"Dua ronde! Tim 13 kalah!" Sang wasit berteriak sambil meniup peluitnya.
Tim 13 kalah saat Alaric, dan Lucas bukannya sibuk bermain malah bertengkar satu sama lain. Petra melempar salah satu high heels nya ke arah Alaric, dan satu lagi untuk Lucas.
"Nyesal aku main ini!" teriaknya kesal.
"Sudah semua jangan ada yang berteman! Lebih baik kita bertengkar aja!" ujar Undrew yang segera mendapat pukulan kepala dari Ken.
"Semua perkataanmu ke balik tahu!" keluhnya.
Undrew terkekeh pelan.
=====
Hera memberikan handuk ke arah Petra, lalu dia menatap pakaian Petra dari ujung kaki hingga kepala.
"Kau kok jauh lebih cantik dari aku yah?" tanyanya.
Petra menyemburkan semua air yang diminumnya. Dirinya kaget mendengar pernyataan dari Hera.
"Astaga, nggak kok. kau jau-!"
"Hah apa?" Petra tersenyum kikuk, kemudian menggaruk kepalanya yang sama sekali tidak gatal.
Dia menggeleng pelan, lalu beralih ke meja untuk mengganti pakaiannya yang sangat 'Manis' ini.
====_
"Cathabell! Apa tadi kau menyaksikan seluruh permainan ku tadi?" tanya Undrew yang berlari ke arah Cathabell.
Cathabell membuang muka malas menghadapi pria di depannya ini. Kenapa dirinya terlihat kesal? Tentu saja, saat tim mereka sedang bermain voli. Lagi-lagi cowok di depannya ini bukannya membantu bermain di dalam arena, dia malah bersorak, dan hampir tidak pernah memukul sama sekali.
"Permainan macam apa itu? Kau memangnya anggota dari tim pemandu sorak?" tanya Cathabell.
"Pemandu sorak? Berarti aku harusnya tukeran baju sama si Petra dong!" sahut Undrew spontan saat mendengar Cathabell menyahuti pertanyaannya dan tidak mengacuhkan dirinya begitu saja.
Dan timing yang pas, Petra berjalan melalu sepasang manusia tersebut dan mendengan ucapan Undrew yang mengundang dirinya untuk melempar benda yang telah membuat Hera malah merasa iri dengan kecantikannya dan bukan semakin terpukau pada dirinya.
"Benar! Ambil saja tuh baju terus pake sana buat nyorakin tim lain," ucap Petra yang tiba-tiba lewat dan melemparkan sekantung pelastik besar berisi pakaian perempuan lengkap dengan rambut panjang berwarna pink untuk Undrew.
Cathabell menahan tawanya saat melihat ekspresi bengong Undrew.
"Lah tapi Pet, tapi aku tidak beneran niat buat pakai kayak beginian."
=====
Mari sekarang kita beralih pada Ken dan Kay. Kira-kira apa yang mereka lakukan saat ini.
Kay mengintip Ken dari sebuah dinding. Maniknya memperhatikan Ken terus menerus.
Ken mengacak rambutnya yang basah oleh keringat lalu melap keringat tersebut dengan sebuah handuk putih.
"Aataga so hot! Ganteng banget gila! Lama-lama bisa mati mimisan aku," gumam Kay pelan. Dia benar-benar tidak dapat mengalihkan pandangannya dari Ken.
"Lah, Kay ngapain di situ?" Kay buru-buru berbalik dan bersembunyi di belakang pintu. Gadis tersebut lupa pada rambutnya yang masih terlihat.
"Aku ngeliat rambutmu loh!" Kay menghela nafas panjang lalu dengan penuh terpaksa gadis tersebut membalikkan badannya.
Dia tersenyum miring pada pria di depannya sembari terkekeh kecil.
"Kay muka mu kok merah?" Oke, saat ini Kay kesal minta ampun. Berapa kali ken melihat mukanya merah dan masih tidak mengerti yang sebenarnya.
"Emm.. Apa penyakit?"
Bagaikan sebuah baja seberat lima ribu ton yang menghatam kepala Kay. Gadis tersebut saat ini benar-benar tidak dapat berpikir apapun.
Penyakit? Lagi? Setelah dugaan penyakit dari Ken sebelumnya yang menghilang, sekarang dirinya harus dihadapi oleh kata-kata penyakit lagi?
Gadis tersebut membungkukan badannya. Dia lelah, jika terus seperti ini mungkin dirinya akan terkena penyakit beneran.
"Anggap saja begitu deh." Ken panik dan berlari memegangi kedua lengan Kay dengan erat. Dia menatap mata Kay.
"Beneran?" Kay menyerah! Di saat seperti ini maka Ken akan segera peka, sedangkan di saat-saat penting pria tersebut tidak dapat peka.
Mengapa cobaan dari Tuhan sangat berat? Hingga-hingga gadis tersebut harus menghadapi pria polos ini.
"Iya begitu, jadi sekarang aku pergi dulu ya," ujar Kay yang kemudian berlalu pergi begitu saja.
=====
Calista menatap nanar pada kedua pria di depannya. Sedang apa mereka? Dirinya pun tidak tahu. Sudah puluhan menit mereka berdiri di depan Calista sambil berada mulut dan tidak tahu siapa yang akan memenangkan lomba adu mulut ini.
"Lomba selanjutnya perahu 'kan? kalau begitu Calista harus duduk di sampingku!" bentak Lucas secara sepihak.
"Ish, tidak akan kubiarkan orang seperti kau duduk di samping Calista! Nanti dia ketularan virus dari kau lagi," balas Alaric.
"Eh, aku pangeran tertampan sepanjang sejarah negara Erlos. Jadi, tidak mungkin di istana ada virus!"
"Virus sok-sokan!"
Calista menutup kupingnya dan diam-diam keluar dari percakapan kedua pria tersebut. Sebelum gendang telinganya harus pech oleh adu mulut memperebutkan kursi yang akan di duduki dirinya sendiri. Padahal yang akan duduk adalah Calista, tapi malah mereka yang menentukan Calista harus duduk di mana.
Dia lebih memilih pergi untuk mengambil pelampung untuk lomba selanjutnya, dibandingkan mengurus pria-pria gak jelas ini.
"Her, kau sudah membawa pelampungnya?" tanya Calista saat menjumpai Hera.
"Sudah, perahunya juga sudah di pilih. Jadi nanti tinggal naik aja, pengecekan keamanan perahu juga sudah kulakukan barusan, jadi semua aman terkendali. Ini buku prosedurnya," sahutnya.
Calista menganggukkan kepalanya dan meraih buku prosedur kapal yang diberikan oleh Hera, sembari membaca, gadis tersebut berkata, "jalurnya bagaimana sih?" tanyanya lagi.
Hera menggeleng pelan, setelah itu dia berbisik ke arah Calista. "Katanya jalurnya itu sempat dilarang istana kerajaan loh," bisiknya.
"Yakin? Tidak bahaya tuh?" Hera menggelengkan kepalanya lalu mengedikkan bahunya.
"Tim 13 segera berkumpul untuk lomba selanjutnya yang akan dimulai lima menit lagi!"