"CALISTA!"
Alaric dengan cepat berlari ke arah bebatuan yang melintasi sungai danv berusaha untuk mengapai tangan Calista. Namun telat sudah, Calista terjatuh kedalam air dan terbawa oleh arus sungai yang amat deras tersebut..
"CAL!" teriak Alaric. Pria tersebut tampak frustasi dan mengalami penurunan kondisi mental saat melihat Calista yang tiba-tiba saja terbawa arus dan nyawanya terancam.
Alaric dan menunggu agar panggilannya di jawb gadis tersebut sehingga ia dapat sedikit lega, namun suara yang ia nantikan tidak pernah datang. Tidak ada yang menjawab teriakannya, atau dapat dikatakan Calista tidak menjawab panggilan nya.
Alaric menunduk, saat ini ia benar-benar terpukul dan tak dapat berpikir sehat di pagi hari. Ia merutuki akal jeniusnya yang sama sekali tidak berguna di waktu-waktu seperti ini. Pria tersebut mengangkat kedua tangannya, mengarahkannya kearah sungai yang memiliki arus deras tersebut.
Seketika dedaunan berterbangan, burung-burung pergi dengan terburu-buru, air yang berarus deras tadi mulai memunculkan gelombang besar layaknya berada di lautan.
Alaric mengangkat kepalanya. Matanya berubah, dari biru menjadi merah darah, dan mimik wajahnya tampak seperti sesosok iblis yang siap membunuh siapapun yang berusaha menghentikan kegiatannya.
=====
"Itu Alaric!" tunjuk Cathabell kepada seorang bersurai perak dengan kemeja putih yang berantakkan. Dia berlari ingin menghampiri Alaric, dan sedikit kesusahan dengan angin kencang yang datang entah dari mana asalnya.
Cathabell menepuk bahu Alaric pelan. "Ric, Calista man-." Cathabell sontak berhenti berbicara ketika dia melihat mimik wajah Alaric. Matanya melebar. Lari, itulah hal pertama dilakukan Cathabell setelah melihat sosok Alaric.
"Bell?!" Undrew mengikuti arah pandang Cathabell.
"D-dia bukan Alaric, siapa dia?" tanya Cathabell ketakutan.
Undrew terbelalak,
"Jauh!"
"Apa?"
"JAUHI DIA!"
Undrew berteriak lalu sontak menggandeng tangan Cathabell, mereka pergi berlari menjauh dari Alaric, dan berusaha sebaik mungkin untuk tidak terlihat di hadapan pria tersebut sehingga mereka tidak akan menjadi sasaran kegilaannya.
=====
"Kok burung-burung pada berterbangan semua ya?" tanya Kay bingung dengan kepala yang mengadah kearah langit, ia terus memperhatikan burung-burung yang berterbangan melintasi mereka.
Ken menghadap kearah langit. Dia melihat puluhan. Tidak, ratusan burung beterbangan melintasi mereka dengan tergesa-gesa. Ken mengerutkan keningnya. Entah mengapa perasaan buruk menjalar di sekujur otaknya hingga pria tersebut kesulitan untuk berpikir jernih. Ia sontak berdiri untuk mencari sosok yang membuat dirinya merasakan firasat buruk.
"Ken, kau mau kemana?"
"Kau sebaiknya tunggu disitu saja, aku hanya pergi sebentar doang kok!"
=====
"KEN!" Undrew segera berlari menghampiri Ken yang baru saja tiba. Pria tersebut tampak amat kelelahan dengan nafasnya yang tersengal-sengal dan peluh keringat di mana-mana.
"Nih, minum dulu!" Ken menyodorkan air. Undrew mengambil air pemberian Ken lalu memberinya pada Cathabell disebelahnya.
"Kau minum pakai tutupnya," ucap Undrew.
Cathabell menerima air yang di sodorkan oleh Undrew, ia membuka tutup botol tersebut yang berukuran cukup besar, dan menjadikan tutupnya sebagai gelas minumnya. "Terima kasih, ini giliranmu," ucapnya setelah meneguk habis air yang ia tuangkan di tutup botol tersebut, kemudian menyodorkannya pada Undrew yang segera diterima oleh pria tersebut. "
Undrew dengan cepat meneguk airnya hingga beberapa tetes air mengalir keluar dari bibirnya kearah dagu pria tersebut. Setelah mengusap wajahnya, ia mulai berucap, "Alaric..," ucap Undrew dengan tersengal sengal.
"Kenapa? Ada apa dengan dia?" tanyanya.
"D-dia kehilangan kendali tubuhnya,"
Ken tersentak. "Apa maksudmu?"
"D-Dia, m-matanya, pandangannya, mimiknya, SEMUANYA BERUBAH!" undrew berteriak.
"Dimana dia?" Undrew menunjukkan arah sungai pada Ken. Ken segera berlari mengarah ketempat yang ditunjuk Undrew.
=====
"Ric, sadar!" panggil Petra. Perut Petra penuh dengan darah. Dia terus memegangi perutnya yang dilukai oleh Alaric.
Ken melihatnya dari jauh, dia menutup mulutnya tak percaya, kondisi ini sudah sangat kacau. Ia tidak menyangka kalau Alaric yang kehilangan kendali atas dirinya dan mendapat tekanan mental dapat seberbahaya ini.
"ALARIC BERHENTI!" teriak Ken yang sudah tidak tahan ketika melihat Petra yang terus menerus dilukai oleh serangan bertubi-tubi dari Alaric. Ken benar-benar ketakutan saat ini, ia takut akan kehilangan kedua sahabatnya dalam waktu yng bersamaan sama seperti saat dirinya kehilangan keluarganya.
"Stop Ric, please!" Ken menutup mulutnya menangis, dia tidak percaya sahabatnya Alaric dapat berbuat seperti ini.
=====
"Ah, akhirnya ketemu sungai," lega Hera.
"Petra kok main ninggalin aja sih!" gumam Hera kesal.
Flashback
"Her, aku pergi dulu ada urusan penting yang benar-benar tidak dapat di tanda-tanda lagi sekarang!" ucap Petra ketika melihat ribuan daun berterbangan dari suatu tempat dan burung-burung berlari ketakutan meninggalkan sarang mereka.
"Eh, tunggu." ucap Hera. Namun terlambat Petra telah menghilang dari pandangannya.
"Yah aku jadinya ditinggalin, sudah ah mending nyari sungai dulu" ucap Hera. Lalu berjalan meninggalkan gua dan kaum Hobbit yang tengah bermain.
Flashback end
Hera tersadar dari lamunannya saat tiba-tiba sebuah suara benturan terdengar dengan jelas di gendang telinganya. Ia sontak bangkit berdiri. "Suara apa itu?" Hera mengalihkan pandangannya kearah sungai.
Dari jauh, ia dapat melihatnya, terdapat seseorang yang tangah memeluk seekor naga terdampar dipinggiran sungai tersebut. Hera berlari menghampirinya untuk melihat sosok orang yang terdampar tersebut, karena ia tidak mampu melihat wajah gadis tersebut dengan jelas jika dari jauh.
"Eh, ini CALISTA!" Hera terkaget melihat sosok yang terdampar merupakan sahabatnya Calista. Hera dengan cepat menarik tubuh Calista ke atas bersama dengan nga di pelukannya, kemudian ia berlari mencari para hobbil dan meminta mereka membantunya membawa Calista kedalam goa.
"Terima Kasih bantuannya," ucap Hera tersenyum tulus.
Para Hobbit menganggukkan kepala mereka. Hobbit tampaknya sangat hormat kepada Hera karena telah memperlakukan mereka dengan sangat baik di bandingkan dengan Petra yang berulang kali membuat mereka kesal.
Hera memandangi Calista
"Uhuk!" Calista tiba-tiba terbatuk-batuk dan mengeluarkan air dari mulutnya. Gadis tersebut tampak sedikit kesulitan untuk bernafas karena tertutupi oleh air. Tak lama kemudian, pernafasan gadis tersebut mulai kembali normal, dan secara perlahan kelopak matanya menampilkan sosok heterochromia dibaliknya.
"Calista! Kau sudah sadar!" Hera tersenyum senang melihat Calista yang telah sadar.
"Dimana?" tanya Calista.
"Ini di goa, Cal!" balas Hera. Calista tersentak lalu segera berlari keluar dari gua.
"Eh, KAU MAU KEMANA CALISTA?!" Hera berteriak kencang ketika Calista yang baru saja tersadar sudah berlari pergi. Hera pun berlari mengejar Calista.
=====
"Ric stop!" ucap Ken dengan darah yang keluar dari mulutnya.
"Kenapa kamu jadi kayak gini?" ucap Petra yang terus memegangi perutnya. Alaric tak menjawab dia mengangkat tangannya dan bersiap-siap menusuk jantung Petra.
"ALARIC BERHENTI!" Alaric tersentak lalu memutar balikan badannya.
Calista berteriak, dengan kepala yang kembali berdarah setelah dibersihkan oleh Hera. Dia berlari dengan kaki yang setengah pincang kearah Alaric.
Jantung Calista seakan ingin copot ketika ia melihat wujud Alaric. 'Menyeramkan sekali'. Alaric mendekatinya, Calista mudur. Dia takut, sangat takut.
Calista terus memandang Alaric dalam kurun waktu yang sangat lama, tatapannya memiliki berjuta-juta makna yang tak bisa di baca oleh otak jenius Alaric sekalipun. Setelah sekian lama melihat ekspresi Alaric, entah mengapa Calista tidak melangkah mundur lagi. Dia melangkah maju mendekati Alaric.
Alaric berjalan, selangkah demi selangkah. Dari arah belakang pria tersebut timbul suara seperti sebuah kayu yang di patahkan, dan Calista tersentak kaget, dia menoleh ke asal suara, yaitu punggung Alaric.
"Punggung! Punggung Alaric!" teriak Hera yang baru saja datang. Mereka semua memandang kearah punggung Alaric.
Sebuah sayap lebar dengan bulu berwarna hitam pekat keluar dari punggungnya.
"A-apa itu?" Calista berhenti bergerak. Jaraknya dengan Alaric menipis. Satu, satu meter jarak mereka. Alaric mengangkat tangannya.
"ALARIC SADAR, INI AKU CALISTA!" teriak Calista menutup matanya ketika Alaric akan menyerangnya.
"....."
Hening, mereka semua memandang Alaric yang berhenti bergerak.
"B-biru, matanya biru!" senang Cathabell melihat kembalinya Alaric ke wujud semulanya.
"Hah, syukurlah," senyum Calista, lalu memegang kepalanya yang berdarah.
Alaric tersadar dan melihat kepala Calista yang berlumur darah.
'Bruk..
Semua orang yang berada ditempat itu terbelalak.
"CALISTA?!"
=====
"Jadi dia jatuh di sungai, habis itu kamu gak inget apa-apa lagi?" tanya Undrew. Alaric mengangguk.
"Hem, tadi tuh kau pingsan," jelas Petra. Semua orang kecuali Calista yang tengah pingsan menghadap ke arah Petra dengan pandangan bertanya.
Petra mengedipkan sebelah matanya.
"Iya, kau tadi pingsan doang kok, Ric," sambung Ken.
"Terus kalian berdua kok berlumuran darah?" tanya Alaric melihat kondisi kedua sahabatnya Petra dan Ken.
"A-ah, k-kita berdua tadi ngelawan sesuatu, tapi sudah gak apa-apa kok, ya kan, Hera," jelas Petra seraya menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Hera yang merasa terpanggil pun mengangguk cepat.
Alaric memandang Petra dan Ken dengan tatapan menyelidiki. Mereka berdua hanya bisa cengar-cengir tidak jelas.
"Eh, Ken. Kay dimana?" tanya Cathabell mencairkan suasana.
Ken terbelalak.
"ASTAGA AKU MELUPAKAN KAY!" Ken berteriak lalu segera pergi meninggalkan Gua. Teman-temannya menahan tawa melihat tingkah Ken.
=====
"Aduh, si Ken mana sih, katanya sebentar doang, panas banget lagi disini?"