Tiba-tiba Ken berteriak kagum seraya mencubiti hewan di depannya. Baginya, makhluk mitologi lucu dihadapannya ini adalah makhluk terimut yang pernah di lihat seumur hidupnya.
"I-ini Phoenix kan?" tanya Ken dengan tatapan yang seperti seorang anak kecil sambil menoleh dan menatap ke arah Kay.
"Eh?" Kay tampak kebingungan, ia menatap ke arah di mana sosok hewan tersebut berdiri. Manik matanya menatap intens ke arah seekor makhluk berbulu putih dan oranye. Makhluk tersebut tampak tersesat, hal tersebut terlihat dari pandangan mata makhluk mitologi tersebut. "Finix? Iya, kau Finix 'kan?" tanya Kay pada burung yang memiliki kekuatan
Finix memiringkan kepalanya ke kana dan ke kiri sambil kedua matanya menatap wajah Kay, tak lama kemudian, ia mengibaskan ekornya, dan mengepakkan sayapnya beberapa kali sebagai pertanda kalau apa yang dikatakan Kay itu benar.
"Kalau benar begitu, sekarang Calista sedang berada di mana?" tanya Kay dan dengan segera Ken menoleh.
"Apa? Dia hewan peliharaan yang dipanggil oleh Calista? Itu sangat keren, andaikan saja aku dapat memanggil hewan peliharaan selucu ini!" ucap Ken terkagum-kagum dan masih mengelus lembut bulu-bulu milik burung Phoenix tersebut.
Sebuah suara yang berfrekuensi cukup pelan mampu terdengar di indra pendengaran Kay. Gadis berkekuatan petir tersebut menoleh ke arah semak-semak dan menatap kosong semak-semak tersebut. Ia yakin bahwa pendengarannya tidak pernah salah dan ia mendengar suara gesekan kulit bertekstur keras dengan daun semak-semak.
"Ken." Pria tersebut sontak menoleh saat Kay memanggil namanya. "Sepertinya ada sesuatu lagi di dalan semak-semak itu deh," ucap Kay yang masih melihat ke arah semak-semak. Ken berdiri mendekati semak-semak tersebut dengan langka perlahan dan mulai meraih dedaunan yang menutupi pandangannya. Tiba-tiba saja mata pria tersebut membulat sempurna melihat sesosok makhluk yabg terlihat tepat di depan matanya.
"K-Kay, lihatlah! Di sini ada makhluk lucu nan imut lainnya, dan tampaknya berdasarkan tubuhnya yang bersisik dan memiliki sayap berbentuk seperti itu, makhluk imut ini adalah sesosok naga!" panggil Ken. Kay bergegas memasang mode siaga nya. Namun, entah kenapa Indra pendengarannya mendengar kata-kata 'imut'. Tapi gadis tersebut tidak peduli, naga tetaplah naga, ia harus melawannya sebelum makhluk raksasa tersebut membakar mereka.
Langkah kakinya terus membawanya untuk melangkah maju, dn pada saat itu juga sosok Kay ikut tercengang ketika melihat bagaimana sosok naga yang dilihat oleh Ken hingga dikatakan pri tersebut sebagai makhluk 'imut'.
"Tapi ini..."
=====
"Ric, kita istirahat disini yuk. Lagi pula, apa kau tidak capek menggendong aku seharian penuh?" tanya Calista. Alaric tanpa basa-basi langsung menganggukkan kepalanya dan menyetujui ucapan Calista.
"Bener juga sih, kau berat sekali soalnya, tapi tidak apa-apa aku tidak masalah sama sekali," gumam Alaric yang masih dapat di dengar oleh Calista.
"Tunggu?! Kau baru saja mengatakan apa?" tanya Calista sedikit meninggikan nadanya sehingga Alaric seketika tersadar dan segera membekap mulutnya dengan kadua tangannya. Ia juga sontak segera menurunkan Calista di dekat sebuah pohon dan menyenderkan tubuh gadis tersebut pada pohon.
"Cal, kau tunggulah di sini ya, aku berjanji tidak akan lama kok!"
"Lah, kau mau pergi ke ma-." Calista belum menyelesaikan perkataanya, Alaric sudah menghilang dari hadapannya dan entah pergi ke mana. Terlihat Calista tersenyum sejenak, gadis tersebut menyenderkan kepalanya di pohon belakangnya. Suara jangkrik di malam hari menjadi pengantar tidurnya pada saat itu, dan tanpa sadar gadis tersebut pun mulai terlelap.
=====
"Cal, ayo bangun!" panggil Alaric seraya menepuk pelan bahu Calista.
Gadis tersebut membuka matanya perlahan, ia mengusap matanya dan menatap heran pada Alaric yang saat ini berjongkok di hadapannya sambil membawa sesuatu dengan kedua tangannya. "Kenapa?! Apa terjadi sesuatu?" Calista bangun sambil menyipitkan matanya untuk melihat apa yang dibawa Alaric dengan lebih jelas, dan dalam sekejap dia langsung di buat terbelalak oleh sosok tersebut.
"Apa ini?" kaget Calista melihat apa yang dibawa Alaric. Seekor burung. Bukan, itu bukan burung. Jari telunjuknya tergerak untuk mentoel-toel makhluk cilik tersebut. Kemudian dia mengangkat sayapnya, dan melihat ekor makhluk tersebut. Setelah sekian lama memperhatikannya baru akhirnya Calista mengetahui makhluk apa yang sedang ia lihat saat ini.
"ITU ANAK NAGA!" teriak Calista kaget. Alaric segera membungkam mulut Calista karena mengeluarkan suara terlalu kencang di tengah hutan seperti ini, asal kalian tahu saja jika mengeluarkan teriakan di hutan atau tempat apapun yang sunyi akan mengundang hal yang berbahaya.
"Jangan teriak, nanti kalau sampai induknya datang kita akan sangat kesulitan untuk melwannya, dan tentu saja kau sudah dapat memikirkan akibat lainnya 'kan," ucap Alaric. Calista mengangguk menyetujui perkataan Alaric.
"Tapi, sepertinya anak naga ini tidak punya induk deh. Kau lihat saja ekspresinya wajahnya," jelas Calista, jari telunjuknya menunjuk ke arah anak naga yang sedari tadi diam dan tidak merengek atau ketakutan sama sekali.
"Hem, jika benar begitu maka yang meresahkan warga, jangan-jangan..." Alaric menatap Calista kemudian beralih ke arah sosok anak naga yang berada si pangkuan Calista. Dalam sekejap Calista dan Alaric tertawa canggung sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. "Itu tidak masuk akal sama sekali 'kan, tidak mungkin."
"APA BENAR ANAK NAGA?!" Setelah menasihati Calista yang berteriak di tengah hutan yang sunyi, sekarang Alaric malah menelan nasihatnya dengan berteriak kencang-kencang di tengah sunyinya hutan.
Calista terkekeh canggung sambil melambaikan tangannya tepat di depan mukanya dan Alaric. "Tidak, tidak mungkin deh." Calista menggaruk pipinya.
"Iya kan," ucap Alaric. Pria tersebut baru sebentar saja menatap Calista dan tidak menghiraukan anak naga tersebut kemudian ketika ia berbalik menatap anak naga tersebut ia sudah menghilang. Alaric sontak menoleh mencari anak naga tersebut, dan hasilnya tetap tidak ada.
"Tunggu, pergi kemana dia?" tanya Alaric sambil menatap Calista. Namun, pandangan mata pria tersebut tiba-tiba saja berhenti tepat di atas kepala Calista dan tatapannya terpaku pada saat itu juga. Ia tidak dapat memalingkan pandangannya saat ini.
"Eh, Ric. Kepalaku kok rasanya berat banget yah?" tanya Calista terheran-heran.
"Entah kenapa, aku ada firasat buruk nih," lanjut Calista. Alaric hnya dapat memijit pelipisnya pelan dan menahan kekehannya yang seakan-akan dapat meledak kapanpun itu dan berhadiahkan pukulan dari gadis di depannya ini yang pasti, dalam diam Alaric menganggukkan kepalanya dramatis.
"RIC, TOLONGIN DONG!" rengek Calista. Alaric segera bangkit berdiri dan berpikir untuk sekejap, dia berusaha sekeras mungkin untuk mengambil anak naga yang tertidur di kepala Calista tanpa melukai anak naga tersebut dan kepala Calista jiga tentunya.
Waktu berjalan terus menerus, satupun cara yang di coba Alaric tiada satupun yang berhasil sejauh ini. Ia sudah berusaha sebaik mungkin untuk mengambil anak naga tersebut, tapi sosoknya dengan Calista sudah seperti di lem dengan sangat erat hingga sangat susah untuk memisahkannya. "Eh, sepertinya aku tidak bisa deh. Sudah satu jam aku ngelakuin ini tapi tidak ada hasilnya sama sekali tahu," ucap Alaric menyerah.
"Ya sudah tidak usah deh. Toh, dia cuma tidur, selama dia tidak melakukan yang aneh-aneh di kepalaku maka aku akan baik-baik saja kok," ucap Calista. Gadis tersebut kemudian memejamkan matanya sambil melipat tangannya di depan d**a, dan kepala yang tersender di pohon kayu, dalam sekejap gadis tersebut sudah melanjutkan tidurnya. Alaric memandang Calista yang sedang tertidur lalu mengangkat anak naga yang tertidur dikepalanya.
"Hm, sebenarnya lebih cocok pakai anak naga sih. Lebih lucu, jadi mendingan jangan di angkat deh, pura-pura gak bisa saja kalau dia minta di angkatin," gumam Alaric lalu meletakkan kembali anak naga yang tertidur itu, namun kali ini tidak ke kepala Calista melainkan ke pundaknya Calista.
=====
"Cathabell~"
"Cathabell~"
Undrew tak hentinya menyanyikan lagu aneh yang berlirik Cathabell tersebut. Tampaknya pria tersebut benar-benar maniak Cathabell dan tidak dapat melupakan gadis tersebut barang sedetik pun. Bahkan mulutnya tidak dapat berhenti menggumamkan nama Cathabell.
"Undrew, apa kau benar-benar tidak memiliki rasa lelah di bibir dan suaramu itu? Atau kau kekurangan kerjaan hingga harus di bungkam dengan plester dulu baru bisa berhenti?" Cathabell melirik sinis ke arah Undrew. Namun tak dianggap sama sekali oleh pria bermanik gitu tersebut, yang ada malah pria tersebut malah semakin menjadi.
"Eh, lihat Cathabell! Disana tuh ada pantai," ucap Undrew.
"Bentar lagi akan ada sunset ya 'kan. Bagaimana kalau kau tunggu saja di sini Bell!" ucap Undrew menyuruh Cathabell untuk duduk di salah satu batu besar yang terletak di pinggir pantai dan pria tersebut langsung pergi meninggalkan Cathabell sendirian yang sedang menatap bingung ke arah kepergiannya dan meninggalkan tanda tanya besar pada otak Cathabell.
"Oke, tulisannya sudah beres. Sekarang sih tinggal api"
Undrew mengumpulkan kayu bakar yang sudah dikumpulkannya lalu mengesekannya pada batu agar dapat menghasilkan api membara. Namun, sayangnya matahari tinggal setengahnya dan api masih belum juga menyala.
"Drew!" panggil Cathabell. "Heh, tulisan apa ini 'ILY'" Cathabell mengeja satu-satu huruf yang ditulis Undrew dan sedikit terkejut dengan tiga huruf yang ia tulis. Namun, dengan cepat Cathabell mengembalikan raut wajah keterkejutan kembali seperti semula dan menyembunyikan raut wajahnya tersebut.
"Ily artinya apa?" tanya Cathabell yang berpura-pura tidak mengetahui apapun soal tiga buh huruf yang ditulis oleg Undrew di akhir kalimat. Undrew menangis dalam hati, ia tidak mengharapkan klau sebenarnya Cathabell tidak dapat mengerti apa maksud dari kata-kata yang ia tulis.
"Bukan apa-apa kok," jawab Undrew dan kembali menyalakan apinya.
"Oy, kau ngapain dah mau sunset?!"
"Kau tidak bisa menyalakan api ya 'kan," ucap Cathabell. Undrew mengangguk pelan.
Cathabell menjentikkan jarinya dengan kuat tepat di atas kumpulan kayu yang sudah dikumpulkan oleh Undrew tersebut. Dalam sekejap, api menyala tepat di kayu perapian tersebut dan menghangatkan suhu di sekelilingnya. Undrew memandang Cathabell dengan tatapan kosong.
"Oh benar, kau 'kan seorang pengendali api ya. Aku melupakan hal itu, maaf," ucap Undrew sambil memasang senyuman getirnya karena ketidak bergunaan dirinya di saat-saat penting seperti ini, rupanya rencananya sudah gagal.
Cathabell memandang Undrew yang masih cemberut dan tampak sangat lelah, ia dapat melihat mata pria tersebut tampak sangat berat. "Kau mengantuk ya. Tidur duluan saja," ucap Cathabell. Undrew menggeleng, tapi yang namanya mengantuk tidak akan dapat ditutupi Undrew menguap dengan mata berair.
"Sana kau tidur aja!" ucap Cathabell.
"Yakin ini tidak apa?" tanya Undrew memastikan. Cathabell mengangguk dan tersenyum.
Setelah memastikan Undrew tidur. Cathabell menatap Bulan yang terlihat jelas dari pantai. Dari pantai, bunga tampak begitu jelas, dengan cahaya peraknya yabg terpantulkan oleh air-air di lautan di tambah dengan bulatannya yang sempurna menambah kecantikan dari bulan tersebut.
"Sngt tidak mungkin aku tidak tahu arti dari kata 'ILY'," gumam Cathabell tersenyum lalu berbaring dipasir pantai yang dilapisi dedaunan.
=====
"Petra, ada goa tuh!"
Petra mengalihkan pandangannya ke arah sebuah tempat yang di tunjuk oleh telunjuk Hera. Hera menunjuk sebuah goa gelap ditengah hutan yang hnya mendapatkan pencahayaan dari sang ratu malam dan tidak memiliki sumber cahaya lainnya lagi. Goa tersebut juga memiliki dinding Batu yang meruncing.
"Aku mau istirahat dulu," ucap Petra yang kemudian tanpa berpikir panjang langsung berjalan masuk dan melihat apa sekiranya goa tersebut dapat digunakan untuk dirinya tidur malam ini.
"Tunggu, kau kira aku tidak capek apa? Ada apa dengan dirimu?" keluh Hera yang selera berlari mengikuti Petra.
"Woy, bagaimana kalau kita membikin sebuah kesepakatan!" pinta Petra. Hera terbengong bengong saat mengetahui kalau Petea ingin membuat kesepakatan bersama dirinya.
"Heh, tumben," goda Hera
"Sudah, kau mau tidak? Jika mau ayo, dan jika tidak sebaiknya kau menyingkir sekarang juga dari hadapanku," sahut Petra.
"Kesepakatannya apa dulu?" tanya Hera.
"Gini kau nyari buah untuk kita makan bersama, kemudian aku akan pergi untuk mencari kayu bakar buat api, gimana?" ucap Petra. Hera mengangguk setuju dengam ide cemerlang Petra. Tampaknya baru pertama kali ini mereka dapat akrab seperti ini semenjak pertemuan pertama mereka.
Petra yang sedang sibuk dengan tugasnya tiba-tiba saja dikagetkan dengan teriakan dari Hera, pria tersebut langsung berlari ke arah di mana tempat seharusnya Hera berada saat ini. "PETRA, TOLONG!" panggil Hera.
"Eh, Hera?" Petra terkaget dan berhenti bergerak saat dirinya harus menghadapi goa dengan dua cabang yang ia sendiri tidak tau harus melewati kanan atau kiri yang benar.
"Kau dimana?" sambungnya sambil berteriak.
"Her, kau jangan membuat khawatir woy!" teriak Petra yang masih belum mendapat jawaban.
"Eh, HERA!" teriak Petra ketika melihat kondisi Hera.