Calista, Lucas, dan Alaric terbengong. Mereka berusaha mencerna perkataan yang baru saja di katakan oleh Kay.
Apa maksudnya dengan...
Mati?!
"MATI!" teriak mereka bertiga serampak.
Kay, dan Ken menganggukkan kepala mereka. Kedua remaja tersebut dapat menduga reaksi spontan orang-orang jika mendengar apa yang mereka katakan. Bahkan jika mereka sendiri yang mendengarnya, mungkin Kay akan langsung pingsan di tempat atau tidak percaya dengan ucapan yang tak jelas darimana asal usulnya hingga peramal tersebut dapat berasumsi kalau mereka bersembilan akan mati.
"Kay ceritakan bagaimana kejadian sebenarnya!" panik Calista. Dia mengguncang-guncang bahu Kay.
Kay membuang nafas panjang, "Jadi gini ceritanya.."
Flashback
"Kemana~ Kemana~ Kemana"
Lagu Ayu Ting Tong berjudul 'Alamat Lucifer' menjadi latar di festival saat ini.
Kay pusing dengan lagu tersebut, tapi lihat pria di sebelahnya! Dia bahkan menggoyang-goyangkan jarinya mengikuti irama lagu tersebut.
"Untung sayang, kalau gak dah ku buang ke tong sampah sambil pura-pura gak kenal," gumam Kay dengan nada suara sangat kecil.
Ken tetap menggerakkan jarinya, dan Kay mulai merasa sangat bosan. Dapat dilihatnya Calista memiliki nasib lebih buruk.
Gadis itu terjepit di antara dua pria yang saling berantem satu sama lain. Bahkan, Calista terlihat sangat pasrah dengan kondisinya.
"Kay itu apaan?" tanya Ken, sembari menunjuk ke arah sebuah rumah gelap dengan cat dan hiasan serba hitam.
Dirinya mendapat firasat sangat buruk, "Em, itu rumah hantu. Jangan ke sana tolong!"
"Tenang 'kan ada..." Kay menatap Ken penuh harap. Apakah sekarang pria itu akan peka terhadap perasaannya?
Senyum lebar mengembang di bibir Kay. Dia tak sabar dengan kelanjutan ucapan Ken.
"Kekuatan sihir. Kita 'kan bisa pake kekuatan sihir di sini," lanjutnya. Kalian sekarang dapat membayangkan betapa kecewanya Kay saat ini.
Dia merutuki nasibnya yang harus suka dengan seorang cowok tidak peka!
Kay membalik badannya, lalu menggigit bibirnya kesal, "Astaga! Kenapa ada cowok kayak gini di dunia! Musnahin aja deh ah!" kesalnya.
Ken memandang bingung punggung Kay. Gadis tersebut terlihat seperti butuh bantuan.
"Kay, kau butuh bantuan?" tanyanya.
Kay berbalik dengan wajah kesal, "Gilirang gini aja! Peka kamu!" ujarnya.
Ken semakin bingung dibuat Kay. Pria itu tidak tahu harus berbuat apa, "Jadi sekarang kita ke tempat itu?"
Kay berbalik dan menatap tajam Ken, "Iya! Kenapa? kau mau nanya kenapa aku berani sekarang? Soalnya 'kan aku punya kekuatan sihir!" ujarnya panjang lebar.
Ken tidak dapat berkata apapun, dia terbengong-bengong dengan ucapnya Kay barusan. Tak lama, pria itu tertawa tanpa suara.
"Astaga, dia itu memang lucu," gumam Ken kecil.
Kedua manusia itu duduk dengan canggung sembari menatap seorang kakek di depannya.
Ternyata mereka memasuki kios seorang peramal.
"Anak muda! Apa kalian ingin meramal soal percintaan? Sepertinya kalian sedang berkencan di sini," ucap kakek tersebut.
Kay tidak mampu menahan senyum bahagianya saat dianggap sedang berkencan. Ken? Dia mah biasa aja.
"Emm.. Kek, bisa anda ramal masa depan kami berdua, dan sahabat-sahabat kami," ucap Ken pada kakek tersebut.
Kay kecewa? Tentu saja. Namun, mau berharap apa dia dari seorang Ken yang gak pekanya tingkat langit ke seribu itu.
"Masa depan kalian?" tanyanya. Ken mengangguk.
"Coba saya lihat. Nama mereka adalah Calista, Cathabell, Hera, Alaric-" Kakek tersebut berhenti berucap.
"Alaric dia siapa? Banyak energi Surga keluar dari dia?" Ken mengerutkan keningnya, kemudian menggeleng tidak mengerti.
"Kalau begitu akan saya lanjutkan. -Petra, Undrew, dan yang terakhir Lucas," ucapnya. Ken, dan Kay cukup terkejut.
"Gini kek, Lucas bukan sahabat kita, dia pangeran Erlos," jelas Kay.
Kakek tersebut mengangguk, "Saya tahu, di masa depan dia akan menjadi sahabat kalian, dan salah satu korban bersama kalian," ucapnya.
Kay bergerak mundur sembari menggoyangkan lengan Ken, "Maksud Kakek korban?" tanyanya.
"Di masa depan kalian akan menghadapi kecelakaan maut yang sangat menyeramkan!" Kay berdiri sembari menarik Ken.
"Tapi ingatlah!" Kakek tersebut berteriak pada Ken dan Kay. "Kalian bisa merubah hal tersebut, dan semua itu tergantung pada pilihan kalian!"
Ken, dan Kay mengangguk, kemudian membuka tirai untuk pergi, sebelum kakek tersebut kembali bersuara.
"Ingatlah juga.." Kay menatap Kakek tersebut dengan serius. "Kalian belum bayar biaya ngeramalnya."
Kay kesal, dia segera mengeluarkan secarik uang rupiah dari dompetnya lalu meletakkannya pada meja kakek tersebut.
Kakek tersebut tersenyum sembari menggeleng-gelengkan kepalanya, "Mulai saat ini, pilihan kalian bersembilan adalah hal yang sangat penting," gumamnya.
Flashback end
Calista menggeleng tak percaya, "Apa mungkin ini ada hubungannya sama buku itu?"
"Tak tahu," sahut Kay.
Alaric, Lucas, dan Ken tidak mengerti dengan segala hal yang dibicarakan oleh kedua gadis di depan mereka ini.
Mereka bahkan tidak mengerti apa maksud dari buku itu.
"Emm.. Kalian lagi ngomongin apa sih?" tanya Ken.
"Bukan urusanmu!" ucap Calista, dan Kay serentak.
Ken segera melangkah mundur saat diteriaki oleh kedua gadis di depannya.
Lucas menepuk pundak Ken, memintanya bersabar.
"Sekarang kita butuh Cathabell, Hera, Petra, sama Undrew secepatnya!”