Asep menghembuskan napas lelah. Ia tidak tahu apa yang harus ia katakan atau apa yang harus dilakukan agar bisa menghibur Abel. Gadis itu terlihat sangat resah, gelisah, dan sedih di waktu bersamaan. Wajah itu bukanlah wajah yang pantas diperlihatkan oleh Abel. Karena bagaimanapun Abel adalah orang baik dan ia ingin gadis itu bahagia. Meski harus menelan sekejam apa pun dunia memperlakukannya.
Andainya dunia memang terlalu kejam untuk Abel, Asep ingin setidaknya Abel mendapatkan perlakuan yang pantas dari orang-orang di sekitarnya. Dihargai, diterima, dan yang terpenting tidak pernah dibedakan. Itulah harapannya.
"Buruan bangun. Gue anterin lo balik," kata Asep menatap Abel yang masih duduk di kursinya.
Sejenak, Abel menatap Asep, kemudian menggeleng dua kali.
"Kenapa? Mau ketemu Ardan