"Cathabell!" panggil Hera dari arah jendela.
Saat ini Cathabell, Hera, dan Kay sedang berada di kamar asrama milik Cathabell dan Calista. Mereka bertiga sedang menjaga sahabat mereka yang sedang terbaring di kasurnya.
Lagipula jarak antara asrama dengar arena sangatlah dekat, bahkan hanya melalui jendela yang terletak pada kamar asrama, mereka yang berada di dalam asrama dapat melihat pertarungan dengan sangat jelas.
"Iya, kenapa?" tanya Cathabell sembari menoleh kearah Hera yang saat ini sedang memperhatikan arena yang sedang dibersihkan oleh beberapa pengurus sekolah.
"Habis ini kau, ayo siap-siap," ujar Hera pada Cathabell.
Cathabell yang mengerti pun bangkit dari kursinya, kemudian mengambil sebuah gelas dan mengisinya dengan air. "Iya sebentar, kau jagakan Calista ya," pinta Cathabell yang kemudian meneguk airnya.
"Oh, tenang saja. Kalau ada yang berani nyentuh Calista langsung ku tinju tuh orang!" ucap Kay dengan senyum lebarnya,dan tangan yang mengepal.
Cathabell pun meletakkan cangkirnya kembali ke tempat asalnya. Tangan kanannya meraih sebuah karet rambut dan mengenakannya untuk mengikat surai indahnya.
"Cath, kau tidak khawatir?" Cathabell menatap Hera dari ujung matanya ketika gadis tersebut mengajak bicara dirinya.
"Hem? Kenapa harus khawatir?" bingung Cathabell sembari mengikat rambutnya.
Hera menghela nafas panjang. "Lawanmu itu, dia peringkat dua di Abira lho!" jelas Hera pada Cathabell.
Cathabell yang mendengarkan hal tersebut hanya berjalan menuju ambang pintu, kemudian membukanya.
"Berarti dia gak sekuat Alaric 'kan," ucap Cathabell sebelum akhirnya menutup pintu asramanya
=====
"Undrew, sadar cuy!" teriak seorang pria bersurai hijau yang saat ini sedang menepuk bahu sahabatnya.
Pria bersurai cokelat dengan mata berwarna abu-abu yang baru saja dipanggil tiba-tiba saja terkaget. Lamunannya seketika menjadi hancur disebabkan oleh pria di sampingnya.
"Bryan, kau ini ganggu fantasi orang saja!" kesal Undrew sembari menatap malas Bryan.
Bryan terkekeh pelan sembari memandang ke arah gadis berambut cokelat yang sedari tadi diperhatikan oleh Undrew, "Masih siang jangan ngayal. Lagian ngapain liatin cewek itu mulu, jangan bilang, kau tertarik ya," goda Bryan.
Undrew tak merespon perkataan yang dilontarkan oleh Bryan, dia hanya tersenyum sembari terus menerus menatap Cathabell.
=====
Arena telah diperbaiki, orang-orang yang bertugas memperbaiki dan mempersiapkan satu persatu mulai meninggalkan arena.
Kursi penonton mulai kembali dipenuhi oleh murid-murid dari berbagai pangkat. Walaupun yang bertarung hanyalah mereka dengan pangkat Abira. Namun, seluruh murid EHS tetap dapat menyaksikannya.
"Arena telah disiapkan! Bagi siapapun dengan nomor undian dua, dipersilakan untuk maju!" teriak pembawa acara.
"Undrew Rixon, Elemen Logam!"
"Cathabell Oxy, Elemen Api!"
Kedua orang yang namanya dipanggil tersebut, turun menuju arena dan saling berjabatan tangan satu sama lain.
Cathabell tidak menunjukkan ekspresi apapun, sangat berbeda dengan Undrew yang wajahnya tak pernah luput dari senyuman.
"Oke, pertarungan dimulai!"
Cathabell dan Undrew mulai berjalan mundur, dan memberikan selisih jarak yang cukup jauh di antara masing-masing mereka.
"Hey, Cathabell," panggil Undrew sedikit meninggikan nada bicaranya agar dapat di dengar Cathabell.
"Iya, kenapa?" sahut Cathabell.
Undrew tersenyum senang karena panggilannya mendapatkan respon dari gadis di hadapannya. "Gimana kalo kita berdua buat kesepakatan," seringai Undrew.
Cathabell memiringkan kepalanya. "kesepakatan apa?" tanyanya bingung.
Undrew masih mempertahankan senyum senangnya. "Jika kau kalah, kau harus menjadi pacarku," ucap Undrew puas.
"Apa-apaan, aku meno-."
"Tidak ada penolakan!" ucap Undrew yang tiba-tiba langsung menyerang. Cathabell yang terkaget pun segera bergerak menghindar dari serangan yng dilontarkan Undrew.
Logam keluar menyelimuti tubuh Undrew membentuk sebuah baju pelindung bagi tubuhnya, dan juga membentuk sebuah pedang yang sangat tajam pada telapak tangannya.
Cathabell dengan gesit melompat ke pinggir arena ketika Undrew melesat kearahnya.
Sisi dari arena pertarungan, saat ini tengah dikelilingi oleh api. Para murid yang duduk di bangku paling depan diminta mundur oleh para pengawas, dan pergi untuk mencari tempat yang lebih aman.
"Hm, lumayan juga kau," ucap Undrew di tengah pertarungannya dengan Cathabell.
"Karena aku gak sudi jadi pacarmu!" kesal Cathabell dan segera melemparkan bola api dari tangannya. Bola tersebut mengarah lurus ke arah Andrew. "Logam adalah penghantar panas yang baik asal kau tahu," ucap Cathabell dengan senyum puasnya.
"Jangan puas dulu, karena kita masih belum tau siapa yang akan menang!" balas Undrew. Dia dengan cepat berlari ke arah Cathabell dan berhenti tepat di dekatnya.
Tanpa Cathabell ketahui Undrew mengeluarkan banyak logam panas dari tangannya, logam panas tersebut bercecer di seluruh arena.
=====
Hera dan Kay berada di ruang asrama milik Calista dan Cathabell. Kay duduk di samping tempat tidur yang ditiduri oleh Calista, dan Hera masih menatap jendela untuk melihat apa yang sedang terjadi oleh Cathabell.
"Eh, Hera aku ketoilet dulu ya, gak apa-apa 'kan kalau kau yang menjaga Calista sendirian?" tanya Kay pada Hera.
Hera berjalan mendekati Kay dan mengangguk. "Iya gak apa kok, tapi bukannya di sini ada toilet?" ujar Hera bertanya pada Kay.
"Kan asrama perempuan toiletnya lagi perbaikan air. Jadi, aku mau pergi ke sekolah." Hera mengangguk mengerti. Kay pun dengan cepat berlari keluar kamar, dan menuju sekolah.
Hera kembali berjalan kearah jendela untuk melihat jalannya pertandingan Cathabell.
"Apa itu?" Hera menyipitkan mata agar dapat melihat lebih jelas. Dan tak salah lagi. "Gawat, kayaknya Cathabell bakal kalah," cemas Hera.
=====
"Seperti biasa, trik andalannya Undrew," senyum Bryan.
"Dia ngapain?"
Sebuah suara berat terdengar dari arah samping kanan Bryan dan berhasil membuat dirinya sangat terkejut. "Astaga! Aku kira siapa, ternyata kau," ucap Bryan menatap Alaric yang tiba-tiba datang.
"Si Undrew ngapain emangnya?" tanya Alaric. Dia duduk di kursi penonton saat ini sembari menyaksikan pertandingan.
"Kau lihat saja sendiri tuh!" suruh Bryan.
Alaric memperhatikan ke arah tangan kanan Undrew yang sengaja dibuatnya sedikit tidak menarik perhatian. Dari arah tangannya tersebut, tampak sekali jika seluruh arena berisikan logam panas yang masih melepuh.
"Hem, logam panas itu. Seseorang yang sedang terfokus pada pertarungan pasti akan sulit melihatnya."
=====
"Kamu jangan meremehkan ku!" Cathabell menatap tajam Undrew, lalu kembali menyerang Undrew dengan serangannya yang bertubi-tubi.
Undrew masih tidak berkutik. Pria tersebut hanya terus menerus menghindar dari serangan yang dilontarkan oleh Cathabell.
Senyum kemenangan tiba-tiba saja terpatri di wajah Undrew. "Oke, sudah selesai kamu kalah." Undrew menghindar dari serangan api yang diberikan Cathabell, dan membuat api-api tersebut mengarah langsung ke arah logam panas di seluruh arena.
Dan pada saat yang sama, hujan turun dari atas langit. Air-air tersebut menghantam api yang menyala diatas sebuah logam panas. Dan reaksi dari ketiga elemen tersebut menghasilkan sebuah ledakan yang teramat parah.
Suara ledakan menggelegar di seluruh penjuru sekolah EHS, disusul oleh guncang yang sangat kencang.
"Pemenangnya Undrew Rixon!"
Pertarungan telah selesai, Undrew berjalan menghampiri Cathabell. "Bagaimana, hari ini hari jadi kita ya," ucap Undrew dengan seringainya, kemudian pergi meninggalkan Cathabell.
"Tung-!" Cathabell ingin menolak tetapi Undrew sudah menghilang dari pandangannya secepat itu.
Cathabell Pov
Apa maksud perkataannya. Oh, ayolah dia bercanda kan. Lagi pula apa keuntungannya hingga mau berpacaran dnegan gadis sepertiku. Tak ada bukan. Tapi kalau sampai dia serius, aku tak habis pikir dengan jalan otaknya.
Tau ah gelap, mikirin perkataan dia itu kagak ada faedahnya sama sekali, paling juga cuma bercanda, gak perlu dianggap serius. Lebih baik sekarang Aku cepat-cepat pergi ke Calista aja.
Langkah kakiku berhenti di sebuah gedung tinggi. Mataku melihat ke arah sekelilingku. Sudah beberapa hari aku sekolah di sini tapi kenaps masih belum dapat menghafal denah sekolah ini sama sekali. Apa lewat jalan ini terus belok kiri ya?
"Halo pacarku!" Aku terkejut dengan suara berat yang terdengar tepat di samping ku, dengan cepat mataku mengarah ke arah orang yang memanggilku.
"Apa-apaan nih orang, baru ketemu dah manggil pacar, lagian aku gak punya pa-." Aku terdiam ketika memandang muka orang yang baru saja memanggilku.
"Terus taruhan tadi apa?" tanyanya. Undrew, pria yang bertarung dengaku tadi, dan yang memaksaku menjadi pacarnya. Mau apa dia di sini.
"Undrew kau tadi tidak bercanda?" tanyaku. Oh, untuk apa aku bertanya hal ini, lagipula bukankah sudah pasti kalau dia bercanda.
"Gak kok, aku serius" Hem tuh kan dia gak seriu-. Eh, dia barusan bilang apa? 'Aku serius?' dia bilang kayak begitu.
"Apaaa!" teriak ku sangat kencang. "Gak, gak mungkin. Itu sama sekali gak mungkin! Kau pasti cuma bercanda," ucapku.
Aku gak percaya sama sekali. Tuhan tolong aku, ini mimpi kan, tolong Engkau sadarkan aku dari mimpi buruk ini doaku dalam hati.
"Cathabell!" Undrew memegang bahuku. Aku terkejut.
"Tunggu! Ini bukan mimpi!" teriak ku sekencang-kencangnya hingga aku dan Undrew menjadi pusat perhatian.
"Ssttt..., jangan teriak. Nanti kesannya jadi kayak aku mau nyulik kau tau!" ucap Undrew berbisik-bisik agar tidak dapat di dengar oleh orang-orang yang saat ini menatap kita berdua dengan pandangan penuh curiga.
"Aku ingetin ya, kau kalah berarti kau adalah pacarku," ucap dia yang kemudian berjalan pergi. Namun, tiba-tiba saja langkah kakinya kembali berhenti.
"Dan tambahan, aku serius lho," lanjutnya dan meninggalkan aku yang masih kesulitan mencerna perkataan nya.
Dia bilang 'aku serius'.
Eh! Serius katanya. Ya sudah, tak apa serius buat dia. Tapi, buat aku tetap gak serius titik gak pake koman. Aku melanjutkan perjalananku
"Rasanya pahit, untuk mengetahui kenyataan ini," gumamku pelan.
End Cathabell pov
"Gimana, menang?" tanya Kay yang telah kembali dari toilet. Cathabell yang tampak sangat lesu saat ini menggelengkan kepalanya.
"Yah, sebenarnya kita semua sudah dapat menduga kekalahan mu," ucap Hera yang berjalan kearah Cathabell.
"Kok bisa?" tanya Cathabell bingung.
"Aku yakin seluruh orang yang menyaksikan pertarungan kalian sudah sadar, tapi tidak untuk kau yang sedang fokus pada pertarungan. Apa kau tahu kenapa Undrew hanya menghindari?" Cathabell menggelengkan kepalanya.
"Itu karena salah satu tangannya terus menyebarkan logam panas ke seluruh arena, jadi ketika apimu mengenai logam tersebut, sontak api tersebut langsung menyebar luas. Dan bertepatan saat itu mendung. Tapi satu hal yang aku tak sangka, ternyata Undrew bisa memperhitungkan waktunya," jelas Hera.
Cathabell menganggukkan kepalanya mengerti. "Yah memang sudah ada prediksi hujan semenjak awan-awan di langit rusak karena efek kekuatan hujan Calista sih. Tapi siapa sangka orang gila kayak begitu otaknya bisa memprediksi dengan tepat."
Hening menghiasi susasana saat ini, Cathabell merasa bimbang antara ingin menceritakan tentang kesepakatan tersebut, atau tidak bercerita.
"Ada sesuatu penting yang harus aku ceritain ke kalian," ucap Cathabell yang memilih untuk menceritakan kesepakatannya dengn Undrew.
"Aku tadi ada buat kesepakatan dengan Undrew, jika aku kalah maka aku akan pacaran dengan dia," jelas Cathabell.
"Apa! Tunggu, karena kau kalah berarti kau?" Kay tampak berpikir sejenak.
"Jadi kau pacaran sama dia?" Cathabell menganggukkan kepalanya. Kay sontak menatap Cathabell dengan tatapan yang sulit untuk diartikan.
"Waduhh..." Hera memijat keningnya. "Ternyata, diantara kita berempat, Cathabell duluan yang punya pacar," ucap Hera terharu.
"Untung Calista masih belum sadar, kalau sudah bisa pingsan lagi tuh," tambah Kay.
=====
"Sekarang, peserta nomor tiga silahkan persiapan 15 menit!"