Derapan kaki terdengar. Calista, Hera, Cathabell, dan Kay cepat-cepat menutup buku yang dipegang mereka, lalu menyembunyikannya di balik badannya.
"Kalian dari mana saja?" tanya Bu Linda di depan ruangan tersebut.
Mereka berempat tersenyum kikuk, dan di belakang Bu Linda terlihat lima orang pria ikut melihat ke arah mereka.
"Kita barusan cuma lagi baca di sini kok, Bu," sahut Kay tersenyum sangat lebar.
Bu Linda menatap keempat gadis tersebut dengan sangat curiga. Dia mengusap dagunya.
"Ya Sudah kalau gitu, sekarang kita balik ke Villa," ucap Bu Linda kemudian berjalan keluar perpustakaan.
Calista membuang nafas lega. Dia mengelus dadanya kemudian mengeluarkan buku di balik badannya.
"Kaget aku," ucap Hera memegangi lengannya. Mengingat bagaimana Bu Linda datang begitu saja.
Kelima pria yang terus menunggu di luar segera datang dan menghampiri keempat gadis di dalam.
"Buku apa itu?" tanya Undrew penasaran.
Dia menatapi buku tersebut dengan penuh selidik, dan hampir tidak berkedip. Sebelum dirinya merasa sesuatu bergerak di bagian kakinya.
"Emm.. Drew, coba kau lihat itu deh," ujar Cathabell menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal.
Undrew terbengong lalu beralih menatap kakinya. Dan manik gelapnya terpaku pada suatu hewan berwarna coklat, dengan dua pasang antena.
Antena makhluk tersebut bergerak ke kanan, dan ke kiri. Dia berbalik arah lalu kembali berjalan menuju paha Undrew.
"Gu-Guys please dong," ujarnya memohon setengah mati. Kakinya sudah bergetar sangat hebat, hingga rasanya tidak dapat berdiri lagi.
"Drew, jujur aja aku takut kecoa nih," ujar Petra yang langsung menggeleng-gelengkan kepalanya.
Tanpa basa-basi Lucas menghampiri Undrew, dan menyingkirkan kecoa tersebut dalam sekali tebasan tangannya.
Dia segera tersenyum bangga, "Cal, kau lihat barusan," ucapnya.
Calista bertepuk tangan, sembari menggelengkan kepalanya tak percaya, kemudian dia mengacungkan kedua jempolnya, "kau memang hebat, Lucas!"
Alaric sangat risih saat ini. Dia kesal mendengar Calista yang memuji Lucas, "Cih, cuma nyingkirin kecoa mah aku bisa! Coba kau singkirkan Lucifer, bisa ga?" tantangnya.
"Gak, kau singkirkan dunia ini bisa gak?" balas Lucas.
"Gak, kau singkirkan para malaikat bisa gak!"
"Gak! kau singkirin Tuhan bisa gak?"
"Mustahil! kau singki-!"
"SUDAH DIAM KALIAN BERDUA, ATAU KALIAN BERDUA YANG KU SINGKIRKAN SEKARANG JUGA!" Lucas dan Alaric berhenti berbicara, dan menjauh seperti anak anjing yang baru saja dimarahi pemiliknya.
Calista membuang nafas lega, dan tersenyum manis, "Sudah beres," ujarnya.
Alaric, dan Lucas bergidik ngeri saat melihat senyum manis Calista.
'Senyumannya bener-bener sesat!' batin mereka berdua. Mereka hanya bisa berharap agar tidak ada orang yang akan suka kepada Calista karena senyumannya.
Jika ada, maka mereka bisa mati karena terkena marah terus-menerus.
"Eumm.. Pet, kau takut kecoa?" Petra hampir saja terjatuh sebab pernyataan dari Hera.
Dia gelagapan, "Eh, tidak kok! Tadi itu cuma biar Undrew tak minta tolong padaku," ucapnya mencari alasan.
Di sisi lain, Undrew mendecih kesal saat mendengar alasan dari Petra, "Pet! Alasanmu itu basi tahu tak!" teriaknya.
Petra melepas sepatunya, kemudian melemparkannya tepat ke arah Undrew.
Dia menekukkan kakinya dan bersandar pada dinding, "Gak kok, kau percaya aja sama aku," ujarnya dengan senyum cool.
"Inikah yang dinamakan bahagia di atas penderitaan orang?" gumam Undrew pelan, sembari mengusap kepalanya yang baru saja tertimpa sepatu Petra.
=====
"Bu, ini masih siang. Masa kita cuma mampir ke perpustakaan itu doang," tanya Ken bingung.
"Tumben sekali kau pintar Ken, berarti sekarang kau sedang meminta tugas tambahan 'kan?" tanya Bu Linda tersenyum tipis.
Seketika Calista, Cathabell, Hera, Kay, Undrew, Alaric, Petra, dan Lucas memaki Ken dalam hati.
"Eh, mau kasih tugas apa Bu?" tanya Ken ketakutan. Dia berharap agar Bu Linda sama sekali tidak memberi tugas yang susah kepadanya.
"Yahh...jadi begini, di kota bagian timur Sthyn 'kan ada Festival, jadi sekarang kita pergi ke sana," ucap Bu Linda tersenyum.
"......." Ruangan hening, tidak ada satupun dari mereka yang ingin memaki Ken lagi. Justru senyum merekah di bibir masing-masing mereka.
"Bener Bu?" Bu Linda mengangguk pelan.
"Ya sudah ayo kita pergi sebelum Bu Linda marah!" teriak mereka terburu-buru.
=====
Festival dengan banyak sekali mainan di mana-mana, sebuah rollercoaster berkecepatan tinggi baru saja melewati seorang gadis yang menatap kosong es krimnya, entah mengapa gadis tersebut menunjukkan raut wajah tidak sukanya sepanjang perjalanan.
"Di bilangin, aku tuh lebih bagus kalau jalan sama Calista, di bandingin kamu!" teriak Lucas.
"Ih, nggak yah, aku saja berhasil membunuh Lucifer. Nah, kau? Bunuh semut iya kali," sahut Alaric tak mau mengalah.
Calista menghela nafas kesal. Gadis tersebut menoleh ke arah sahabat-sahabatnya yang sedang asik dengan pasangan mereka.
Sedangkan dirinya? Mimpi!
Dapat dirinya lihat Ken, dan Kay pergi mendatangi sebuah kios seorang peramal.
"Romantisnya," gumam gadis tersebut sedih. Mengapa dua pria ini tidak mau berbaikan sama sekali. Ia sangat berharap saat ini kalau Lucas memilih untuk membiarkan dirinya berduaan bersama Alaric dan menikmati waktu mereka bersama. Tetapi, dirinya tak tega membiarkan pangeran itu sendirian. Pasti akan terlihat sangat menyedihkan jika harus sendirian di sebuah festival.
"Emm.. Gimana kalau kalian baikan?" tanya Calista. Mereka berdua menatap Calista tajam.
"Kau menyuruh aku baikan sama dia! Mimpimu terlalu tinggi Calista," sahut Alaric dengan nada kesal.
"Dih, Cal kau lihat padahal aku mau baikan sama dia, tetapi dia tak mau. Alaric jahat 'kan!" Calista hanya dapat pasrah mendengarkan dan terus mengangguk-anggukkan kepalanya guna mengiyakan perkataan kedua pria yang sangat berisik. Dirinya tak menduga kalau Lucas dapat memancing Alaric yang minim kata-kata tersebut untuk melebihi limit kata pria tersebut perharinya.
Jika Calista pikir-pikir dirinya sama sekali tidak ada waktu bersama Alaric setelah pria tersebut kembali ke dunia ini. Walau jujur saja gadis tersebut merasa ingin sekali berbicara banyak hal, bercerita banyak hal pad Alaric tapi mungkin Tuhan belum mengijinkan mereka berdua.
Satu persatu wahana mereka lalui, dengan berdu-. Ah, bertiga lebih tepatnya, tiada satupun dari kedua pria ini yang mau mengalah, dan Calista memilih untuk tetap diam dan diam sepanjang perjalanan. Entah sudah pergi kemana sifat cerewetnya semenjak ada dua pria yang bahkan lebih cerewet dibandingkan dengan dirinya sendiri. Iris mata gadis tersebut mengikuti pergerakan sesosok sahabatnya yang sedang berlari menghampiri dirinya dengan nafas yang tersenggal.
"Calista aku ada berita penting!"
"Peram-Peramal itu bilang kalau kita semua bakalan mati!”