oleh Priscilia Hera dan Calista Chloe pada peringkat kedua dan tiga. Undrew Rixon dan Felix Galen diperingkat empat dan lima. Cathabell Oxy dan Fernando Ken diperingkat enam dan tujuh, dan terakhir Stevia Kay diperingkat delapan. Baik sekian pemgumuman Delapan peringkat teratas. Para murid dapat kembali ke kelas," jelas Asisten Kepala Sekolah.
Para murid yang namanya tidak disebutkan merasa kecewa dan ada juga yang sedih, dan yang mendapat peringkat tinggi bersorak gembira, terkecuali satu orang.
"Alaric, kau mendapat peringkat satu tapi kenapa tidak ikut senang seperti mereka sih," kesal Undrew. Alaric menggelengkan kepalanya pelan. Sebenarnya pria tersebut masih tidak dapat menerima kemenangan dengan lawannya yang tiba-tiba pingsan karena kekuatannya sendiri, bukan karena kekuatan Alaric. Menurutnya pertarungan seperti itu sama saja dengan tidak ada pemenang.
"Aku kembali ke kelas lebih dulu ya, dah," ucapnya lalu pergi dari aula, dan kembali ke kelasnya.
"Alaric kok aneh ya?" tanya Undrew.
"Eh coba kau pergi ke sahabat pacarmu itu, yang namanya Calista Chloe, lawan Alaric pas di arena, sepertinya Alaric memiliki sesuatu yang ganjal diantara dirinya dan anak baru itu. Tanyakan padanya Alaric kenapa, usul ku sangat bagus 'kan?" ucap Petra dan tersenyum bangga. Undrew bergidik lalu pergi untuk menghampiri Cathabell.
"Hai, Bell ku," ucap Undrew tiba-tiba dibelakang Cathabell. Cathabell sontak berlari kebelakan Calista.
"Apa-apaan sih kau ini. Apa yang kau inginkan disini?" ketusnya.
"Santai saja Cathabell...ini aku datang kemari karena ada urusan sama Calista," Jelas Undrew secara langsung sambil melihat sekeliling guna mencari sosok gadis bersurai putih yang dicarinya.
"Urusan apa?" tanya Calista entah muncul darimana, ia melangkah maju mendekati Undrew yang berada dihadapan Cathabell.
"Itu sih Alaric, entah kenapa sejak kau menolak untuk bertanding ulang dengannya, sikapnya yang awalnya dingin tiba-tiba berubah menjadi sangat aneh, bahkan aku berpikir kalau dia adalah orang yang berbeda. Kadang dia merenung, tiba-tiba tersenyum, lalu kembali merenung. Padahal biasanya wajahnya cuma menampilkan satu ekpresi 'dingin' itu saja," jelas Undrew mengingat ekpresi Alaric saat mereka berempat sedang berkumpul untuk mengisi waktu luang dan Alaric malah asik terdiam dan sibuk dengan pikirannya sendiri.
"Hm, mungkin lagi PMS," jawab Calista blak-blakan tanpa berpikir lebih dahulu.
"Cal, laki-laki mana bias PMS. Tolong otaknya di pakai buat perikir jernih dong," sahut Cathabell dengan wajah datarnya saat mendengar jawaban tidak masuk akan Calista.
"Hehehe, iya-iya. Lagipula, aku juga tidak tahu. Aku baru mengenalnya saat arena, sementara kalian teman dekatnya, bagaimana aku bisa mengerti. Tanya saja pada dia sendiri," ucap Calista. Lalu pergi dari aula meninggalkan teman-temannya.
"Heh, kita ditinggalin sama tuh anak, awas saja dia!" teriak Kay lalu ikut lari mengejar Calista.
"Eh, Kay tungguin. Ya sudah Cathabell kau silahkan lanjutkan kencan mu, aku tidak akan mau jadi nyamuk. Nikmati waktu kalian! Sampai jumpa!" ucap Hera meninggalkan Cathabell yang masih mencerna perkataan Hera. Di lain sisi Undrew sudah senyum-senyum sendiri.
"TUNGGU? APA!" teriak Cathabell dan segera ingin berlari mengejar Hera sebelum tangannya ditahan seseorang.
"Ih apa sih, mau ngapain kau, lepasin!" kesal Cathabell ketika melihat yang menahannya adalah Undrew.
"Iya-iya, jadi, jangan galak-galak dong, sudah sana lanjutin saja kejar-kejarannya!" ujar Undrew dan melepaskan genggamannya pada Cathabell.
"Cih," Cathabell melesat pergi meninggalkan Undrew.
=====
"Anak-anak, sebentar lagi 'kan liburan tengah semester. Ibu Linda akan memberi kalian tugas, ini tugas kelompok karena total anak Abira ada 48 anak maka ibu bagi enam kelompok, setiap kelompok berisi delapan orang. Oke, ayo kita mulai undiannya," jelas Bu Linda dan meminta para murid memilih nomor dari kotak yang dia pegang.
Pengambilan undian pun berlangsung dengan sangat baik, beberapa anak merasa senang karena dapat memperoleh nomor undian yang sama dengan teman mereka, dan beberapa ada juga yang bersedih karena tidak dapat nomor yang sana dengan teman dekat mereka. Ibu Linda pun akhirnya memanggil masing-masing setiap kelompok untuk membagi misi dan menuliskan nama-nama anggota kelompok.
"Oke, sekarang sisa kelompok enam siapa aja?" tanya Bu Linda.
"Saya bu!" ucap Kay
"Saya juga bu!" teriak Calista
"Saya!" ucap Alaric sontak membuat Calista menengok.
"Saya juga!" ucap Cathabell dan dengan segera Undrew mengangkat tangannya. Cathabell mengeluh kesal.
"Saya, Bu Linda!" ucap Hera seraya mengangkat tangannya. Petra mengumpat kesal karena harus sekelompok dengan Hera.
"Oke yang terakhir siapa?" tanya Bu Linda.
"Saya bu!" Kay menoleh kearah Sumber suara, dan wajah dia langsung memerah.
"Ehem, Kay kau sekelompok sama Ken tuh!" goda Hera.
"Oy, jangan digoda entar pingsan dia," tegur Calista yang diangguki Cathabell.
"Jangan goda aku!"
"Oke, kelompok enam tugasnya adalah mencari naga di pegunungan pulau Orion ya, seingat ibu disana ada empat ekor naga yang meresahkan warga, kalian cari ya," ucap Bu Linda, anggota kelompok enam bergidik ngeri mendengar penjelasan Bu Linda.
"Kok kita kedapetan yang paling susah bu," protes Ken.
"Karena anggota kalian hampir semua termasuk delapan besar, gak ada protes lagi ya," jelas Bu Linda seraya memamerkan senyum mengerikan miliknya. Ken tidak berani kembali protes setelah melihat senyum Bu Linda.
=====
Bel sihir yang dipegang Hera guna memberitahu apabila makanan pesanannya sudah siao tiba-tiba saja berbunyi nyaring. Gadis berkekuatan Cahaya tersebut sontak bangkit berdiri dengan senyuman merekahnya.
"Hei, aku akan pergi mengambil makan milikku dulu ya," ucap Hera yang langsung melesat pergi dan mengambil makanan pesanannya. Tampaknya gadis bermanik ungu tersebut sangat tidak sabar untuk memakan makanan pesanannya.
Namun, rupanya semua tidak segampang yang Hera bayangkan. Tubuhnya tiba-tiba saja tertabrak oleh seorang pria berperawakan tinggi saat hendak kembali ke mejanya sambil membawa makanan pesanannya. Sontak saja kuah makanan tersebut tumpah dan menodai kemeja putih murid yang ditabraknya.
"Kau, kalau jalan pakai matamu dengan benar!" keluh Petra yang ditabrak oleh Hera.
"Aku tidak sengaja, sungguh, maafkan aku," ujar Hera menyesal. Ia tidak tau siapa yang berada di hadapannya saat ini. Matanya menolak untuk menatap sosok yang baru saja ditabraknya.
"Hn, tidak. Kau harus mencuci bajuku, tidak mau tahu besok kemeja ini sudah harus bersih!" ucap Petra melepaskan kemeja sekolahnya dan hanya menggunakan kaos putihnya yang dipadukan jas sekolahnya. Hera terkejut, mau tak mau kepalanya sontak mendongak untuk melihat orang kurang ajar macam apa yang membuatnya malah tampak seperti pembantu ini.
Dan matanya dalam sekejap bertemu dengan iris daun milik Petra. Mereka sama-sama tertegun untuk sekejap. Namun, Petra langsung berdeham dan melempar kemeja sekolahnya kepada Hera.
"Ambil ini, besok udah harus bersih!" perintah Petra lalu meninggalkan Hera yang sedang mengumpat dalam hati.
=====
"Hahaha, Kau disuruh mencuci baju, benar-benar tidak dapat disangka-sangka loh, kamu 'kan benci menyuci baju" ucap Kay dengan tawanya.
"Aku benci dia!" kesal Hera lalu pergi dari meninggalkan kantin.
"Waduhh, parah nih"
=====
"Tuh, lihat dan perhatikan dengan mata kepalamu baik-baik. Sudah bersih 'kan. Awas aja kau," kesal Hera seraya melempar kemeja Petra yang sudah bersih.
"Jangan dilempar! Cepet kasih yang benar!" ucap Petra kesl karena cara Hera melempar kemajanya kepadanya.
"Dih, kau kira aku siapamu? Pembantumu? Istrimu? Pacarmu? Kalau mau nyuruh-nyuruh jangan nyuruh aku!" ucap Hera kesal dan langsung segera pergi. Petra tertawa kecil mendengar respon lucu dari Hera.
"Astaga, kenapa ucapan marahnya lucu banget pas di dengar," ucap Petra yang masih tertawa terbahak-bahak sambil memegangi perutnya. Ketiga sahabatnya yang sedang memandagi dirinya dari balik tembok saat ini mulai mengira kalau Petra menjadi sangat tidak waras.