Matahari memancarkan sinarnya semakin terik, dan membuat beberapa murid berlindung di bawah payung yang mereka punya. Beberapa orang memilih untuk menonton arena dari dalam ruangan.
"Hera sudah ngomongnya, lima belas menit lagi kau lho," tunjuk Cathabell kearah jam yang menunjukkan pukul 12:30. Hera menoleh dan menatap ke arah jam dinding merah muda yang bertengger manis di atas pintu keluar-masuk milik asrama Cathabell dan Calista.
Gadis tersebut menghembuskan nafas panjang saat mengetahui bahwa sebentar lagi adalah wakti bagi dirinya bertarung di arena. "Oke, doain aku menang yaa," lambai Hera pada teman-temanya.
Kay mengedipkan sebelah matanya kepada Hera. "Tentu dong sebagai sahabat yang baik," ucapnya sembari tersenyum. Hera membalas ucapan gadis tersebut dengan anggukan kecil sebelum akhirnya ia menutup pintu kamar dan berjalan menuju arena.
Lorong panjang nan besar yang memiliki warna dominan putih tersebut memiliki banyak orang yang berlalu lalang di dalamnya. Lorong ini merupakan satu-satunya jalur keluar-masuk milik asrama perempuan EHS.
"Hm, kira-kira lawanku siapa ya," gumam Hera di perjalanannya. Ia menatap ke arah sebuah pintu keluar dari lorong tersebut yang mengarah langsung ke area arena.
"Aku!" Tiba-tiba suara bariton seorang pria terdengar dari belakang Hera. Gadis itu sontak menoleh. Sinar cahaya matahari membuat dirinya dapat melihat jelas surai hitam menyala pria tersebut, dengan mata hijau jernihnya ia menatap lekat ke arah Hera.
Dahi pria tersebut mengerut. Matanya menyipit ketika iris matanya menerima terlalu banyak pasokan cahaya matahari hanya untuk melihat wajah Hera dengan jelas. Kedua tangannya terlipat dan pundaknya menyender ke arah tembok. "Hm, penampilannya teralu biasa."
Pria tersebut menegapkan badannya, dan Hera masih setia menatap heran ke arah pria aneh yang bersender di tembok depan asrama tersebut. Satu hal yang membuat Hera bingung adalah 'Siapa pria di hadapannya ini?'.
Namun, pertanyaan di otak Hera sontak terjawab oleh sebuah kalimat yang dilontarkan dari pria bermanik mata yang sewarna dengan hutan tersebut. Ia berkata, "Aku lawanmu nanti, kuperingatkan padamu jangan meremehkanku." Pria tersebut pergi dan meninggalkan Hera yang sekarang menatap kepergiannya.
"Apa dia lawanku?" tanya Hera pada dirinya sendiri.
"Para peserta nomor tiga, waktu 15 menit telah usai, diharap segera maju ke Arena!"
Hera menghentikan acara bingung-bingungannya setelah mendengar kata-kata tersebut dari arah Arena. Ia melupakan segala hal tentang pria tersebut dan berlari dengan cepat ke arah Arena agar tidak telat dalam pertarungan pertamanya.
Dalam waktu sekejap. Ia melirik melalui ekor matanya dan mendapati pria bersurai gelap tersebut sedang berjalan turun dari tangga penonton dan dengan santainya masuk ke dalam Arena. Yah, mungkin bagi Hera gaya pria tersebit cukup keren. Tapi belum tentu ia menang, "Kebanyakan gaya," gumam Hera di sela-sela kegiatannya yang berlari menuruni tangga untuk menuju Arena tersebut.
"Petra Herlyon, elemen Tumbuhan!"
"Priscilia Hera, elemen Cahaya!"
"Oke, pertarungan dimulai!"
Pertarungan pun telah di mulai. Hera menatap malas ke arah manik hijau yang berjarak lima belas meter di hadapannya. Sementara itu, Petra tersenyum licik, kedua tangannya langsung ditumbuhi oleh tumbuhan rambat, dan merambat dari telapak tangan hingga menuju ke siku Petra.
Tangan kanannya terangkat dan menimbulkan lima buah tumbuhan raksasa dengan begitu banyak duri di setiap sisinya keluar dari tanah. Tumbuhan tersebut tanpa segan-segan langsung melesat ke arah Hera dan membuat tembok melingkar hingga gadis tersebut terkunci di dalamnya.
"Kalahkan dia wahai raja para tumbuhan." Petra kembali mengeluarkan tumbuhan dari telapak tangan kirinya, dipucuk tanaman tersebut terdapat ranting tajam nan kokoh yang dapat melukai makhluk hidup apapun yang ditembusnya.
"Aku tidak akan mudah dikalahkan, jangan pandang remeh aku!" Seru Hera dan melompati keluar dari tembok tumbuhan berduri yang mengelilingi dirinya.
"Akh!" Hera meringis kesakitan. Salah satu duri tumbuhan raksasa yang menjadi tembok tersebut tertancap di kakinya ketika dirinya mencoba untuk melompat keluar.
Hera menatap hal tersebut dan segera menarik paksa duri tajam yang berada di mata kakinya. Darah segar menetes dari arah mata kaki Hera, dan gadis tersebut segera membuang duri tersebut tanpa memikirkan luka di kakinya.
"Dasar lemah!" Petra tertawa sekejap. Ia menghentikan serangan di kedua tangannya. Namun, sedetik kemudian pria itu menggerakan tangan kanan dan kirinya untuk mengeluarkan lebih banyak tumbuhan tajam yang mengarah langsung ke arah Hera.
Para murid menonton pertandingan melalui monitor besar yang terpampang di lobby sekolah. Mereka memilih untuk tetap berada di lobby dan menonton pertandingan dengan aman tentram di sana.
"Apa-apaan itu," ucap salah satu murid.
"Tidak mungkin seseorang dapat mempunyai dua macam kekuatan, sepertinya ada yang telah berbuat curang."
Para guru-guru yang sedari tadi juga menyaksikan pertarungan yang ditampilkan layar monitor tersebut pun saling menoleh satu sama lain. Mereka menggidikkan bahu mereka sebagai pertanda kalau masing-masing dari mereka tak ada yang mengerti mengenai apa sebenarnya sedang terjadi.
"Murid-murid harap tenang, kami akan segera menyelidiki tentang kasus ini secepatnya. Jadi dimohon para murid untuk duduk dan tenang" ucap Kepala sekolah.
Iris mata para orang-orang yang berada di ruangan tersebut pun kembai menatap monitor besar di ruangan tersebut, dan memilih untuk menyaksikan kelanjutan pertarungan tersebut hingga akhir.
=====
Ranting tajam yang mendekati Hera terpental jauh dari arahnya menuju keluar Arena. Bongkahan Kristal raksasa timbul dari tanah dan melindungi seluruh tubuh Hera. Dengan kokohnya, bongkahan kristal tersebut melemparkan seluruh serangan duri milik Petra menuju ke semua penjuru arena.
Dan kedatangan tamu istimewa tersebut mendapatkan tanda tanya yang besar kepada mereka yang melihatnya termasuk Petra. Pria tersebut menatap tak percaya ke arah sebuah bongkahan kristal yang kokoh di hadapannya.
"Dari mana asal bongkahan kristal itu?" tanya Petra yang tidak percaya akan apa yang telah dia lihat dengan mata kepalanya sendiri.
Dan seketika situasi berbanding terbalik dengan apa yang terjadi di awal pertarungan. Saat ini giliran Hera tersenyum licik ke arah Petra. "Sekarang giliranku".
Hera menapakkan kedua tangannya di tanah, dan seketika sebuah jalur yang terbuat dari kristal melesat dengan sangat cepat ke arah Petra. Kristal tersebut membentuk lengkungan kecil yang menutupi seluruh tubuh Petra. Tempat sempit tersebut membuat tubuh Petra tidak dapat bergerak barang sedikitpun.
"Pemenangnya Hera!"
Teriakkan tersebut menyudahi pertarungan antara Petra dan Hera. Gadis tersebut menarik kekuatannya dan menatap ke arah Petra. "Cih, lain kali kita bertarung lagi!" ucap Petra yang kemudian berjalan meninggalkan Hera.
"Ku terima tantanganmu," balas Hera dengan senyum yang tersungging di bibir ranumnya. Gadis tersebut menatap kanan dan kiri. Ia tidak menemukan siapapun di sana.
Hera memilih untuk kembali ke asramanya dan saat ini dirinya tengah berjalan menelusuri koridor asrama. Ia berhenti pada sebuah kamar yang sedari tadi sudah menjadi tujuannya.
Baru saja dirinya membuka pintu tersebut satu centi, dan sebuah suara cempreng sudah menyambut Indra pendengarannya dari dalam ruangan tersebut. Gadis tersebut tentu sudah hafal dengan pemilik suara tersebut.
"Ciee yang habis menang arena lawan si peringkat tiga," goda Kay sambil menggerakkan kedua alisnya naik turun.
Hera membalas godaan dari Kay dengan senyuman bangganya. Kedua matanya kemudian terarah kepada seorang gadis bersurai putih yang sedang terbaring di ranjangnya.
"Kondisi dia gimana?" tanya Hera sembari menunjuk kepada Calista yang tengah terbaring di kasur putih bersih miliknya.
Cathabell mengikuti arah jari telunjuk Hera. Kedua manik matanya menatap malas ke arah gadis yang masih terbaring tersebut. "Entahlah, seharusnya dia sudah sadar sekarang," ucapnya malas. Calista tersenyum tertahan, hal tersebut saat terlihat dari bagaimana sebuah lengkungan kecil di bibirnya tiba-tiba saja terbentuk.
"Woy jangan bercanda," kesal Hera mencubit pipi Calista.
Gadis yang di cubit pipinya tersebut segera membuka matanya dan terduduk di kasurnya. Kedua tangannya mencoba untuk melepaskan cubitan tersebut dari pipinya yang tampaknya saat ini sudah menjadi luar biasa merah.
"Ahh... Iya, iya ini aku udah bangun!" Kedua telapak tangan Calista menangkup pipinya yang sudah sangat merah akibat kesakitan yang amat parah tersebut.
Calista memberikan tatapan maut ke arah Hera yang saat ini tertawa canggung karena diberikan tatapan menusuk seperti itu. "Jadi lawanmu tadi gimana?" tanya Calista dengan nada bicara yang ketus.
"Hem, entahlah, tapi yang jelas aku suka," ucap Hera singkat.
Ketiga pasang mata tiba-tiba saja menatap Hera dengan mata yang mengeluarkan cahaya gemerlap. Mereka tersenyum misterius. "Tampaknya ada yang sedang jatuh cinta saat ini." ujar seorang gadis bermanik ungu.
"Eh, bukan itu maksudku aku suka tekadnya, tapi kayaknya dia benci ke aku." Hera menundukan kepalanya. Ketiga sahabatnya tiba-tiba saja merubah sikapnya seratus delapan puluh drajat berbeda dari sebelumnya.
"Loh, kenapa?" Calista turun dari ranjangnya dan mendekati Hera.
Hera menoleh ke arah gadis tersebut. "Karena sepertinya dia tipe orang yang gak suka dikalahin sama seseorang," jelasnya.
"Hemm, begitu ya, kayaknya bakal ada drama tentang benci jadi suka deh," bisik Kay.
"Ih, apaan sih!" Muka Hera merah padam setelah mendengar apa yang telah di bisikkan oleh Kay tepat di telinganya.
"Tuh kan malu!"
=====
"Jadi sekarang bagaimana cara kita buat ngejelasin ke semua orang soal fenomena dua kekuatan yaitu, Lava dan kristal itu," frustasi Kepala Sekolah.
Para guru tampaknya sedang berkumpul di ruangan rapat mereka dan masih menatap ke arah sebuah monitor yang berulang kali mengulang adegan munculnya kekuatan kedua milik Calista dan Hera.
"Permisi pak, menurut saya entah ini benar atau tidak, sepertinya kedua anak itu benar-benar memiliki dua jenis kekuatan dalam satu tubuh tersebut," jelas asisten kepala sekolah.
"Jika benar maka kita harus sangat berhati-hati, mereka bisa menjdi sangat berbahaya!"
=====
"Petra!" panggil Undrew yang tengah bersender pada sebuah tembok di koridor Asrama para murid pria. Ia berlari menghampiri pria bersurai hitam yang sedang memasangkan raut wajah sebal tersebut.
"Gimana hasilnya?" Petra mengacuhkan ucapan Undrew dan berjalan ke ruangan asramanya yang jarakny hanya tinggal memerlukan beberapa langkah lagi.
"Hem. Keliatan baget kalau dia kalah," gumam Undrew yang kemudian berjalan mengikuti Petra dari belakang.
Di kamar Petra, Alaric dan Bryan sedang menunggunya. Mereka berdiam diri saat melihat raut muka Petra yang seperti sedang merasa sangat kesal.
"Kenapa kalian disini!" seru Petra yang duduk di sofanya sembari menatap kedua temannya yang sedang duduk di hadapannya saat ini. Pria tersebut mengambil secangkir gelas dan menuangkan air ke dalam gelasnya tersebut, kemudian ia meneguk air minumnya.
"Gak apa-apa, kita cuma lagi ingin saja," balas Bryan yabg kemudian di susul oleh kebeningan yang entah akan bertahan berapa lama. Namun, untung saja tak lama kemudian suatu suara kencang menghilangkan keheningan tersebut.
Undrew tiba-tiba saja membuka pintu dengan sangat kencang dan sontak membuat seluruh orang yang larut dalan keheningan di dalam ruangan itu tersentak.
"Biasa saja dong buka pintunya," protes Bryan kesal dengan perilaku Undrew yang benar-benar membuat dirinya jantungan
"Yah, maaf," balas Undrew kemudian duduk di sofa.
Pria tersebut langsung menatap ke arah wajah Petra dan menatapnya sekejap. "Kau kok bisa kalah?" tanyanya.
"Cewek itu dia punya dua kekuatan," ucap Petra dengan wajah seriusnya. Ingatannya mengulang kejadian di mana kekuatan kristal milik Hera timbul dan membuat dirinya kalah dalam hitungan detik.
"Hn, berarti dia sama kayak Calista dong," ujar Alaric. Entah mengapa sudut bibirnya terangkat sedikit ketika memikirkan gadis bersurai putih tersebut. "Menarik sekali," lanjutnya dengan gumaman pelan.
"Ngomong-ngomong selamat buat yang sudah punya pacar," ucap Petra setelah keluar dari pirkiran kesalmya karena baru saja mengalami kekalahan, walau ia mengucapkan kata tersebut dengan nada yang cukup datar.
"Hehehe, kalian kapan nyusul." Sebuah kalimat maut tiba-tiba saja dikatakan oleh Undrew tnpa sengaja, Undrew yang menyadari kesalahan pada perkataannya tersebut segera menutup mulut dengan kedua tangannya.
Dan tiba-tiba saja seluruh pandangan Undrew menjadi gelap karena merasakan beberapa tinjuan di wajahnya. Tentu saja dirinya tau siapa yang meninju. Sudah pasti merepa para orang-orang jomblo akut yang ada di kamar asrama ini, saat ini tentunya.
"Mati aja kau!"
Alaric, Bryan, dan Petra memasang wajah dingin dan meninggalkan Undrew yang memiliki wajah bonyok tak karuan. Pria yang menjadi korban tersebut menatap kepergian ketiga temannya dari kamar asrama tersebut, dan tersenyum melas.
"Hehehe, miris sekali aku," ucap Undrew dengan tawa tidak ikhlasnya. "Memang cuma Ken yang baik sama aku," ringis Undrew dengan senyum terpaksa di bibirnya.