Fenz bangkit dan berusaha melupakan rasa sakit yang baru saja dia rasakan setelah mendapat pukulan dari Darlz Ildar, lalu berlari ke arah tempat jatuhnya musket, mengambil weapon itu kemudian menembakkan beberapa peluru dari musket-nya ke arah monster-monster kristal. Sebelum menembakan peluru, Fenz telah mengaktifkan sihir light dan mengalirkannya pada musket, berharap itu akan bekerja pada monster kristal yang baru muncul itu.
Usaha Fenz berhasil, peluru yang dia tembakan berhasil melubangi perisai yang melekat pada tangan monster kristal itu, kemudian menerobos hingga mengenai tubuh monster sasarannya. Monster kristal itu berhenti sejenak setelah tubuhnya tertembus peluru light Fenz, lalu tiba-tiba bergerak kembali dan kristal hitam bermunculan dari dalam tubuhnya, membuat lapisan kristal terlihat menonjol dan menutupi lubang.
Fenz sejenak memandang, mulutnya menganga, kemudian dia menggerutu. “s**l!” Sejenak dia berpikir usahanya telah berhasil, namun hal sebaliknya yang terjadi. “Kalau begitu, satu-satunya kelemahan mereka adalah kristal merah itu.” Gumamnya dalam hati.
Fenz berlari lalu melompat ke dalam kerumunan monster yang sedang mengepung Itasuke. Lalu dia berkata dengan suara seperti berbisik pada Itasuke. “Sepertinya, titik kelemhan mereka hanya kristal merah itu.” Fenz menunjuk kristal merah yang berada di tubuh monster kristal yang letaknya berbeda satu dengan yang lainnya. “Kita harus menghancurkan kristal merah itu, kalau tidak…”
Fenz tidak sempat menyelesaikan perkataannya, tiba-tiba monster kristal yang pada tanggannya terpasang kristal besar dan terdapat rantai sebagai penghubung antara tangan dan kristal lainnya. Monster itu nyaris mengenai Fenz, jika Itasuke tidak menangkis lemparan kristal besar itu dengan pedangnya.
“s**l… mereka tidak membiarkan kita menyusun strategi.” Itasuke menggerutu, tangannya masih menggenggam pedang yang tersangkut pada rantai monster kristal itu. Itasuke menghempaskan pedangnya, berusaha melepaskan rantai yang melilit pedang ttu. “Kristal merah ya, ayo kita hancurkan mereka!” Itasuke berteriak, lalu melompat tinggi sambil menebaskan pedang yang telah dialiri sihir listrik biru. Terlihat percikan cahaya biru ketika pedangnya bergesekan dengan tubuh monster.
Melihat Fenz dan Itasuke mulai memberi perlawanan, Miyuki yang berada di belakang mereka mengulurkan tangannya ke depan, lalu membuat perisai es yang melindungi keduanya. Melihat partikel es muncul dan melindunginya, Itasuke merasa lega Miyuki ada di timnya, dia menoleh ke arah Miyuki berdiri, lalu ujung bibirnya membentuk senyuman tipis. Wanita itu adalah pertahanan terkuat yang dimiliki mereka.
Senyum yang diberikan Itasuke, memberi semangat kepada Miyuki. Sambil mempertahankan perisai es yang melindunginya dan anggota tim lain, dia megeluarkan sihir es untuk melawan monster kristal yang mengepung mereka. Tangannya bercahaya putih terang, lalu di atas monster kristal muncul partikel es yang kemudian berubah menjadi jarum es dalam jumlah tak terhitung yang terus menghujani monster kristal, membuat tubuh monster-monster itu bergetar hebat saat jarum-jarum es mengenai mereka. Lalu Miyuki mengeluarkan sihir es yang menahan kaki monster-monster itu, membuatnya tidak dapat bergerak.
Memanfaatkan keadaan itu, Kien dan Fressia ikut menyerang dengan weapon mereka, membuat retakan kecil pada tubuh monster kristal hitam itu. “Yosh… akhirnya tembakan grenade launcher-ku dapat membuat retakan pada tubuh monster itu,” gumam Kien puas.
Sedangkan Taurus, pria bertubuh ramping itu melompat tinggi, lalu menembakkan peluru dengan sihir listrik biru sambil melayang di udara, tubuh rampingnya membuat dia begitu lincah saat menembakan sepasang machine g*n ke arah monster-monster yang mengepung mereka. Beberapa peluru mengenai kristal merah, membuat monster kristal itu terdiam lalu berubah menjadi kepingan cahaya hitam.
Melihat Taurus berhasil mengalahkan beberapa monster kristal, wanita dengan part mecha dengan rambut cokelat yang hanya telihat sedikit karena tertutupi part mecha, wanita itu menembakan peluru aneh ke arah monster kristal itu. Peluru itu membentuk partikel berwarna merah, setelah peluru itu mengenai tubuh monster, tidak ada yang terjadi, monster itu tetap bergerak tanpa menunjukan kerusakan apapun. Lalu wanita itu menembakan peluru ke tempat yang sama namun dengan peluru yang berbeda. Seketika kerumunan monster berubah menjadi kepingan cahaya, ketika partikel merah itu menyebar lalu membuat ledakan beruntun dan menghabiskan setengah dari jumlah monster-monster itu.
Fenz dan Itasuke menoleh ke arah wanita itu, diikuti Taurus, Miyuki, Kien, dan juga wanita berambut merah Fressia, mereka terkejut dia mengeluarkan peluru dengan partikel merah itu. Selama mereka mengenal wanita itu, mereka belum pernah melihat dia menggunakannya. Wanita dengan part mecha tersenyum sambil memegang kepalanya dengan salah satu tangan, lalu kembali dalam posisi siap bertempur.
“Apa itu tadi? Aku belum pernah melihat ada Arz yang menggunakan rifle seperti itu?” tanya Fenz sambil membalikan tubuhnya menghadap Darlz Ildar yang telah mengapung di udara, memperhatikan mereka dari atas.
Itasuke menggelengkan kepalanya, “Aku sebagai kapten timnya, baru pertama kali melihat dia menggunakan itu. Sepertinya itu kekuatan barunya.”
Fenz menghela napas lalu dia mengejek Itasuke, “Habisnya yang selalu kau perhatikan hanya Miyuki kan.”
Itasuke sedikit terkejut kata-kata itu keluar dari Fenz dalam situasi mendesak seperti sekarang ini. “Kau ini… tentu saja aku memperhatikannya, dia itu adik perempuanku!”
“Tapi… kau tahu… kalian berdua tidak cocok menjadi kakak adik, kalian terlalu dekat. Mungkin orang yang belum mengenal kalian akan mengira kalau kalian adalah sepasang kekasih.”
“Sudahlah… ayo kita bereskan dulu makluk itu,” ujar Itasuke sedikit kesal, tangannya yang masih menggenggam pedang, menunjuk pada Dalrz Ildar.
“Yah… yah… sedikit peregangan akan lebih baik daripada terlalu serius. Kau tahu Itasuke… saat ini wajahmu seperti kakek-kakek tua.” Fenz sedikit terkekeh saat mengucapkan kalimat terakhirnya. Lalu dia berhenti mengejek Itasuke dan membalikan sebagian tubuhnya menghadap Darlz Ildar.
Wajah tenang Itasuke berubah, menunjukan sedikit rasa kesal, dia menggenggam pedangnya dengan kuat, dahinya menunjukkan urat yang sedikit menonjol di permukaan kulitnya yang sangat putih pucat. “Lihat saja nanti… aku akan menantangmu duel setelah misi ini, Fenz…!” Suaranya sedikit meninggi saat dia menyebut nama orang yang mengejeknya itu.
Monster-monster kristal telah berkurang, tersisa setengah dari saat mereka keluar melalui lubang spiral hitam. Peluru dengan partikel merah itu berhasil melenyapkan monster-monster itu. Tetapi menghadapi setengahnya lagi adalah perkerjaan yang cukup berat. Mengingat tubuh kristal monster itu sangat kuat dan tidak dapat ditembus dengan serangan fisik biasa.
Wanita dengan part mecha telah siap menembakan peluru dengan partikel merah lagi, dia berjalan beberapa langkah ke depan lalu membidik kristal merah kecil yang ada di tubuh salah satu monster. Saat dia mencoba pertama kali, itu terjadi begitu mudah, tetapi saat ini mata teman-temannya tertuju padanya dan mereka menggantungkan harapan padanya. Hal itu membuatnya sedikit gugup. Tangannya bergetar saat dia membidik musuhnya.
Wanita itu menarik napas panjang dan menurunkan rifle-nya sejenak, berusaha menghilangkan rasa gugup yang menyiksanya. Lalu dia memantapkan hatinya dan kembali mengarahkan rifle pada sasarannya. Terdengar bunyi berdesing saat dia menembakan peluru partkel merah itu dan tepat mengenai kristal merah yang dibidiknya. Dengan cepat wanita itu menembakan peluru kedua dan mengenai partikel merah, seketika partikel merah itu menyebar dan membuat monster-monster yang mengepung mereka meledak, berubah menjadi kepingan cahaya hitam.
Fenz dan Itasuke yang berada di depan, di dekat Darlz ildar, keduanya merasa lega karena monster-monster yang berhadapan dengan mereka tadi telah lenyap.
Saat mereka semua sibuk melawan monster-monster kristal, tanpa disadari Darlz Ildar telah terangkat ke udara beberapa meter sambil melebarkan tangannya, kini pedang kristalnya telah menghilang, kemungkinan pedang itu kembali diserap olehnya. Lalu dia menyerap seluruh energy negative yang ada di sekitarnya, dan terbang mendekati pohon besar yang bercahaya ungu di belakang monolit.
“Apa yang dia lakukan?”
“Entahlah… yang pasti kita harus menghentikannya,” kata Fenz sambil membidik kristal merah di dahi Darlz Ildar. Namun usahanya gagal karena Darlz Ildar bergerak cepat, terbang melesat ke arah pohon yang bersinar semakin terang.
“s**l! Kita harus mengejarnya!”
Fenz berlari kencang, lalu melompati monolit dan memompa kekuatan dengan kakinya yang berpijak pada monolit, memberikan beberapa tebasan pada punggung Darlz Ildar.
Itasuke mengalirkan sihir listrik biru pada pedangnya, lalu dia melakukan seperti yang dilakukan Fenz, sambil melompat tinggi dia menebaskan pedangnya dan menciptakan percikan listrik biru yang meluncur dengan cepat. Usahanya berhasil, tubuh Darlz Ildar diselimuti aliran listrik yang membuatnya berhenti bergerak.
Tanpa membuang waktu, Taurus memafaatkan kesempatan itu, dia melompat dan menembakan peluru dari machine g*n-nya, peluru yang telah dialiri listrik biru itu berhasil mengenai Darlz Ildar dan membuatnya terjatuh ke tanah.
“Bagus… ayo… Itasuke… kita habisi dia sekarang!” teriak Fenz sambil berlari dan menghunuskan pedang yang terpasang pada musket-nya.
Darlz Ildar yang tak bisa bergerak karena pengaruh sihir listrik dari Itasuke dan Taurus, hanya bisa diam menerima serangan dari Fenz. Kristal merah di dahinya berhasil terkena pedang Fenz, namun dia tertawa, “Apa kau mengira kristal di dahiku ini, sama dengan kristal yang ada pada anak-anakku tadi? Itu adalah sebuah kebodohan jika kalian mengira dapat mengalahkanku dengan menghancurkan kristal merah ini.”
Darlz Ildar menghantamkan tinjunya pada Fenz yang terdiam berdiri di depannya. Tubuh Fenz terpental beberapa meter, dan dia mengerang kesakitan. Pukulan itu mengenai perutnya yang sebelumnya telah terkena pukulan Darlz Ildar, membuat Fenz meringkuk di tanah. Tubuhnya tidak bisa bergerak, rasa sakit yang luar biasa menjalar dari perutnya lalu ke seluruh tubuh.
Setelah memberi pukulan pada Fenz, Darlz Ildar terbang melesat ke arah pohon besar yang ada di belakang monolit, mengabaikan mereka. Itasuke menebaskan pedang yang telah dialiri sihir listrik, namun serangan itu berhasil dihindari Darlz Ildar dengan mudahnya. Ada tujuan yang lebih besar baginya, yaitu menghancurkan armada Uricle, menghadapi para Arz di hadapannya hanya akan mengulur waktu. Kemudian dia masuk dan menyatu dengan pohon itu. Aura gelap yang kuat keluar dari pohon itu, memancarkan cahaya merah kehitaman dari bagian bawah pohon hingga bagian atas yang telah menembus awas, membuat getaran hebat yang menghancurkan tanah di sekitar pohon itu.
Fenz terjatuh kedalam lubang besar yang dihasilkan dari getaran hebat yang ditimbulkan aura gelap pohon dan Darlz Ildar. Miyuki berusaha meraih tubuh Fenz, tetapi tanah yang dipijaknya bergetar, membuat dirinya linglung, batu-batu yang berjatuhan menghantam tubuh Fenz berkali-kali, membuatnya terjun bebas ke dalam lubang besar.
“Fenz…” Itasuke mencoba melompat turun ke dalam lubang, namun Miyuki menghalanginya. Miyuki menarik jubah Itasuke, saat kakaknya itu hampir terjatuh ke dalam lubang. Tangan Itasuke terjulur ke arah Fenz yang kini sudah tak terlihat.
“Kakak… kita harus menjauh dari tempat ini. Sebentar lagi tempat ini mungkin akan hancur,” kata Miyuki sambil memegangi Itasuke yang berlutut di tanah dan matanya masih menatap pada lubang besar yang menelan Fenz.
“Tapi…”
“Pekerjaan ini memiliki resiko, kehilangan seorang adalah salah satunya. Maaf…aku tidak sempat membuat perisai es untuknya saat dia terjatuh tadi. Tapi… ini adalah bagian dari takdir yang tidak bis akita hindari.”
Kata-kata Miyuki terdengar kejam di telinga Itasuke, tetapi yang dikatakan adiknya itu benar. Itasuke bangkit lalu berlari menjauh dari area monumen penyegelan bersama dengan kelima anggota timnya yang ternyata sudah menunggunya di jalan batu yang mengapung di danau.
Aura gelap semakin kuat memancar dari pohon itu, lalu dari balik cahaya merah kehitaman muncul sosok mengerikan yang selalu mereka takuti. Kekuatan Darlz Ildar telah bangkit secara sempurna, berubah menjadi monster kristal raksasa yang mengerikan.