Hera terkejut, dia tertawa kikuk saat melihat Bu Linda telah berada tepat di depannya saat ini.
"Ayo semuanya bangunin teman kalian! Ibu mau ada pengumuman. Dan Cathabell, cepat keluar dari kamar mandi!" perintah Bu Linda.
Terdengar suara toilet yang disiram dari kamar mandi, lalu tak lama dengan gerakan tergesa-gesa Cathabell langsung keluar dari toilet tersebut.
"Siap Bu!" teriak Cathabell yang segera membuka pintu kamar mandi, dan membiarkan Bu Linda masuk ke dalam dengan pose tangan seperti sedang menyambut sosok penting yang padahal sebenarnya sangat menyebalkan.
=====
Dua jam telah berlalu, saat ini jam dinding menunjukkan pukul delapan pagi. Dan semuanya telah bersiap-siap di ruang tamu lengkap dengan pakaian casual mereka masing-masing dan terlihat sedang berbincang.
Bu Linda melangkah keluar, lalu mengecek semua muridnya.
"Oke, sekarang semuanya sudah kumpul," ucap Bu Linda. Dia duduk di sofa, dan menatap kearah anak muridnya.
Ken dengan susah payahnya meneguk habis air di depannya. Dia merasa tidak nyaman jika ditatap dengan tatapan mengintrogasi seperti itu. Rasanya seperti dirinya baru saja melakukan suatu kejahatan yang berakibat fatal.
"Ada masalah apa Bu?" tanya Kay. Bu Linda menghela nafasnya.
"Ayo kita ke perpustakaan yang ada di pusat kota," ucap Bu Linda.
Mereka semua menundukkan kepalanya kecuali dua orang. Hera, dan Cathabell si penggila buku. Yah...mungkin Cathabell tidak seberapa menggilai buku, tapi Hera iya dan sangat.
"Jadi kapan kita perginya Bu?" tanya Hera antusias.
"Sekarang juga!"
=====
"Wahh!" Cathabell dan Hera menatap sebuah menara tinggi di tengah-tengah kota yang memiliki banyak penduduk.
"Loh, kok gak ada yang lainnya di sini?" tanya Kay melihat tak ada salah satupun orang yang berasal dari EHS.
Bu Linda tersenyum, "Ini tugas dari Kepala Sekolah. Jadi setiap tim beda tujuan, dan untungnya kita berakhir di perpustakaan ini."
Undrew memutar bola matanya malas, "Untung dari mana, bisa mati aku baca tulisan semut di buku setebal di sini," gumamnya kecil sambil memegang sebuah buku yang amat tebal dengan tulisan kecil-kecil.
"Loh, si Hera sama Cathabell mana?" tanya Calista yang terkaget karena tidak melihat sosok Cathabell ataupun Hera.
Bu Linda menepuk jidatnya, "Tuh, kan kalau terlalu senang jadinya malah kayak begini!" keluhnya.
=====
Petra kebingungan saat melihat lantai pertama menara tersebut. Bagaimana dia tidak bingung. Buku di mana-mana, setiap dirinya melangkah selalu saja ada buku tebal di sampingnya.
Demi Tuhan. Bahkan, dirinya sekarang melihat tikus lewat begitu saja di depannya. Dia menahan diri dengan sangat keras agar tidak memekik ketakutan. Jika sampai hal tersebut terjadi.
Maka, hancur sudah harga dirinya.
"Aduh Lucas jangan nempel terus ih!" kesal Calista yang sedari tadi di tempeli oleh Lucas.
Bahkan saat Calista masuk ke dalam kamar mandi lalu mengunci pintu. Pria itu membawa kursi dari tempat makan, dan duduk di samping pintu kamar mandi.
Keterlaluan? Tentu saja, bahkan saat Alaric melihatnya dia segera menarik Lucas pergi dari pintu kamar mandi.
Mungkin Calista harus memberikan tanda pada Lucas sebagai stalker tingkat dewa.
Lupakan tentang masalah tersebut. Saat ini Calista melihat Hera yang sedang duduk di sebuah meja tua di ujung ruangan dan membaca sebuah buku tua.
Calista menghampirinya setelah berhasil memerintah Lucas untuk menunggunya sebentar.
Calista menepuk pundak Hera, "Her, kau lagi baca apa?" tanyanya.
Hera terkejut lalu segera menutup bukunya. Dia menatap Calista dengan raut wajah yang sangat panik.
Cathabell dan Kay memperhatikan buku-buku yang berbaris rapi di depannya.
"Eh, buku ini keren yah," ucap Cathabell menatap buku berjudul 'Lost'.
Kay menyetujui ucapan Cathabell. Dia dapat merasakan kesan misterius yang keluar dari buku tersebut.
Sebuah buku bersampul coklat. Buku tersebut sangatlah tua, dan jika dilihat dari judulnya, maka Kay dapat langsung menyadari jika buku tersebut bercerita mengenai petualangan.
"Kau mau coba baca buku ini?" tanya Cathabell memperhatikan Kay yang terlihat sangat tertarik pada buku di tangannya.
Kay mengangguk dengan antusias, dia sangat suka pada buku bergenre petualangan.
Calista balik menatap Hera bingung, "Kenapa?" tanyanya kebingungan.
Muka Hera benar-benar mengeluarkan banyak sekali ekspresi. Mulai dari takut, panik, khawatir, dan gelisah.
"Cal, tolong jangan kaget sama apa yang aku ucapin." Calista mengangguk.
Untuk sejenak dia mengintip judul buku yang dibaca oleh Hera melalui ekor matanya.
Sampul buku tersebut ada yang sobek, dan terlihat seperti ada beberapa yang bekas terbakar.
Dan di tengah-tengah buku tersebut terdapat secarik tulisan kuno yang bertuliskan 'History of Erlos'.
"Jadi kenapa tentang buku ini?" tanya Calista.
Hera menelan ludahnya dengan susah payah, "kau barusan sudah mengintip judul bukunya 'kan?"
Calista menganggukkan kepalanya, "Dari judulnya sih, ini tentang sejarah pulau ini," ucapnya.
"Iya kau benar, dan aku ketemu buku ini di tengah-tengah bola tersebut itu," ujar Hera menunjuk ke arah bola hijau bercahaya yang berada di tengah perpustakaan tersebut.
Calista terkaget, dan menatap tajam Hera, "apa kau sudah gila? Ini 'kan bagisan dari buku yang dilindungi di perpustakaan ini, kenapa kau mengambilnya!" teriaknya.
Hera mengangguk, "kau benar, dan mereka nyoba buat nyembunyiin ini dari kita. Bahwa, buku ini ditulis oleh Raja pertama Erlos!" Calista menutup mulutnya tak percaya.
"Dan lebih parahnya lagi..." Hera tidak melanjutkan perkataannya, lalu mengurut keningnya.
"Perang Neraka masih belum berakhir begitu aja!”