Tanpa sengaja Petra menginjak sebatang kayu di tanah, dengan cepat dia menutup mulutnya. Takut jika Alaric akan menyadari keberadaannya.
"Siapa di sana?" tanya Alaric. Petra bersembunyi di balik rumput tebal, dan terus berdoa agar Alaric tidak menemukan dirinya.
"Siapa di sana?" tanya seorang pria lagi. Petra tidak mengenal suaranya, sepertinya dia pria bercahaya yang sedang berbicara dengan Alaric tadi.
"Pet!" Petra terkaget, dia menatap takut Alaric.
"Jangan berisik," bisik Alaric. Dia pergi dari tempat Petra, dan berjalan melintasi danau tersebut.
Petra sedikit menguping pembicaraan mereka berdua.
"Bagaimana? kau yakin lebih memilih tetap di sini, daripada menerima tawaran-Nya untuk di naikkan ke Surga?" tanya pria bercahaya tersebut pada Alaric.
Alaric menggelengkan kepalanya, "Aku tidak bisa menerima hadiah Tuhan untuk naik ke Surga."
"Mengapa?"
"Di sini tempatku. Semua sahabat ku nungguin aku di sini. Mungkin jika aku menerima tawaran menuju Surga, di sana aku cuma bakal kesepian," jelas panjang Alaric.
Petra menutup mulutnya tak percaya. Dia baru saja mendengar bahwa Alaric menolak tawaran menuju Surga, hanya untuk sahabat-sahabatnya?!
Bagaimana bisa dia melakukan hal tersebut.
"Kalau begitu mulai hari ini, kau benar-benar menolak tawaran ke surga." Alaric menganggukkan kepalanya.
Petra dapat melihat bagaimana manusia bercahaya tersebut terbang begitu saja, dan meninggalkan Alaric.
Alaric menoleh ke arah belakang, dan berjalan menuju Petra, "Apa kau sudah mendengarkan semuanya?" tanyanya.
Petra mengangguk, "Jadi bisa kau jelaskan apa maksud menolak tawaran surga?"
Alaric menghela nafas panjang, "Jadi begini cerita sebenarnya.."
Flashback
Alaric menunduk kepada-Nya yang sangat bercahaya di depannya.
Bahkan, sangking bercahayanya, Alaric tak mampu sama sekali menatap-Nya secara langsung.
"Kau telah berhasil membawa Lucifer ke dalam gerbang penghakiman. Jadi Saya sebagai Tuhan dunia ini ingin memberikan tawaran kepada mu," ucap-Nya di atas takhta.
Alaric menunduk, "Jika hamba boleh tahu, apa tawaran tersebut," ujarnya.
Dia menggerakkan tangannya, lalu beberapa malaikat turun menghampiri Alaric, "Baca gulungan tersebut," ucap-Nya.
Alaric mengambil gulungan yang diberikan oleh para malaikat, dan membaca satu persatu kata-kata di dalam gulungan tersebut.
'Atas hadiah karena berhasil memasukkan Lucifer ke dalam gerbang Neraka. Alaric di berikan dua tawaran.
Pertama. Mendapatkan akses langsung untuk menuju ke surga, dan menetap disana untuk selamanya.
Kedua. Diperbolehkan untuk kembali ke bumi, dan melanjutkan hidupnya seperti seorang manusia normal.'
"Saya memilih pilihan kedua!" Tuhan terkejut, saat mendengar ucapan yang dikeluarkan dari mulut Alaric.
"Kau yakin?" tanyanya. Alaric mengangguk.
"Kalau begitu, gimana jika kau kembali dan akan Saya beri waktu selama lima hari untuk tinggal di dunia, setelah itu salah satu Malaikat Saya akan turun untuk memberi tawaran lagi." Alaric terlihat sedang memikirkan tawaran dari Tuhan.
Tak lama dia mengangguk sambil tersenyum, "Saya terima tawaran itu," ujarnya.
"Baiklah jika begitu. Kalian antar dia." Tuhan meminta salah satu malaikat-Nya untuk membawa Alaric kembali ke dunia.
Flashback end
"Berarti cerita yang kau ceritakan dulu itu bohong 'kan?" Alaric mengangguk.
Fajar menyingsing, dan mengagetkan Petra dan Alaric.
"Astaga sudah pagi!"
=====
"Kalian habis dari mana aja?" tanya Hera yang sudah bagun dari tidur nyenyaknya.
Jam dinding menunjukkan pukul enam pagi. Dan Petra merutuki dirinya sendiri karena harus memata-matai Alaric, hingga dirinya tidak tidur, kemudian terjadilah hal seperti saat ini dimana dirinya sangat mengatuk dan matanya sepeti terbebani.
Ia melirik kearah Hera yang berada di sampingnya sambil melihat ke sekeliling untuk menemukan sesuatu yang menyenangkan di pagi hari. Pria tersebut tak mau kehilangan image cool nya di depan Hera tentunya, karena itu ia menahan kantuknya.
"Hoamm..." Cathabell menguap kencang sembari menggaruk-garuk punggungnya. Dia menatap Hera, Petra, Alaric yang telah bangun.
"Sudah pada bangun?" tanyanya. Ketiga orang tersebut mengangguk. "Hem, cepat sekali. Entah kenapa aku terobsesi sama keempukan kasur itu sampai malas bangun," lanjutnya.
Cathabell berjalan menuju dapur dan mengambil air untuk di minum, kemudian dia menuju kamar mandi, tak lupa dengan membawa handuk di tangannya.
"Memang tiap kali dia bangun selalu kayak begitu yah?" tanya Petra yang menatap pintu kamar mandi dengan tatapan aneh.
"Ya begitulah, dia suka jalan seperti sosok hantu, rambutnya selalu saja berantakan dan menutupi seluruh wajahnya di pagi hari, kemudian parahnya dia menganggap itu keren," sahut Hera. Petra mengangguk-anggukkan kepalanya.
Hera bergidik ngeri, ia mengingat suatu malam dimana dirinya, Calista, dan Kay melihat dengan mata kepala mereka sendiri sosok Cathabell turun dari kamarnya dengan rambut yang menutupi seluruh wajahnya, dan saat itu mereka berlari ketakutan karena mengira Cathabell sebagai hantu beneran.
"Apa Calista belum bang-." Alaric berhenti berbicara saat melihat Calista turun dari lantai atas. Gadis tersebut tetap tampil begitu menawan walaupun baru bangun tidur, namun ada hal yang janggal, raut wajahnya sangat kusut.
Tapi tidak membutuhkan waktu lama baginya untuk menyadari sosok yang membuat tampang kusut Calista di pagi hari seperti ini. Rupanya bukan hanya Calista yang turun, di belakangnya ada Lucas yang setia mengikutinya di pagi hari sekalipun.
"Astaga Lucas, kalau pinggang mu sakit jangan di paksain!" keluh Calista.
Alaric menoleh ke atas dan benar saja. Lucas berjalan membungkuk sembari memegangi pinggangnya layaknya seorang pria berumur.
"Sabar ya Cal," ujar Hera tersenyum kikuk. "Si Kay mana?" lanjutnya.
"Masih molor dia," sahut Calista kesal.
Undrew melangkah turun, dan memandangi orang-orang yang berada di lantai bawah. Kemudian dia kembali naik ke atas, dan membuat bingung sahabat-sahabatnya. Sebelum pria tersebut menghilang dari pandangan mereka, Alaric dengan cepat berkata, "Kau sedang apa Drew?" tanyanya.
"Aku masih ngantuk, mau tidur lagi," ucapnya sembari menggaruk kepalanya.
Oke, saat ini Alaric menyesal karena sudah bertanya pada Undrew. Memang sia-sia saja. Tak ada jawaban bermutu yang akan keluar dari mulut Undrew.
"Bu Linda belum bangun yah?" teriak Cathabell dari kamar mandi.
"Belum!" sahut Hera tak kalah kencang.
"Heh, siapa bilang belum?"