Suara peluit terdengar. Anak-anak mulai memukul bola mereka, dan saling berlawanan.
Di sisi lain, Bu Linda dan kelompoknya sedang menyusun rencana.
"Lawan dong! Kalian liat nih tangan! Hajar aja!" teriak Bu Linda memamerkan lengan berototnya.
Dan saat ini Calista, Cathabell, Hera, Kay, Ken, Alaric, Lucas, Undrew, dan Petra merasa speechless.
Batin mereka terus memikirkan hal yang sama.
'Perasaan kalau kita dengerin penjelasan Bu Linda sama sekali tak akan ada gunanya deh!'
Jika kalian bertanya mengapa mereka memiliki pemikiran seperti itu. Maka mari lihat Bu Linda yang sedang menjelaskan saat ini.
"Kalau lagi main pikir begini! 'Wah itu muka mantan datang tuh! Harus di hajar sampe habis biar tahu rasa!'" ujarnya semangat.
Dia menjelaskan menggunakan istilah mantan pada orang yang bahkan belum pernah berpacaran sama sekali. Sungguh menyakitkan untuk di dengar.
"Ibu mantannya emang ada berapa?" tanya Undrew bingung. Bu Linda menatap tajam wajah Undrew.
"Kau mau minta Ibu jontos juga?" tanyanya memamerkan lengannya. Undrew tersenyum kikuk dan menggeleng pelan, melihat respon atas pertanyaan tersebut mereka sudah dapat mengatakan kalau Bu Linda sendiri menggunakan istilah mntan tanpa mengerti maksud perkataannya.
"Yah, lagipula pria mana yang mau dengan Ibu Linda," ucap Calista asal ceplos yang langsung menerima cubitan di pahanya. Calista menatap kesal ke arah sang pelaku yaitu Hera, sementara Hera menggunakan raut wajahnya untuk meminta Calista melihat reaksi Bu Linda.
Calista membelalakkan matanya dan segera membekap mulutnya sendiri. Ia perlahan menoleh ke arah Bu Linda, dan benar saja. Wanita dewasa itu sudah memandanginya dengan melotot seakan-akan kedua bola matanya akan segera mencuat dari tempatnya.
Bunyi peluit permainan kembali terdengar dan entah mengapa Calista merasa sangat bersyukur karena bunyi tersebut datang tepat waktu dan membebaskan dirinya dari kematian yang nyaris saja mendekati dirinya. Wasit menoleh ke arah Bu Linda.
"Tim 13 waktunya bermain! Dua ronde wanita butuh lima orang!" ucapnya kencang.
Mereka kebingungan. Lima orang? Sedangkan di sini hanya ada empat orang. Apa yang terjadi.
"Saya ikut! Gini-gini saya masih sangat kuat tahu!" teriak Bu Linda mengangkat tangannya. Ia kembali memamerkan kedua lengan berototnya dan membuat pose-pose aneh yang sangat tidak jelas.
Hera memijat pelipisnya, Calista menutup matanya dengan salah satu telapak tangan, Cathabell memukul meja, dan Kay menganga.
"Jangan khawatir, tuh bola bakal habis di tangan Ibu!" ucapnya berbisik pelan.
=====
"Ronde pertama mulai!"
Bu Linda mengambil peran pertama untuk memulai permainan dengan memukul bola tersebut. Dan dengan sekuat tenaga ia memukul bola tersebut dan menghasilkan suara yang sangat kuat. Namun, semua orang memandang bingung karena bola tak kunjung jatuh, akhirnya mereka mengalihkan pandangan ke arah Bu Linda dan melihat sisa-sisa karet dari bola voli.
"Astaga Bu!" Cathabell, Hera, Calista, dan Kay terkaget saat bola yang seharusnya dipukul Bu Linda hancur seketika.
Alaric yang menyimak segera menjambak rambutnya kesal. "Cobaan macam apa ini!" keluhnya.
"Bu, bolanya dilempar, bukan di cabik-cabik yah..." Kay membuang nafas lega. Untung saja wasitnya sabar.
"Bu Linda tak tahu cara bermain voli?" tanya Hera berbisik pada Cathabell. Cathabell cepat-cepat menggelengkan kepalanya.
"Ibu bisa denger!" Hera menutup mulutnya rapat-rapat. Bu Linda saat ini menatap tajam ke arahnya.
Permainan tetap di lanjutkan seperti sebagaimana seharusnya, dan Bu Linda, entah apa yang harus dilakukan pada wanita dewasa satu itu.
"Ganti bola keseratus! Aku tuh sabar!" teriak sang wasit saat bola yang kesembilan puluh sembilan kembali di robek oleh Bu Linda.
Bertepatan juga lagu latar permainan di ganti menjadi 'Apa salah dan dosa ku sayang'
Wasit tersebut seketika membanting topi yang dikenakan nya. "Aku sudah cukup sabar atuh.. Ngadepin nih emak satu!" ujarnya kesal.
Bu Linda cepat-cepat menatap ke arah Wasit tersebut, logat bicaranya seketika ikut berubah. "Eh! Siapa yang barusan bilang wanita dewasa anggun nan indah inj adalah seorang emak-emak?"
"Hah! Anggun dilihat dari ujung sedotan kali. Lagi pula memang emak-emak! Lagian masa bola voli bukannya dipukul malah di sobek kayak begitu sih!" marahnya.
"Dih suka-suka aku dong mau di robek atau lempar!"
"Yah iya tapi itu bola voli mbak!"
"Mbak?" Senyum lebar merekah di bibir Bu Linda.
"Asik aku di bilang mbak!" ujarnya dan pergi meninggalkan arena begitu saja.
"Lah? Ini lombanya gimana dong?" Calista tak berkedip melihat Bu Linda yang pergi begitu saja saat dipanggil mbak.
"Astaga! Pria diperbolehkan masuk satu orang saja, dan hal ini berlaku untuk semua tim!" teriak Wasit yang tak habis pikir.
Lucas berlari masuk. Namun, tangganya di pegangan erat oleh Alaric. "Mau kemana?" tanyanya.
"Mau ikut main!" sahutnya.
"Gak boleh! Aku duluan!"
"Mau barengan Calista ngaku aja!"
"Kayak kau tidak saja!"
Undrew memegang bahu kedua pria tersebut. "Kalau gitu jalur tengah yah kawan-kawan," ujarnya.
Alaric dan Lucas menatap bingung Undrew. "Jalur tengah?"
Undrew tersenyum dan mengangguk. Dengan senyum bangga dia masuk ke dalam arena dan berdiri di sebelah Cathabell.
"Jalur tengahnya, biar aku yang masuk!" ucapnya.
Alaric dan Lucas menatap kesal Undrew. Mereka masuk ke dalam arena lalu melempar Undrew sejauh mungkin dari arena.
Lalu mereka berdua saling bertatapan muka. "Ngapain kau masih di sini?" tanya Alaric dingin.
"Lah justru sekarang aku yang nanya kamu!"
"Sudah beres." Petra menepuk-nepuk tangannya yang kotor setelah melempar Alaric dan Lucas keluar.
"Yah, sepertinya memang tim tiga belas tidak ada orang normal, setelah kejadian guru gila. Sekarang murid-muridnya bermain lempar-lemparan," ucap sang wasit.
Ken yang masih duduk di meja tim tiga belas hanya dapat menutup muka, dia malu dengan tingkah sahabatnya yang gak normal. Ditambah lagi, dia malu menjadi anggota kelompok 13. Dari batinnya pria bersurai hitam ini berharap kalau saja ada kelompok yang lebih normal mau mengadopsinya sebagai anggota
"Pemain pria silahkan berganti baju terlebih dahulu." Petra menatap bingung wasit.
Tak lama, dia diberikan sebuah kantong belanjaan.
"Pria yang ikut bermain harap berganti pakaian perempuan!" jelas wasit.
Oke, saat ini Petra menatap Alaric, Lucas, Undrew, dan Ken. Mereka berempat pura-pura tak tahu apa-apa sembari cekikikan pelan.
"Entah kenapa aku menyesal sudah lempar si Alaric sama Lucas.”