Lunar baru saja hendak keluar dari lapisan atmosfer bersama Eucli dan Ava, saat suara ledakan terdengar dari bawah, dari tempat Fenz dan Darlz Ildar berada. Suara keras itu menakutkan, angin kencang menerpa nemesis yang mereka gunakan. Mereka terhenti sejenak dan berbalik untuk melihat yang sedang terjadi.
Lunar menatap ke sumber ledakan dan terpaku, lumpuh oleh rasa takut. Dia bisa melihat aura gelap yang terus mengalir dari tempat ledakan berasal, membumbung tinggi menyibak awan yang sebelumnya berwarna ungu karena terkena cahaya dari pohon yang kini telah berubah, membentuk jalan untuk aura gelap itu.
Lunar tidak memedulikan debar jantungnya, atau punya waktu untuk memikirkan apa yang mungkin telah menyebabkan ledakan itu. satu-satunya yang dia pikirkan adalah Fenz, yang kini terpisah dari mereka. Lunar kesal pada dirinya sendiri telah mengikuti permintaan Fenz untuk pergi dan meninggalkannya sendirian, berhadapan dengan makhluk mengerikan.
Dia khawatir dengan Fenz, tetapi instingnya mengatakan bahwa tak mengapa tetap bersama Eucli dan Ava kembali ke kapal induk. Dia yakin Fenz tidak mungkin bisa dikalahkan dengan mudah dan akan mampu melindungi dirinya. Namun, bagaimana jika hal sebaliknya yang terjadi.
Lunar bimbang, lalu tanpa melihat ke arah Eucli dan Ava dia berencana terbang kembali ke tempat Fenz dan sumber ledakan itu.dia Saat dia berbalik dan memacu nemesis-nya, dia terhenti ketika melihat sebuah makhluk raksasa muncul dari balik ledakan.
“Aura apa itu? Apakah itu yang ditakutkan oleh para dewan penjaga? Mungkinkah itu kekuatan sesungguhnya Darlz Ildar?” Lunar bertanya-tanya dalam hatinya, dia ingin sekali memastikaan keadaan Fenz. Namun Eucli menghentikannya.
“Lunar… apa yang ingin kau lakukan? Bukankah Fenz meminta kita untuk segera kembali ke armada?”
Eucli sendiri sesungguhnya lebih cemas dari Lunar, tetapi dia ingin memercayai Fenz, bahwa dia akan baik-baik saja, dan mungkin dewan penjaga yang masih berada di planet itu telah membantunya. Tetapi pikiran buruk kembali merasuki pikirannya. Dia menghubungi Fenz melalui Uricle device, tetapi tidak ada respon. Eucli kembali menghubunginya, meneriakan namanya, tetapi tetap tidak ada jawaban dari Fenz. “F-Fenz… F-Fenz…!”
Rasa cemas menyelimuti hatinya saat mengetahui dia tidak bisa menghubungi Fenz melalui Uricle device. Dia terus menerus memeriksa Uricle device, mengaktifkan lalu menonaktifkannya kembali, melihat profil Fenz yang ada di papan hologram. Kekhawatirannya meninggkat saat aura gelap semakin kuat menghisap isi planet itu, menciptakan lubang raksasa yang terlihat dari langit. Bebatuan dan juga pohon-pohon ikut terhisap oleh aura gelap itu.
Aura gelap itu terus mengalir hingga menembus atmosfer planet, membentuk tangan raksasa yang dilapisi kristal hitam, terus membesar dan menghisap energy negative dan juga monster Darlz yang ada di sana, lalu menghisap material yang tersimpan di planet Orla hingga membentuk monster kristal raksasa secara sempurna.
Aura gelap membuat angin bertiup semakin kencang, berbarengan dengan monster kristal yang kini telah terbentuk sempurna. Berbentuk mengerucut seperti pyramid raksasa, dilapisi kristal hitam di seluruh tubuhnya memiliki banyak mata yang membentang di kedua sisi kepalanya, dan di sekitar inti merah di tengahnya. Dia memiliki banyak celah di tubuhnya di mana energi merah menyala dapat dilihat. Dia memiliki kristal hitam besar yang menempel dan menonjol di punggungnya, membentuk sayap ungu besar, serta sepuluh lengan. Setiap lengan memiliki area merah yang menyala dan bergerak-gerak seperti darah yang mengalir pada nadi berada di bawah pergelangan tangan serta inti merah menyala di setiap telapak tangan. Dua lengan terendahnya menangkup, menjaga kristal berwarna merah di dadanya.
Menyaksikan hal itu membuat seuruh tubuh Lunar gemetar karena takut seolah baru saja terjun ke air es. "Lalu... Apa yang mereka lakukan ini benar? Apa yang terjadi disana? Kita harus kembali dan mencari Fenz,” teriak Lunar.
Eucli masih terguncang melihat kejadian itu, dia hanya menatap kosong pada makhluk yang berada di hadapan mereka. Pikirannya melayang dan sedikit linglung, memikirkan Fenz, sekilas memorinya yang sebagian besar tentang pria itu.
Kepingan memori berputar di kepalanya, Eucli mengingat saat dirinya dan Fenz masih sebagai Arz trainee. Fenz berbalik, mengambil setengah langkah, dan mengulurkan tangannya ke kepala Eucli. Eucli terkejut, lalu menutup matanya. Ada sensasi lembut saat Fenz membelai rambutnya, dia dengan perasaan takut mengangkat kepalanya. Matanya tampak siap untuk mengeluarkan air mata kapan saja.
“Sudah ku bilang saat kita masih trainee, ingat? Kau selalu memarahiku, karena aku tidak bisa. Kau selalu menyelamatkanku… Jadi jangan minta maaf. Ada kata-kata lain yang bisa kau ucapkan untuk situasi ini.”
Eucli masih mengingat dengan jelas kejadian itu dan juga kata-kata Fenz, saat dirinya dan Fenz baru saling mengenal hingga keduanya tanpa disadari semakin dekat. Semuanya berputar-putar membuatnya semakin gila. Eucli melupakan Melfon yang sedang dirawatnya, cairan merah segar kembali keluar dari luka di perut Melfon, membasahi ruang kecil di palka pod nemesis-nya. Eucli mengubah mode nemesis dari auto pilot dan kini dia meninggalkan Melfon dan kembali mengemudikan nemesis. Sejenak dia terdiam, membayangkan sesuatu yang buruk mungkin menimpa Fenz.
Lalu Eucli memacu nemesis turun mendekati lubang raksasa yang sebelumnya adalah monument penyegelan Darlz. Namun Lunar dan Ava menghadangnya di depan.
“Sadarkan dirimu, Eucli… Kau mungkin akan membahayakan dirimu sendiri dengan kembali kesana.”
“Lunar benar, bukankah Fenz menyuruh kita untuk segera menjauh dan keluar dari planet ini. Aku yakin, Fenz pasti punya rencana. Kita harus percaya padanya,” kata Ava sambil memegang tangan nemesis Eucli.
Kata-kata Lunar dan Ava mengembalikan kesadaran Eucli, dan juga kepercayaannya pada Fenz. Dia telah lama mengenal pria itu, dan belum pernah mendapati Fenz terluka parah ketika mereka bertarung bersama. Bahkan saat penyerbuan Darlz sepuluh bulan lalu di kapal pemukiman, Fenz juga yang melindunginya. Kemudian Eucli menduga bahwa sinyal Uricle device milik Fenz terganggu karena ledakan besar tadi.
Hal itu menguatkan Eucli, membuatnya kembali percaya diri. Lalu dia kembali merawat Melfon yang sempat dia tinggalkan karena memegang tuas kemudi nemesis, Eucli mengembalikan nemesis pada mode auto pilot lalu menjadikan kapal medis sebagai tujuannya. Dia tidak bisa membuang waktu dan membiarkan mereka menjadi mangsa Darlz Ildar yang telah berubah menjadi bentuk sempurna.
Saat Eucli mendekati Melfon, dia terkejut. Rasa bersalah seketika merasukinya. Dirinya begitu takut untuk menyentuh Melfon, hanya dengan melihatnya dia dapat mengetahui sesuatu yang mengerikan telah terjadi pada Melfon. Eucli menyalurkan sihir pengobatan untuk menutup luka di perut Melfon, dengan harapan nyawa temannya bisa diselamatkan. Tetapi sekuat apapun dia mencoba, kenyataan bahwa dia telah gagal menyelamatkan temannya membuat Eucli sangat frustasi.
Dia menyalahkan dirinya sendiri karena terlalu terbawa emosi saat mengkhawatirkan Fenz. Eucli hanya bisa memanggil namanya tanpa bisa di dengar oleh Melfon dan mengguncang-guncangkan tubuhnya meski itu adalah hal sia-sia. “M-Melfon…!” Sekali lagi dia kehilangan temannya.
***
Di tempat lain, seorang pria dengan pakaian putih laboratorium, tidak ada perubahan dari dirinya, rambutnya tetap sama, begitu rapih dan terlihat berkilau saat cahaya dari lampu putih di atas kepalanya menyinari rambut kelimisnya. Pria itu tersenyum licik, melihat kebangkitan Darlz Ildar dari papan hologram di hadapannya. Kemudian dia bersandar pada kursi dan meletakan salah satu tangan pada pegangan kursi dan memegang dagunya dengan perasaan puas.
“Ah… Shein… Kau bisa mendengarnya, bukan? Akan suara langkah kakiku yang semakin mendekatimu.”
***
Sementara itu di kapal induk Uricle, papan hologram yang awalnya memancarkan cahaya biru, berubah menjadi merah dan bunyi sirine penanda bahaya membuat semua orang yang berada di ruangan itu panik. Beberapa operator kapal terlihat menekan tombol-tombol yang ada di depan mereka, memastikan keadaan dan mengecek map luar angkasa.
Rez memasuki ruang komando dengan tergesa-gesa, lalu dia meminta seorang operator menjelaskan keadaan saat ini.
“Katanya ada objek raksasa? Apa sudah dikonfirmasi berasal dari Planet Orla?”
“Ya! Ukurannya sekitar 1500km! Diperkirakan bermassa 3.5 yottagram. Dan yang paling mengkhawatirkan, arahnya lurus menuju pangkalan kita,” kata seorang pria yang duduk di kursi paling depan di ruangan itu, tangannya sibuk menekan tombol-tombol di mejanya, sedangkan pandangannya tidak berpindah sedikitpun, memandang papan hologram yang kini memunculkan tulisan Emergency.
“Objek yang mendekat menunjukkan konsentrasi energi negatif Darlz yang luar biasa. Aku akan mulai mencari dalam database Arz.” Operator kapal yang lain, membantu menjelaskan kepada dewan penjaga nomor satu itu. Lalu dengan wajah yang terkejut, operator itu mengatakan dengan terbata-bata yang dia dapatkan dari database Arz. “Ini… ini… kan! Dia adalah Darlz… Ildar…”
Rez seperti sudah mengetahuinya, dengan tenang dia memberi perintah kepada seluruh Arz. “Berlakukan protokol darurat antisipasi Darlz. Anggota dewan penjaga nomor satu, Rez memberi perintah. Musnahkan Darlz Ildar dengan segala cara!”
“Baik!”
Sambil secara bertahap meningkatkan output energi generator utama dari level normal ke level pertempuran. Operator kapal induk mengaktifkan meriam laser tingkat satu, kemudian ditembakkan secara berurutan dan dengan mudah mengenai Darlz Ildar yang semakin mendekat, menyebabkan serangkaian ledakan di tubuhnya yang dilapisi kristal.
Rez berdiri tegang menatap papan hologram di depannya menampilkan tulisan Emergency. Sedangkan papan hologram di sebelah papan itu menampilkan map luar angkasa, terlihat titik-titik biru dan titik-titik merah, membentuk suatu formasi. Titik-titik biru adalah formasi armada Uricle, sedangkan titik-titik merah menunjukan musuh yang semakin mendekati Uricle.
Rez mengamati map itu, dia dapat melihat pergerakan musuh, begitu cepat menuju Uricle dan jumlahnya sangat mengkhawatirkan. Lalu dia menghubungi seluruh dewan penjaga yang masih di Planet Orla, memerintahkan mereka semua untuk kembali ke armada.
“Jadi segelnya berhasil dia rusak?” gumamnya dalam hati sambil mengaktifkan Uricle device.
***
Akhirnya Lunar sampai di kapal medis. Dia masuk melalui entrance 1 lalu dengan segera membawa Mae turun dari palka pod. Tak lama, Ava juga memasuki entrance 1 diikuti Eucli di belakangnya.
Lunar melihat keanehan pada wajah Eucli yang masih berada di palka pod meskipun tempat itu telah terbuka. Lunar melihat tatapan kosong Eucli, memandang ke sebuah tempat kecil di tempat itu, hanya terdiam dan segera turun dan membawa Melfon.
Beberapa saat Lunar hanya memperhatikan Eucli, namun dirinya tidak bisa menunggu lagi, Mae dan Melfon harus segera mendapatkan perawatan di medical center pikirnya. Lalu Lunar memanggil Eucli, membuat wanita itu terkejut dan tersadar dari lamunan panjangnya.
Eucli menoleh ke arah Lunar dengan wajah muram, dia seperti tidak punya keberanian untuk turun dari tempat itu dan menghadapi kedua temannya yang telah menunggunya.
Ava mendekati nemesis Eucli, ingin memastikan keadaannya, mungkin ada kerusakan di palka pod pikirnya. “Apa ada masalah?” tanya Ava dengan polos. Dia siap membantu Eucli jika nemesis Eucli rusak dan membuatnya tidak bisa keluar dari palka pod.
Namun Eucli hanya menggelengkan kepalanya, membuat Lunar dan Ava bertanya-tanya. Lalu Lunar membayangkan sesuatu yang buruk, kemungkinan terburuk yang dia bisa pikirkan saat ini. Tetapi dengan segera dia menyingkirkan pikiran buruk itu, dia terlalu takut untuk membayangkannya. “Apa kau butuh bantuan?” tanya Lunar pada Eucli sambil memberi isyarat pada Ava.
“Baik.” Ava mengangguk, dia mengerti maksud Lunar, mungkin Eucli kesulitan membawa tubuh Melfon keluar dari palka pod, mengingat tubuh Eucli yang kecil dan juga dia seorang wanita. Hanya wanita bertubuh besar, atau memiliki tenaga ekstra yang mampu menggendong beban seberat itu.
“Hentikan…! Biarkan aku berada di sini sebentar lagi. Aku masih ingin bersamanya, sebentar lagi saja…” teriak Eucli, mengejutkan Lunar dan Ava. Membuat mereka berdua bertanya-tanya.