"Hey, cepat dong! Masa hanya aku dengan Alaric yang sudah sampai di lokasi dari tadi, bahkan Cathabell dan Kay pun belum ada yang datang dari tadi! Kau sekarang berada di mana sebenarnya, Her?" teriak Calista dalam telephone.
"Yah sabar dong ini otw," ucap Hera di dalam teleponnya yang kemudian di matikan dari sang empunya telepon tersebut.
"Calista, aku sudah berada di sini!" teriak Kay lalu berjalan diikuti Cathabell, Undrew, dan Ken.
"Kok kalian berempat barengan?" tanya Calista penuh curiga sambil memperhatikan keempat orangyang tampaknya janjian untuk datang berbarengan. Yah, walaupun kemudian ucapannya tersebut di tepis oleh Cathabell.
"Tadi kita ketemu di parkiran, jadi akhirnya jalan bareng kesini," jelas Cathabell.
"Ngomong-ngomong Hera mana?" tanya Kay.
"Gak tau tuh katanya otw, paling otw dalam artian 15 menit lagi baru berangkat," kesal Calista lalu pergi duduk dibangku pinggir hutan.
=====
"Nah itu Hera!" panggil Cathabell sambil menujuk ke arah Hera yang sedang jalan menghampiri mereka berenam, di balik gadis tersebut tampak sosok pria tinggi bersurai hitam yang berjalan mengikutinya.
"Kau sangat lambat. Eh, kalian tiba berdua, atau jangan-jangan kau ini terlambat karena habis kencan sama Petra, ya?" kaget Kay sambil menutup mulutnya tak percaya.
"Ih, amit-amit jabang bayi, ogah aku kencan sama dia!" jawab Hera sontak. Gadis tersebut tak akan habis pikir apabila dirinya berpacaran dengan Petra, mungkin dibanding menjadi pacar posisinya pada saat itu akan lebih condong menjadi seorang pembantu yang bertugas mencuci pakaian pria tersebut setiap hari.
"Ih, siapa juga yang mau sama cewek pemarah seperti kau, lagi pula tipe ku lebih seperti Calista yang tidak pemarah dan seorang pekereja keras, hanya sayang saja dia sudah ada yang punya," ucap Petra yang dengan segera di hadiahi tatapan maut, tajam, beracun, nan mematikan. Siapa orang aneh yang menghadiahi dirinya seperti itu? Lihat saja pada seorang pria yabg tengah duduk di samping Calista, bersurai perak dan berkekuatan air.
"HEH! JANGAN MIMPI! LAGIPULA AKU TIDAK AKAN MEMBIARKAN CALISTA MENJADI PEMBANTU MU YANG BERTUGAS MENCUCI BAJU MU ITU SETIAP HARI!" sahut Hera yang sangat kesal karena pria tidak sopan seperti Petra dapat berani-beraninya mengatakan kalau ingin Calista menjadi pembantunya. Yah walau sebenarnya Petra mengatakan 'pacar' bukan 'pembantu' tetapi di mata Hera, Pacar dan Pembantu adalah posisi yang sama untuk Petra.
Semua yang menonton hanya dapat tertawa canggung saat melihat tingkah laku kedua orang ini.
"Sudah ayo masuk, sebentar lagi siang lho," ucap Undrew, lalu pergi masuk kedalam hutan.
=====
Mereka berdelapan berjalan dengan santai dan berbincang-bincang. Di awal perjalanan mereka, segala hal tampak berjalan dengan lancar tanpa hambatan atau gangguan sedikit pun. Namun, segala hal tersebut tiba-tiba saja berubah saat sebuah suara yang tak asing menerpa gendang telinga mereka.
Suara erangan dari seekor makhluk buas terdengar jelas, mereka sontak berhenti bergerak dan saling menatap satu sama lain. Suara makhluk tersebut terdengar sangat jelas, dan juga dekat
"Eh, suara apa itu?" bingung Ken lalu menoleh kebelakang.
Ken menepuk pundak Alaric "Ric, lu liat dah tu," panggil Ken.
Undrew penasaran lalu ikut menghadap kebelakang "G-Guys liat deh"
"Paan sih!" kesal Petra menghadap kebelakang, yang lain pun ikut menghadap kebelakang dan tercengang melihat sesosok makluk berupa macan namun dengan badan yang sekiranya lima kali lebih besar di bandingkan ukuran normalnya.
Mkhluk tersebut mengerang pelan saat menatap kedelapan pasang mata yang menatapi dirinya dengan penuh akan ketakutan.
"Itu kucing tapi kok besr banget ya, apa dia jenis ras kucing langka yang jumlahnya cuma lima di dunia?" tanya Kay.
"O-oy, hitungan ketiga lari yuk! Lagi pula kita tidak diperbolehkan untuk menyakiti makhluk tak bersalah bukan?" ujar Calista memberikan saran yang sekiranya manjur kepada teman-temannya untuk mengatasi situasi genting seperti saat ini. Sarannya tersebut pun ternyata dibalas dengan anggukan setuju dari semua teman-temannya, tampaknya mereka tidak dapat memikirkan sesuatu yang lebih baik sehingga hanya dapat menyetujui perkataan Calista.
"Oke satu, dua, lima larriii!" Mereka bertujuh sontak tanpa basa-basi langsung berlari dengan sngat kencang dan tanpa sadar meninggalkan Undrew yang sedang sangat bingung.
"Hah lima dari mana. Kau kan cuma disuruh untuk menghitung sampe ti-, lah mereka semua pada pergi kemana. Ah, sudahlah mending lari saja dah." Undrew lari mengikuti mereka bertujuh.
Tanpa mereka sadari mereka melewati empat jalur berbeda. Alaric dan Calista mengikuti jalur hutan, Cathabell dan Undrew mengikuti jalur pantai, Hera dan Petra mengikuti jalur Gua, dan Kay juga Ken mengikuti jalur air terjun.
=====
Dengan nafas yang tersengal-sengal, Calista masih berjuang berlari dari makhluk buas tersebut. Ia sngat fokus pada larinya hingga tak menyadari kalau makhluk tersebut sudah tidak mengejarnya, dan tidak menyadari kalau terdapat sebuah batu yang berukuran cukup besar untuk membuat kaki tersandung.
"Aduh sakit!" Calista tersandung Batu dan lututnya banyak mengeluarkan darah.
"Calista! Apa kau tidak apa apa? Kau sampai terluka seperti ini astaga," ucap Alaric dengan nada bicara yang terdengar sangat khawatir. Calista mengangguk, tetapi disaat Calista ingin kembali berdiri, ternyata lututnya tidak dapat menahan benturan keras yang baru saja terjadi dan gadis tersebut langsung terjatuh.
"Sudah cepat, naiklah ke punggungku," perintah Alaric. Pria tersebut berjongkok di hadapan Calista lalu menggendong Calista dipunggungnya.
"Maaf Alaric aku malah merepotkan kau karena luka sekecil ini," ucap Calista.
"Luka kecil dari mananya. Dan santai saja, tapi kok aku gak ngeliat yang lainnya yah," Alaric melihat kesekelilingnya hanya ada mereka berdua.
"Iya juga jangan-jangan kita kepisah sama mereka," panik Calista.
"Kayaknya sih iya, sudah kita coba keliling cari mereka saja." Alaric melanjutkan jalannya.
=====
"Dih, siapa juga yang mau nyasar di hutan bersama orang sepetimu!" Petra dan Hera berjalan berjauhan dengan membuang muka.
"Lagian ngapain ambil jalur ini coba, kan ada jalur lainnya," ucap Hera kesal karena harus terjebak dalam hutan berduaan dengan Petra.
"Yah kan ada tuh hewan nyebelin, sudah ah berisik!" Mereka berdua berdiam diri.
=====
"Senangnya bisa berduaan~" Undrew bersenandung ria karena dapat berduaan dengan Cathabell. Di lain sisi Cathabell diam dan tidak merespon ucapan Undrew.
"Bell-ku~~"
".........."
"Bell-ku~~~
".........."
"Bell, dijawab dong~~"
Oke, sudah habis kesabaran Cathabell terhadap Undrew.
"BISAKAH KAU DIAM KUMOHON!" emosi Cathabell,
"LAGIAN NAMAKU BUKAN BELL-KU, TAPI CATHABELL TAHU!. C, A, T, H, A, B, E, L, L. NGERTI!" Cathabell berteriak tak sanggup menahan semua emosinya yang sudah meluap sejak pertama kali mereka berduaan.
"Nih, cewek serem amat, coba kasi gombalan!" gumam Undrew melihat kondisi Cathabell.
"Cathabell, kau tau persamaanmu sama Gorilla"
"............"
"Dih, aku di kacangin lagi"
"............."
"Persamaannya itu, kalian sama-sama Gal-" Undrew sudah tidak melanjutkan perkataannya lagi, pria tersebut ditinju dengan sangat kuat oleh Cathabell tepat di bagian perutnya dan terpental cukup jauh.
Undrew pada akhirnya tepar dipinggir hutan, disaat itu juga akibat dari Tonjokan maut Cathabell.
=====
"Ah, jadi kau bisa berteman sama mereka karena itu." Kay mengangguk
Setelah Kay selesai bercerita masa kecilnya tentang bagaimana dia bertemu sahabatnya, suasana kembali canggung. Tidak ada satupun yang memulai pembicaraan.
Mereka terus berjalan hingga menemukan Air terjun yamg membentang Indah ditengah hutan.
"Wah, Cantik banget!" pekik Kay senang lalu berlari mendekati Air terjun tersebut.
"Eh, hati-hati nanti jatuh" Ken berlari mengejar Kay yang berjongkok diatas Batu untuk menggapai air. Dan benar saja, ketakutan ori tersebut terjadi pada Kay. Gadis petir tersebut terjadi ke dalam air.
"DINGIN!" teriak Kay sambil memegang bahunya yang menggigil. Ken tertawa lalu dia memberikan tangannya agar Kay dapat naik keatas, namun bukannya naik. Kay menarik tangan Ken.
Sontak suara semburan air kembali terdengar dari arah mereka. Namun, kali ini bukanlah Kay yang tercebur masuk ke dalam melainkan seseorang pria yang menjadi korban dari kejahilan Kay.
"Kay, kau ngapain!" kesal Ken. Namun, tampaknya kekesalan yng dialami pria tersebut hanya terjadi di awal dan siring berjalannya waktu rasa kesal tersebut mulai memudar, karena tak lama kemudia dia malah ikut tertawa dengan Kay. Mereka menghabiskan waktu mereka hingga sore untuk bermain.
=====
"Tuh kan bersin terus, kamu tunggu sini aku cari kayu bakar" Ken berjalan mengelilingi air terjun dan mengambil beberapa kayu bakar.
Api menyala. Kay terus menerus menggigil kedinginan.
"Kay sini, duduk di sebelahku" panggil Ken didekat api unggun.
Wajah Kay memerah, dia mengambil langkah kecil hingga sampai di samping Ken. Kay tersipu, sedari tadi Ken terus menatap kearahnya. Kay memberanikan dirinya duduk disebelah Ken dengan wajah menunduk.
Wajah Kay memerah, bahkan semerah buah tomat ketika Ken meletakkan tangannya di keningnya.
"Kay, kau demam ya. Dari tadi mukamu merah. Lah, kok nambah merah, kau tampaknya harus pergi menuju ke rumah sakit" panik Ken melihat muka Kay yang semakin lama semakin merah.
"Aku gak apa-apa kok" ucap Kay dengan suara serak menahan malu.
Daun dibelakang Kay saling bergesekan. Kay bergidik ketakutan. Ken yang memperhatikan itu meminta Kay jangan bergerak.
"Eh! itu kan"