Calista pov
Hari ini tes pertarungan. Kira-kira siapa yah lawan ku. Cewek? Cowok? Atau banc-. Ah, tidak mungkin ada yang seperti itu di sekolah ini. Benar bukan? Semoga benar, jika tidak aku benar tidak dapat berpikir kejutan macam apa yang akan terus bermunculan selama aku di sekolah ini.
Aku menghembuskan nafas panjang. Bosannya, kalau bukan karena permainan itu aku tidak akan mungkin berakhir di koridor sekolah sendirian.
Walau harus ku akui kalau aku selalu kalah dalam permainan tersebut.
Flashback
"Sut... Jreng..."
Dan terjadilah sebuah keajaiban yang menentukan masa depan banyak orang. Oke, ini terlalu berlebihan.
"Gunting lawan Batu!"
"Oke, Cathabell menang"
Raut wajah Calista seketika berubah menjadi sangat kusut dikarenakan permainan barusan.
"Nah, Calista ayo terima hukumanmu," ucap Hera dengan senyuman selebar Joker.
"Iya, sini mana!" pasrahku dan mengulurkan tanganku ke arah Hera yang tersenyum bahagia.
Hera segera mengambil tumpukkan kertas di meja guru, dan membawanya ke pada Calista. "Titip ya, jaga baik-baik awas kalau ada yang hilang satu lembar pun, gak akan kumaafkan" dan dengan segera dia memberiku tumpukan kertas super berat.
Flashback end
=====
Kepalaku yang terus mengingat-ingat kejadian menyebalkan barusan tiba-tiba saja langsung terbentur kencang oleh sebuah d**a bidang yang pastinya tak ku ketahui milik siapa, sontak tubuhku menjadi oleng dan terjatuh.
"Aduh! Sial banget aku hari ini!" kesalku yang kemudian mendongak dan berniat untuk memarahi orang yang baru saja menabrakku.
Baru saja aku menatap orang yang menabrakku tersebut. Dan kehening abadi tiba-tiba saja menjadi latar suasana yang dialami diriku saat ini. Mulutku benar-benar tidak dapat bergerak saat menyaksikan betapa berkelasnya pria di hadapanku saat ini, apa dia seorang bangsawan? Atau keluarga terhormat? Cih, itu tidak mungkin bukan.
Dan untung saja kesadaranku kembali, aku terkaget. Tatapan macam apa itu, dingin, menyeramkan, dan tiada emosi.
Aku mengurungkan niatku untuk memarahinya, ketika melihat dia menatapku dengan tatapan yang sangat tidak beremosi membuatku menjadi merinding kedinginan. Tak lama ku beranikan diri untuk memarahi dia.
"Ka...kau kalau jalan hati-hati dong, untung lembarannya masih utuh, kalau sampai tidak, bisa tamat kehidupanku begitu si Hera tau! Dan tentunya jika aku terkena pukulan darinya, orang pertama yang akan kupukul seribu kali lipat adalah kau," marahku mengingat peringatan mengerikan yang diberikan Hera. Tampaknya mengingat ancaman tersebut lebih menyeramkan dibanding situasi saat ini.
"Hm."
Hening kembali melanda kami berdua. Lebih tepatnya aku bingung ingin merespon apa atas jawaban singkat, padat, dan tidak jelas yang dilontarkan oleh pria di hadapanku saat ini.
Dia pergi, aku terdiam apa maksud dia 'Hm' menyesal atau menolak atau-. Ah, entahlah aku tak ada waktu untuk memikirkan hal aneh itu.
End Calista pov
=====
"Pengumuman bagi para murid pangkat Abira. Diharapkan segera menuju ke battlefield untuk menentukan giliran masing-masing!" ucap Bu Linda.
Suasana kelas menjadi sangat ramai. Banyak murid yang merasa ketakutan. Apa yang ditakutkan mereka? Kekalahan. Karena dalam sistem pangkat ini. Mereka yang kalah akan sangat memungkinkan untuk diturunkan pangkatnya.
Tapi masih terdapat beberapa murid yang tak kenal takut. Seperti contoh keempat sekawan kita ini.
"Sudah siap?" tanya Kay pada ketiga temannya sembari tersenyum lebar karena momen yang telah mereka tunggu dari kemarin telah datang.
"Tentu sudah dong!" ucap Calista tak kalah senang, "Hari ini kita akan tunjukkan pada seluruh murid EHS kalau kita sama sekali bukan murid berkekuatan buruk!"
"Sip aku suka semangat mu nak, ayo!" ucap Kay sembari mengacungkan jempolnya.
=====
Sebuah arena besar berbentuk bulat sempurna dengan kursi penonton di setiap sisinya, dan sebuah menara besar dengan pemantau agar dapat memastikan keamanan para murid.
Murid-murid dari berbagai pangkat datang bergerombolan masuk untuk duduk di kursi pilihan mereka. Rata-rata dari mereka memilih kursi belakang untuk menghindari kejadian yang menakutkan.
"Mari kita mulai dengan undian, siapa yang mendapat nomor yang sama mereka akan bertarung, oke undian dimulai!" teriak pembawa acara.
Semua murid mulai berbaris untuk mengambil undian yang telah disediakan oleh sekolah.
"Cathabell, kau berapa?" tanya Kay sembari membawa nomor undian yang telah diambilnya.
"Aku dua, kau?" ucap Cathabell sambil menunjukkan nomor undiannya kepada Kay.
Kay mengecek nomor undiannya sekejap. "Aku nomor empat, kalau kau Her?"
"Aku tiga," jawab Hera singkat. Gadis tersebut saat ini sedang melirik sekitarnya dan m
Mempertajam telinganya, dirinya benar-benar penasaran siapa yang akan menjadi lawannya.
"Calista? Eh, Calista mana?" tanya Kay memperhatikan sekeliling dan tidak menemukan Calista.
"Aku nomor satu!" ucap Calista karena sudah mengerti apa yang akan ditanyakan oleh Kay.
Cathabell yang sibuk dengan nomor undiannya tiba-tiba berhenti bergerak, begitu juga dengan Hera yang seketika berhenti mencari lawannya. Mereka berdua dan Kay saat ini benar-benar terkejut.
"APA!" teriak mereka bersamaan terkecuali Calista. Calista yang mendapatkan teriakan seperti itu sontak menutup telinganya.
"B-berarti kamu harus tarung sama si Black Crown, aku jujur sangat bersimpati sama kamu Cal," ujar Cathabell.
"Eh, maksud mu apa. Siapa yang dijaman seperti ini punya nama Black Crown, benar-benar ketinggalan jaman plus, berlebihan!" ucap Calista sembari terkekeh.
"Heh, diam. Dia ada disini." Hera mengangkat tangannya, sontak kepala Calista mengikuti arah jari telunjuk Hera yang mengarah kepada seseorang.
"Dia, Black Crown." Dan dapat dilihat seorang pria bertubuh atletis dengan tinggi sekitar 183 centimeter. Berwajah tampan, berahang tajam. Ditambah dengan mata tajam berwarna biru menyala, juga surai perak bermodel medium taper dan berponi asimetris yang seperempat poninya berada di bagian kanan keningnya.
Pria tersebut mengenakan seragam sekolah EHS yang tampak sangat cocok di tubuh proposionalnya.
Mata Calista membulat. Seketika, dia mengingat kejadian tadi pagi yang baru saja menimpanya ketika dirinya sedang membawa tumpukkan kertas berat milik Hera.
"Eh, diakan yang tadi pagi tabrak aku waktu lagi bawa kertas maut dari Hera," ujar Calista.
"Hah...sungguhan dia menabrak kau?" Calista menganggukkan kepalanya cepat. "Ulangi sekali lagi, pas kapan?" tanya Hera.
"Pas bawa lembaran yang kamu titi-." Calista berhenti berucap, dia menyadari tatapan menyeramkan yang diberikan oleh Hera.
"Oh begitu rupanya, kertasnya ada yang hilang ya," ucap Hera sembari tersenyum ramah yang entah mengapa di mata Calista tampak sangat mengerikan.
"E-Eh, E-Enggak kok beneran," ucap Calista ketakutan.
"Kau tahu 'kan akibatnya kalau sampai kertasnya hilang satu lembar saja," tekan Hera sembari menggerakkan jempolnya di depan leher. Calista mengangguk dengan cepat sembari tersenyum grogi.
"Ngomong-ngomong, memangnya dia kenapa?" tanya Calista kepada teman-temannya.
"Black Crown? " tanya Cathabell. Calista menganggukkan kepalanya. "Ohh...dia itu anak bangsawan pangkat tertinggi, yaitu keluarga Zeroun sang keluarga terhormat. Dan dia juga pemilik kekuatan langka, tapi tidak ada yang tau apa kekuatan langkanya."
"Pantas saja dia tampak sangat berkelas, ternyata begitu latar belakangnya. Tapi kenapa kekuatannya tidak ada yang tahu? Lalu dengan status seperti itu mengapa pangkatnya masih Abira? Bukankah seharusnya dia meminta pangkat tertinggi seperti Agenor dengan latar belakang dan kemampuan seperti itu," ucap Calista.
"Hey, biar kuberi tahu kau Calista, dia dan ketiga sahabatnya berbeda dengan kita. Mereka semua mengambil tes elemen khusus, dan pemanggilan hewan khusus. Oleh karena itu kemarin kita tidak melihat mereka, namun guru-guru mengatakan kalau dia memang berkemampuan langka namun tak di sebutkan elemen apa itu. Terus, kau menanyakan kami mengenai alasan mereka tidak mengambil pangkat Agenor, memangnya kami sedekat itu dengan mereka? Kalau kau ingin tahu tanyalah langsung pada mereka," jelas Hera panjang dan lebar.
Waktu terus berjalan. Seluruh murid telah selesai mengambil undian mereka. Pembawa acara pun memulai pertarungan.
"Oke, semua orang sudah mendapatkan undian. Ayo dua murid, yang mendapat nomor pertama harap maju," ucap wasit.
"Alaric Zeroun, penguasa Elemen Air."
"Calista Chloe, penguasa Element Es"
Kedua orang yang dipanggil tersebut perlahan melangkah maju ke tengah lapangan pertarungan.
Seluruh murid berbisik-bisik. Mereka menatap Alaric yang sejak kedatangan pertamanya ke EHS selalu meraih peringkat pertama dalam segala tes ataupun pertarungan.
"Pertarungan antara sesama pemilik kekuatan langka, kira-kira siapa yang menang?" bisik salah satu murid memperhatikan kedua orang tersebut.
"Alaric tentunya. Dia itu sudah keren, ganteng, pemilik elemen langka, terus peringkat pertama. Gimana kita gak suka coba," jawab seorang gadis.
Di sisi lain Kay yang mendengarnya merasa jijik dengan ucapan mereka. "Giliran kita berempat aja yang punya kekuatan langka dihina. Giliran si Alaric malah di puji, mau apa sih mereka," gumam Kay kesal.
=====
Saat ini Calista dan Alaric sedang berdiri saling berhadapan. Mereka diminta untuk saling berjabat tangan sebelum pertarungan dimulai.
"Kedua pihak siap. Pertarungan dimulai!"
Sontak seluruh arena dilindungi oleh sebuah pelindung tak kasat mata yang telah di sediakan oleh sekolah EHS demi keamanan.
"Kau belum minta maaf soal tadi," kesal Calista sembari menatap tajam Alaric.
Calista melakukan penyerang terlebih dahulu, kaki kanannya di hentakkan dengan sangat kuat dan mengubah sebuah arena dimana dirinya berada saat ini menjadi terselimuti oleh es yang amat dingin nan licin.
Alaric gesit menanggapi kekuatan Calista, ia melayang dengan air menjadi pijakanya agar tidak terjatuh, tangan kananya terangkat ke atas kemudian dengan gerakan yang sangat cepat turun ke bawah. Sebuah deru suara sangat kencang terdengar, sebuah gelombang air tsunami yang sagat kuat setinggi tujuh meter datang dan membasahi seluruh arena.
Hera menatap ke arah beberapa gerombolan perempuan yang memekik senang ketika memperhatikan gelombang air Alaric. "Sudah habis si Calista kalau sudah terkena tsunami milik Alaric.
"Calista dapat bertahan dari tsunami itu gak ya?" khawatir Hera yang menyaksikan pertarungan dengan seksama.
Gelombang tsunami semakin mengecil dan perlahan mulai menghilang. Susana hening terjadi dimana-mana, seluruh murid yang menyaksikan sedang menantikan apa yang terjadi dengan Calista. Dan, gelombang tersebut akhirnya hilang yang kemudian menampakan seorang gadis dengan surai basahya yang tertiup angin namun tetap tidak menutupi keindahan surai tersebut. Gadis itu membuat orang-orang terkejut karena dirinya masih berdiri kokoh di tempatnya semula tanpa begerak satu centi pun.
Alaric si pemilik kekuatan tersebut pun sama terkejutnya ketika melihat Calista yang masih dapat berdiri kokoh setelah mendapat serangan yang sangat besar dari gelombang tsunaminya.
"Aku tidak akan kalah cuma karena tsunami seperti itu!" ucap Calista pelan, kepalanya tertunduk dan hanya memperlihatkan sudut bibirnya, yang terangkat.
Ia mengangkat wajahnya, kobaran api semangat tampak dari arah matanya, bibirnya tersenyum lebar dan menampilkan deretan giginya. "Aku tidak akan kalah." Kemudian dua buah pedang es timbul dari masing-masing telapak tangan Calista. Gadis tersebut menggenggam erat kedua pedang tersebut dan mulai bergerak gesit untuk menyerang Alaric.
Calista dengan cepat melesat dan mengarahkan pedangnya tepat kearah mata lautan milik Alaric. Pria tersebut pun dengan gesit menghindari serangan Calista. Gadis es tersebut menggunakan esnya agar dapat melayang sehingga dapat menyerang Alaric dengan lebih mudah. Jarak mereka yang sangat dekat tersebut menjadi sebuah manfaat bagi Calista, oleh karena itu Alaric mencoba untuk kembali mendapatkan jaraknya.
Saat ini kedua orang tersebut kembali memiliki selisih jarak yang sangat jauh berkat Alaric yang berhasil merebut jaraknya kembali untuk menjadi petarung jarak jauh. Namun ternyata, jarak jauh ataupun dekat bukanlah halangan bagi Calista.
Dia segera melesatkan beberapa serangan ke arah Alaric secara bertubi-tubi baik dari jarak dekat maupun jauh. Tetapi mata Alaric tetap mampu menangkap semua gerakannya dan menghindar.
"Akan kuhancurkan wajah tampan yang kau banggakan," ucap Calista.
"Hm. Aku tidak pernah bangga dengan wajah ini," jawab Alaric singkat.
Gadis tersebut mengarahkan pedang yang berada ditangan kirinya ke arah leher kanan Alaric. Ketika pria tersebut ingin menghindar ke arah kiri, Calista dengan gesitnya memutar badannya dan mengarahkan pedangnya yang berada di tangan kanan tepat ke wajah Alaric bagian kiri.
Untuk saja di detik-detik itu matanya segera menangkap perubahan arah serangan milik Calista sehingga ia dapat melompat menjauh. Namun telat, sebuah luka gores dengan beberapa tetes darah yang mengalir turun terlihat di pipi kiri Alaric.
Calista menoleh kearah gerombolan perempuan yang tampak memekik kesal karena Calista telah berani-beraninya menggores wajah sempurna milik pangeran EHS, yaitu Alaric. "Berisik!" kesal Calista.
Calista masih belum berhenti. Alaric tertegun sekejap, ia mengusap darah yang mengalir dari pipinya kemudian memperhatikan darah tersebut dan sudut bibirnya terangkat dalam kurun waktu sangat singkat. Untuk sekejap Calista terdiam saat melihat pria dingin itu tersenyum untuk pertama kalinya. Alaric menurunkan tangannya dan menatap fokus pertandingan, ia meningkatkan segala pertahanan, pengelihatan, dan kekuatan tubuhnya. Saat ini segala hal yang berada di pandangannya tampak bergerak sangat lambat.
Seluruh serangan Calista, yang brutal sekalipun tidak kembali mampu menggores sedikitpun tubuh Alaric, ataupun menyentuh sehelai rambutnya dan baju sekolahnya. Alaric telah menganggap serius lawannya di pertandingan kali ini, dan celahnya pun yang tadinya terbuka akhirnya menutup dengan sempurna.
Calista apat dikatakan kalah telak saat ini. Nafasnya tersengal-sengal, dan keringat peluh membanjiri tubuhnya.
"Kalau kamu sudah lelah sebaiknya hentikan!" ucap Alaric.
"Tidak akan!" ucap Calista dan kembali menyerang Alaric. Semua serangan dengan mudah dihindari, Calista perlahan-lahan mulai kehabisan tenaganya dan enengi yang menjadi sumber kekuatan elemennya.
"Aku sudah berjanji buat memenangkan pertarungan ini, demi menghilangkan ocehan orang yang tidak tau apa pun, aku tidak akan menyerah!" teriak Calista.
Gadis tersebut benar-benar akan segera kehabisan energinya. Kepalanya menunduk, entah apa yang terjadi pada dirinya namun sesuatu dalam dirinya tampak bangkit. Surainya yang seputih salju tiba-tiba saja berganti warna menjadi hitam dengan oranye di ujung rambutnya.
Awan gelap menutupi matahari. Beribu jarum es terjatuh, seakan siap menembus apapun yang menghalangi jatuhnya.
Para murid dievakuasi untuk sementara waktu, karena takut jika pelindung yang telah disediakan dari sekolah tidak akan mampu untuk menahan segala serangan dan malah memakan korban.
Alaric menggunakan pelindung airnya, dan berhasil menghindari hujan jarum tersebut.
Tak lama kemudian, Hujan es terus berjatuhan dan diikuti oleh hujan Lava yang tiba-tiba ikut terjatuh. Hal tersebut membingungkan begitu banyak orang yang menyaksikan pertandingan.
"Apa ini? Lava!" teriak salah satu guru khawatir.
"Yang benar saja, siapa dari kalian pengendali elemen Lava?" tanya Bu Linda yang kebingungan.
Hening terjadi, tidak ada seorang pun yang menyahut.
Bu Linda semakin khawatir. "Jawab yang benar, Lava bukan kekuatan yam bisa digunakan untuk main-main. Dia merupakan salah satu kekuatan langka terkuat asal kalian tau!"
Lagi-lagi hening melanda, Bu Linda segera berlari ke arah para penjaga sekolah. "Bagaimana hujan Lava dapat turun tanpa ada yang mengendalikan?" tanya Bu Linda pada penjaga sekolah.
"Sepertinya hujan ini datang dari dalam bu, bukan dari luar sekolah," ucap penjaga sekolah. Bu Linda terdiam.
=====
Calista terus menerus menyerang, beberapa kulitnya terluka karena terkena serangan Lava dan jarum Es miliknya sendiri.
"Calista sadar, kekuatanmu itu melukai dirimu sendiri!" teriak Alaric.
Calista tidak menghiraukan panggilan dari Alaric dan tetap menyerang.
Alaric kesal dan segera menarik tangan Calista untuk masuk kedalam perisai airnya. Gadis tersebut langsung terkulai. Alaric sontak menahan tubuh Calista yang hampir terjatuh dengan kedua tangannya.
Seluruh hujan yang dihasilkan oleh kekuatan Calista langsung menghilang, awan-awan kembali ke bentuk semula mereka dan membiarkan Mentari kembali menyinari arena pertandingan tersebut. Rambut Calista yang tadinya hitam dengan oranye diujungnya, kembali menjadi putih.
"Sadar Cal!" teriak Alaric memanggil Calista. Ia menatap gadis yang bersender dengan nyamannya di dadanya dan tampak sangat kelelahan tersebut. Tangan mungil gadis tersebut mencengkram tangannya tanpa tenaga.
"Aku Laper," gumam kecil Calista. Alaric terdiam mendengarnya, dia menggeser poni yang menutupi mata Calista. Mata gadis tersebut tertutup, dia tertidur.
"Mungkin dia kecapekan banget, sampai bisa tidur secepat ini," gumam Alaric yang memasang senyuman tulus untuk yang pertama kalinya. "Selamat atas kemenangan mu! Di masa depan nanti aku akan mentraktir mu makanan enak."
Alaric turun dan menapak tanah arena yang tampak basah karena lelehan es milik Calista, ia menggendong Calista ala bridal style dan berjalan menuju ke arah teman-temannya.
Selama dirinya berjalan masuk mencari sahabat Calista, banyak gadis yang menatap iri ke Calista. Alaric sama sekali tidak menganggapnya dan tetap berjalan.
"Calistaaa," teriak Kay. Sebuah suara terdengar, Alaric segera berbalik dan memperhatikan seorang gadis datang menghampiri Calista.
"Shtt... Dia ketiduran," ucap Alaric pelan. Teman-temannya tertawa tertahan melihat Calista.
=====
"Oke, jadi pemenangnya adalaha Al-"
"Aku menyerah" teriak Alaric.
Kepala Sekolah tersebut terdiam bingung. "Maaf tapi tidak bisa Alaric, pemenang yang sudah ditentukan tidak dapat menyerah," ucap kepala sekolah.
"Kalau begitu, kumohon untuk melakukan pertandingan ulang," ucap Alaric.
"Kalau itu masih dapat kuterima, jadi kamu ingin pertandingan ulang?" tanya kepala sekolah.
"Iya pak!"
"Baiklah, akan bapak carikan waktu untuk pertandingan ulang," ucap kepala sekolah.
"Baiklah selanjutnya nomor dua!"