"Astaga! Undrew, ada apa dengan tampang mu yang sebelas duabelas dengan monster!" tanya pria bermata Cokelat yang baru saja terkesiap kaget melihat sosok
makhluk dengan muka babak belur berdiri di hadapannya.
Bagaikan puluhan pisau menancap tepat di jantungnya, Undrewm memegangi dadanya dan berkata, "kata-katamu itu, sungguh sangat menyakitkan," ucap Undrew dramatis.
"Jangan pura-pura dramatis Drew!" Ken menatap malas Undrew, ia berjalan kearah sofan dan duduk, matanya melirik kearah secangkir teh hangat yang tampak belum diminum sama sekali. Tangannya tergerak untuk meraih teh tersebut dan meminumnya.
"Eh, itu punya Petra lho!"
Kata-kata yang dilantunkan Undrew sontak mengalir di otak Ken yang saat ini sedang asik menyeruput tehnya. Dan reflek mulutnya langsung menyemburkan teh yang baru ia minun seteguk.
"NGOMONG DARI TADI KENAPA!" Ken segera bangkit berdiri dan memasak teh baru untuk menggantikan teh Petra yang baru saja dia minum.
(Di sisi lain.)
"Aduh kok perasaanku tidak enak kupingku gatal lagi." Petra menggaruk kupingnya sambil.
"Petra, ayo cepat!" teriak Bryan
"Ah, iya," sahut Petra
=====
(Kembali ke kamar Petra)
"Kau mau aku mati ya?" kesal Ken yang baru saja berhasil kembali bernafas lega saat teh milik Oetra sudah dikembalikan ke kondisi semula tanpa sepengetahuan sang pemilik kalau teh sebelumnya sudah diminum oleh dirinya.
"Kau tahu 'kan kalau dia tidak suka ada orang yang deketin barang-barangnya, deketin saja sudah dimarahin apalagi kalau sampai minum minumannya bisa mati dalam hitungan detik," lanjutnya.
"Iya, maaf-maaf. Eh, kenapa kau tidak tanding? kau 'kan nomor empat." Ken melihat jam tangannya dan menyaksikan angka yang terpampang di jam tersebut.
"Astaga lima menit lagi!" Ken langsung bangkit dari duduknya dan berlari.
=====
"Harap yang bernama Fernando Ken untuk segera maju ke arena sekali lagi panggilan untuk Fernan-"
"Hadir!" teriak Ken dengan nafasnya yang tersenggal-senggal, ia mengusap peluh keringat dengan tangannya dan kembali berlari maju ke arena.
=====
"Ah, maafkan atas keterlambatan, dan ketidaknyamanannya," ucap Ken dengan nada yang sangat ramah sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal sama sekali. Kay yang menyaksikan hal tersebut langsung terpesona oleh aura yang dipancarkan pria yang menjadi lawan tandingnya saat ini.
"A...ah iya tidak apa-apa kok, santai aja" balas Kay tergagap.
"Oke, pertarungan dimulai!"
Kay tidak beranjak dari tempatnya saat pertarungan dimulai. Ia hanya memasang pose siagabya saja, sementara Ken yang diperlakukan seperti itu oleh Kay hanya dapat memandang bingung gadis tersebut. Tangan Ken menyentuh tanah, dan serangan pertama dimulai. Dari lantai arena, keluar banyak sekali tanah keras berujung tajam.
"Kau hebat bisa menghindar dari serangan ini," ucap Ken tersenyum.
Pipi Kay langsung memerah, "i...iya terima Kasih."
Kay mengeluarkan petir dari tangannya dan mengurung Ken di lingkaran petirnya. Entah kenapa kekuatan yang dikeluarkan gadis itu tidak sekuat sebelumnya. Entah, gejolak apa yang ia rasakan dalam dirinya hingga membuat dirinya rela tidak mendapatkan kemenangan.
Ken kembali tersenyum menanggapinya, "hebat sekali"
Arena yang digunakan Kay dan Ken bergetar kencang, petir yang tadinya menghalangi Ken menghilang. Dan pria tersebut menempelkan kedua telapak tangannya pada lantai arena tersebut sambil memfokuskan kekuatannya pada Kay.
"Terima Kasih atas pertarungannya."
Setelah ucapan tersebut pun, pandangan Kay menjadi gelap gulita. Getaran di lantai arena ikut menghilang bersamaan dengan gelap pandangannya. Gumpalan tanah raksasa menutupi seluruh tubuh Kay dan membuat gadis tersebut tidak dapat menyerang lagi.
"Pemenangnya Fernando Ken."
Ken mengembalikan kekuatannya, dan membiarkan Kay kembali melihat langit. Pria tersebut berjalan menghampiri Kay yang terkagum dengan strategi Ken yang lebih memilih mengusik sang pengendali kekuatan dibandingkan dengan menyerang.
"Ka...kau pintar," ucap Kay tanpa sadar.
Ken mengangkat alisnya. Kay segera membekap mulutnya sendiri dan menggeleng-gelengkan kepalanya. Dalam hati, ia merutuki betapa jujur mulutnya ini hingga membuat gadis tersebut merasa malu dihadapan Ken.
Ken tertawa kecil. "Hm, sebenarnya dibilang pintar tidak benar juga, aku mempelajari trik ini dari sahabatku Alaric. Otaknya selalu memikirkan ide brilian kemudian membagikannya sahabat-sahabatnya, karena itu kami bertiga jadi sering bertarung dengan gaya miliknya dan sering mendapat pengakuan," jelas Ken sambil tersenyum. "Dan, aku menikmati pertandingannya, kamu hebat." Ken mengacungkan jempolnya pada Kay.
Sontak di mata Kay segalanya menjadi kabur saat melihat perlakuan luar biasa Ken kepada dirinya.
"Eh, bu ada yang pingsan!" teriak Ken melambaikan tangan meminta pertolongan, lalu menunjuk pada Kay yang tengah pingsan dengan wajah semerah tomat.
"Lucu banget dia"
=====
Cathabell mondar-mandir di depan kasur yang kali ini ditempati oleh Kay. Dia memijat pelipisnya sambil menhela nafas berat.
"Astaga, padahal Calista baru saja bangun. Eh, ternyata ada lagi yang pingsan," keluh Cathabell.
"Kay, bangun Kay," panggil Hera.
"Huwa..." Kay tiba-tiba saja terduduk dan berteriak dengan sangat kencang.
"Astaga! Kaget aku!" ucap Calista.
"Huwa...demi apa, aku tadi habis dipuji," teriak Kay senang.
"Dipuji? Kita tak percaya deh," ucap Calista, Cathabell, dan Hera serempak.
"Ih, kalian kok begitu sih. Tahu tidak, aku dipuji sama orang yang aku suka," pekik senang Kay sambil turun dari kasurnya dan melompat senang.
"Heh, ceritanya kau lagi falling in love nih," goda Calista. Kay menangguk cepat.
"Ternyata Kay kita sudah dewasa ya," Hera mengambil tissue lalu mengusap matanya yang sebenarnya kering.
"Iya tidak disangka sama sekali," sambung Cathabell menepuk pundak Hera.
"Ih, kalian kok begitu sama aku!" teriak Kay.
"Kay kau harus terima kasih ke kita lho, soalnya kita sudah menjaga kau sampai dewasa seperti ini," ucap Calista mengikuti gaya Cathabell dan Hera.
"Kau juga ikut-ikutan seperti itu Calista!" rengek Kay sedih.
=====
Ken baru saja masuk ke dalam kamar Petra dan mendapati sahabat-sahabatnya tengah menunggu dirinya.
"Eaa...yang baru saja menang," goda Undrew,
"Gimana tadi pertarungannya seru?" tanya Alaric yang baru saja datang.
"Hem, dia hebat aku menikmati pertarungannya, kalian sendiri?" balas tanya Ken.
"Seru, tahun ini rasanya kita ada lawan sepadan deh," ucap Alaric.
"Iya betul"
Undrew berjalan kearah jendela diruangan Petra. "Itu Bryan 'kan. Eh, sini deh lihat tuh lawannya parah sekali," panggil Undrew sambil menunjuk kearah seorang pemuda yang berdiri di arena.
"Kalian lihat itu." Undrew menunjuk kearah pria yang sedang mengendalikan pasir.
"Kuat sekali," ucap Alaric.
"Tuh 'kan bahkan Alaric yang selalu jadi peringkat pertama ngakuin dia," teriak Undrew histeris.
"Undrew jangan berlebihan, tolong!"
"Benar dia kuat sekali bahkan sangat brutal, Bryan jelas bukan tandingannya, kekuatan dia setingkat dengan kau, Alaric," jelas Ken.
=====
Di ruangannya, Kepala Sekolah sedang menatap serius pada sebuah monitor.
"Eh, sejak kapan dia sudah disini," ucap kepala sekolah menatap ke monitor yang sedang menunjukkan pertarungan yang sedang berlangsung di Battlefield.
"Em, maaf lancang kalo boleh saya tanya dia siapa pak?" tanya Asisten Kepala Sekolah.
"Dia Felix Galen, pengendali pasir, latar belakang keluarganya mirip seperti Alaric."
"Mungkinkah dia anggota keluarga termulia Galen."
"Betul, dia keturunan keluarga Galen sedangkan Alaric keluarga termulia Zeroun," jelas Kepala sekolah.
=====
"Alaric ada apa?" tanya Ken ketika melihat ekspresi wajah Alaric.
"Sepertinya aku mengenal lawan Bryan itu, dia tampak sangat tidak asing," Alaric menatap Felix dengan pandangan yang sangat intens. "Ah. Dia adalah anggota keluarga nenek buyutku"
=====
"Pemenangnya Felix Galen!"
"Hm, Alaric aku akan mengalahkanmu!" gumam Felix pelan, walaupun begitu Bryan masih dapat mendengarnya samar-samar.
"Apa urusanmu dengan Alaric?" Felix menoleh kearah Bryan,
"Kau kenal Alaric?" tanyanya.
"Siapa yang tidak mengenal Alaric, dia selalu peringkat satu dalam banyak hal," jelas Bryan.
"Oh, ternyata hebat juga dia, kau bisa antarkan aku ke dia?" tanya Felix.
"Tentu sa-"
"Aku sudah disini, Felix Galen!"