"Eh, HERA!"
Petra melihat Hera yang tangah tak sadarkan diri dan dikelilingi banyak makhluk kerdil Yang sekiranya setinggi empat puluh lima centi dengan senjata tombak berujung batu yang diasah dengan tajam sehingga dapat membunuh makhluk hidup apapun. Mereka berbicara dalam bahasa mereka dan tampak ribut sekali.
"Ka-kalian siapa?" ucap Petra tak percaya. Tangganya di gerakkan untuk mencolek salah satu makhluk tersebut. Sontak, makhluk yang ia colek langsung menodongkan senjatanya ke arah Petra dan mengucapkan kata-kata aneh dengan nada marah.
Para makhluk kerdil tersebut memandangi Petra yang dimarahi oleh temannya lalu yang lainnya pun malah ikut mengarahkan senjata yang mereka pegang ke arah Petra dan menciptakan tanda tanya super besar di kepala orang yang di todong saat ini. "A-apa?" tanyanya. Makhluk kerdil itu sempat kebingungan sekejap, namun tak lama ia kembali menodongkan senjata mereka ke Petra, dan kali ini dapat di katakan lebih dekat lagi.
"Heh, kalian mau bunuh aku? Memangnya bisa apa dengan tubuh seperti itu, wek," ejek Petra seraya menjulurkan lidah ke arah makhluk-makhluk kerdil tersebut. Dan bagaikan mengerti, mereka semua langsung terkejut akan ucapan Petra dan langsung memasang raut wajah kesal mereka.
"SERANG DIA!"
Salah satu dari makhluk kerdil tersebut berteriak dengan bahasa manusia dan hal tersebut langsung di mengerti oleh Petra. Muka Petra terlihat panik saat makhluk-makhluk tersebut semakin mendekat lagi ke arahnya. kepalanya tergores sedikit dan lengannya juga terluka akibat dari senjata batu makhluk-makhluk tersebut, Petra cukup terkejut saat melihat senjata-senjata tersebut ternyata dapat dengan mudahnya menembus kulitnya.
"Bentar-bentar! Tolong berhenti, kumohon! Kemudian mari kita berbincang mengenai masalah ini sebentar. Pertama-tama, mari kita berkompromi," ucap Petra. Makhluk kerdil tersebut masih tak mau berhenti hingga akhirnya Petra memikirkan sebuah cara agar makhluk-makhluk tersebut mau berhenti, ia menggunakan kekuatan tumbuhannya dn membiarkan tubuhnya diselimuti oleh tumbuhan yang merambat. Dan, dalam sekejap trik tersebut berhasil membuat para makhluk kerdil ketakutan.
Ketua dari makhluk kerdil tersebut langsung mengangkat tangan kanannya, dan para makhluk yang tadi menyerangnya pun akhirnya berhenti menyondongkan senjata mereka. Mereka langsung berlari ke arah ketua mereka dan menunduk di hadapannya.
"Baiklah, kalah begitu di mana kita akan berbicara," ucap ketua makhluk kerdil tersebut dengan mengunakan bahasa yang di mengerti oleh Petra.
Petra bangkit berdiri, "ikut aku," ucapnya yang kemudian mengangkat tubuh Hera, lalu ia menggendong gadis tersebut dan berjalan masuk ke arah goa yang lebih dalam lagi, dengan diikuti oleh gerombolan makhluk kerdil yang berniat membunuhnya tadi dan ketua mereka yang mampu berbicara bahasa manusia.
Petra terus berjalan sambil mengapa sekeliling hingga akhirnya pria berkekuatan tumbuhan tersebut menemukan sebuah tempat nyaman yang dapat digunakan untuk mereka melakukan perbincangan serius kali ini. Petra akhirnya berhenti berjalan dan membaringkan tubuh Hera di atas tanah yang tidak begitu berbatu, tak lupa kepala gadis tersebut ia letakkan perlahan di atas sebuah tanaman kapas sehingga ia dapat berbaring tanpa merasakan sakit.
Baru setelah selesai dengan urusannya, ia menatap ketua dari makhluk kerdil tersebut dan anak buahnya yang masih memasang tampang garang ke arahnya. "Hmm... " Petra berpikir dan terus menatapi ketua makhluk kerdil. Sebenarnya, terdapat ribuan pertanyaan di otaknya saat ini, namun tentu saja ia harus menyaring semua pertanyaannya. Jika dirinya salah berbicara maka nyawa miliknya dan Hera akan berada dalam bahaya.
"Jadi kalian ini ras makhluk apa? Dan apakah hanya kau yang mampu berbicara dengan menggunakan bahasa manusia?" tanya Petra yang akhirnya berhasil memilih pertanyaan bagus.
"Kami dari ras Hobbit, dan karena aku adalah pemimpin mereka karena itu hanya aku yang mampu berbicara dan mengerti bahasa manusia. Bahasa manusia merupakan salah satu persyaratan bagi calon pemimpin hobbit yang ingin menjadi pemimpin sesungguhnya dari ras hobbit!" jawabnya sambil menjelaskan.
Petra mengangguk pelan. "Kalian rupanya sesosok hobbit, pantas saja tubuh kalian kecil seperti ini, rupanya di desa hobbit itu bahasa manusia sangat di hargai oleh kaum kalian ya, lalu apa yang kalian lakukan di hutan? Bukankah kalian seharusnya berada di desa bersama yang lainnya saat ini," ucap Petra.
"Hem kalau soal itu." Sang ketua hobbit memberi jeda pada kata-katanya dan kemudian ketua tesebut berdehem pelan.
"Jadi dengarkan, sebenarnya saat ini, kami sedang berusaha keluar dari desa karena terdapat sosok naga yang sangat meresahkan seluruh kaum kami, karena itu kami sekarang berada di hutan ini dan bertemu dengan manusia aneh seperti 'anda', dan juga kaum kami bukan menghargai bahasa manusia hingga menjadikannya sebagai persyaratan pemimpin kaum hobhit. Tetapi, alasannya lebih benar jika dikatakan kalau saja kita bertemu manusia jahat yang akan melukai kami, pemimpin dari kaum hobbil masih dapat berkompromi dengan manusia tersebut dengan bahasa manusia," ucap ketua Hobbit yang sebenarnya cukup membuat Petra sedikit sakit hati dengan keterus terangan dari pria tersebut.
Petra bergidik mendengar nada sang ketua Hobbit. Ia hanya dapat terkekeh kecil dan merutuki nasib sial yang di miliki dirinya dan Hera hingga harus bertemu dengan sosok semenyeramkan para kaum hobbit ini.
"Oke-oke"
"Em, gini berarti kalian semua saat ini tidak mempunyai tempat tinggal dong?" tanya Hera yang entah sejak kapan telah sadar dan langsung menyambung ke dalam pembicaraan Petra dengan para hobbit tersebut. Dan tentu saja, jantung Petra rasanya sudah ingin copot ketika mendengar suara Hera dari arah balik punggunya. "Kau menganggetkan ku!" ucap Petra yang sedikit meninggikan nada bicaranya. Hera tertawa terbahak-bahak melihat ekspresi terkejut Petra yang sangat aneh, dan baru pertama kali ia lihat tersebut.
Petra menatap Hera sejenak lalu segera mengalihkannya pandangannya ke arah ketua hobbit, ia sebaiknya memendam rasa kesalnya itu untuk nanti saja karena di depannya ini ada urusan yang jauh lebih penting lagi.
"Gimana kalau untuk sementara kalian berasama kami?" saran Hera.
"Terima Kasih atas tawarannya nona baik hati tidak seperti 'dia' yang baru bertemu saja langsung dengan beraninya memegang lengan kami!" balas ketua hobbit memberi penekanan pada kata dia dan menatap sini ke arah Petra.
Petra langsung merasa tersinggung oleh ucapan pemimpin hobbit tersebut hanya dapat membuang muka dan mendengus sebal.
=====
"Finix, kok kau tidak mengatakan pada kami kalau kau membawa anak naga bersama mu?" tanya Kay pada Finix. Finix menunduk takut dan tidak berani menatap Kay yang tampak sangat menyeramkan saat sedang marah.
"Kay jangan marah, dia 'kan memiliki niat baik hingga mau menolong anak naga yang kelihatan tersesat ini," ucap Ken yang membela Finix karena jatuh hati akan keimutan sosok makhluk imut tak bersalah itu
Finix menganggukkan kepalanya dan segera berlari berlindung dibalik punggung Ken. Ken tertawa pelan melihat tingkah sahabat kecilnya itu. "Jadi kau menemukan anak naga ini dimana?" tanya Ken pada Finix.
Finix berjalan mendekati pohon dan mematuki batang kayu pohon tersebut dengan paruh kuat miliknya.
"Jadi maksudmu, kau melihat anak naga ini sedang mematuki pohon, dan karena di sedang mematuki pohon, kau kira dia sama dengan mu karena dia memiliki nafas api juga sama seperti sebagian dari tubuhmu?" tanya Kay polos.
"HAHAHAHAHA!" Ken langsung dibuat tertawa terbahak-bahak karena pertanyaan aneh yang di ucapkan Kay tersebut. Ucapan gadis tersebut sama sekali tidak masuk di akal.
"Aduh perutku sampe sakit, kau ini polos banget sih. Masa naga kau bilang mematuk pohon, dia mempunyai paruh saja tidak, jadi bagaimana caranya dia untuk mematuki pohon kayu tersebut Kay," ucap Ken seraya memegangi perutnya yang sakit akibat tertawa.
Muka Kay kembali memerah.
"E-eh, mukamu kok merah?"
"Kay"
"Kay, jangan pingsan."
Kay pingsan. Ken mengurut keningnya seraya memandang Kay khawatir.
"Ini anak kok sering pingsan sih," ujar Ken lalu membaringkan tubuh Kay di atas jaketnya.
=====
keempat pasangan tersebut menikmati waktu mereka, dan waktu terus berjalan sebagaimana seharusnya. Sore hari berganti menjadi malam, dan malam berganti menjadi pagi hari. Sang rembulan telah menyelesaikan tugasnya di bumi dan akhirnya memilih untuk beristirahat dan digantikan oleh sang mentari yang mulai kembali melaksanakan tugasnya setelah sekian lama beristirahat.
Tidak dapat di pungkiri bahwa cahaya menusuk dari matahari dapat mengganggu tidur siapapun yang terkena paparannya. Hal tersebut jiga berlaku pada sosok pria yang tertidur di bawah sebuah pohon saat ini, surai peraknya tampak berkilauan di bawah pantulan mentari tersebut menambah tingkat ketampanannya.
"Hmm..." desis pria tersebut, tangannya ia gerakkan untuk menutupi sinar matahari yang mengarah langsung tepat ke arah manik biru samudranya. Tak lama, kelopak mata yang menghalangi keindahannya matanya tersebut terbuka dan menampilkan sepasang samudra luas yang berada di dalam sepasang bola mata milik seorang pria pengendali air.
Pemuda tersebut, Alaric. Ia langsung bangkit berdiri dan tampak melihat ke arah sekelilingnya untuk melihat sosok yang sedang ia cari-cari.
"Alaric menoleh ke sekelilingnya dan mencoba untuk mencari Calista namun hasilnya tetap nihil. "Cal, kau berada dimana?" ucapnya sedikit berteriak agar gadis tersebut mampu mendengar suaranya.
"Alaric! Apa kau sudah bangun, aku disini!" teriak Calista. Alaric langsung membalikkan badannya dan mencari sumber datangnya suara tersebut. Dia berjalan ke arah sungai dan mendapati Calista yang tersenyum lebar sambil bermain bersama anak naga yang ia temukan semalam. Alaric merasa dirinya terpancing untuk ikut tersenyum bersama Calista saat ia melihat kesenangan Calista dan anak naga tersebut.
"Kalian nagapain, ikutan dong!" ucap Alaric yang kemudian menghampiri Calista dengan anak naga tersebut.
"Kita lagi main petak umpet, apa kau mau ikut, Ric?" tanya Calista tersenyum senang.
"Ah, asalakan kalian tidak keberatan," sahut Alaric. Calista mengangguk dengan senyuman yang masih setia terpatri di wajahnya.
Alaric berjalan mendekati pohon terdekat.
"Aku yang jadi ya, dan kalian bersembunyilah," teriak Alaric. Calista mengacungkan jempolnya ke arah Alaric, lalu berlari melompati batu-batu yang berguna untuk melintasi sungai berarus deras tersebut.
"Calista, hati-hati nanti kau bisa terja-"
"CALISTA!"
=====
"Undrew, bangun!" panggil Cathabell yang terlihat sangat cemas. Undrew yang tertidur sangat pulas pun akhirnya berhasil terbangun oleh karena kekuatan Cathabell yang digunakannya untuk menggoncang tubuh Undrew saat pria tersebut tertidur.
"Kenapa Bel, ada apa? Kok mukamu terlihat sangat cemas seperti itu?" tanya Undrew melihat kegelisahan dan kecemasan yang terpampang jelas di wajah milik Cathabell.
"Entah kenapa aku mempunyai firasat buruk akan suatu hal yang kemungkinan besar akan terjadi," gelisah Cathabell, dia meremas pasir di pantai tersebut dengan kencang hingga membuat tangannya sendiri menjadi sedikit tergores akibat kukunya yang menancap pada telapak tangannya sendiri.
Undrew memperhatikan tangan Cathabell. "Jangan khawatir, itu kan cuma firasatmu saja Cathabell."
"Tapi, firasatku sering menjadi kenyataan! Aku takut jika firasat kali ini juga akan menjadi kenyataan Undrew!" elak Cathabell. Undrew dapat melihatnya, Cathabell menahan air mata di pelupuk mata gadis tersebut dan berusaha untuk tidak meneteskan air mata padahal matanya sudah terlihat sangat ingin menangis saat itu.
"Memangnya firasat buruk apa yang kau rasakan?" Undrew memperhatikan raut wajah Cathabell.
"Calista, dia dalam bahaya!"