H a p p y r e a d i n g
...
Kiara menatap jengah pada pengumuman yang baru saja disampaikan oleh Ketua Panitia.
Kalian diberikan tugas sampai nanti siang, minta tanda tangan senior.
"Yuk kita mulai, daripada entar kena marah" Marta dan Arabela sudah menjalankan tugas yang diberikan untuk meminta tanda tangan senior sedangkan Kiara berdecak kesal. Memangnya mereka siapa? Artis? Sampe harus diminta tanda tangan begitu.
"Ayolah Kia, ntar kalau kita kena hukum susah juga" menghela napas kesal, Kiara mengikuti Arabela dan Marta untuk meminta tanda tangan senior-senior yang berasa artis itu. Perkenalan diri, basa basi dan minta tamda tangan, hal tersebut dilakukan Kiara dan dua teman lainnya sudah hampir selama satu jam. Dan mereka berhasil mengumpulkan beberapa tanda tangan, tinggal beberapa senior lagi yang menjabat sebagai panitia acara dan anak organisasi.
Kiara melangkahkan kakinya menuju laki-laki yang berdiri dekat tiang bendera yang sejak awal banyak dikerubuni oleh teman seangkatannya terlebih yang perempuan tapi sekarang hanya tinggal laki-laki itu dengan seorang perempuan yang sedari tadi ingin pergi tapi terus ditahan.
"Permisi Kak, perkenalkan, nama Aku, Kiara. Hmm Nama Kakak Siapa ya? Kalau boleh tahu sih" laki-laki yang tadinya fokus pada perempuan seangkatannya, kini beralih menatapnya tapi tangannya tetap memegang tangan perempuan itu. Duh! Kiara merasa menjadi kambing congek jika memang benar mereka berdua pacaran tapi sih kalau di lihat-lihat lagi, gak deh, soalnya wajah perempuan itu judes banget, dan risih sama laki-laki yang akan ia minta tanda tangannya.
"Oh, Iya. Nama saya Gilang Erlangga" Kiara segera mencatat nama dan kelas serta jabatan yang di pegang oleh Senior kelas tiga itu.
"Oh, ketua Osis" batin Kiara saat Gilang menyebutkan jabatannya. Setelah mencatat, Kiara segera menyodorkan bukunya untuk tanda tangan. Gilang melepaskan pegangannya pada perempuan itu tapi dengan Kiara mendengar jika Gilang sedikit mengancam perempuan malang itu.
"Jangan berani-berani kabur" Kiara mendengar perempuan itu berdecak kesal. Lalu Kiara tersenyum tipis saat matanya berserobok dengan perempuan itu yang hanya ditanggapi anggukan pelan.
"Nih, kapan-kapan temui gue ya" Gilang memberikan kembali buku Kiara yang sudah di tanda tangani dan tangannya kembali memegang tangan perempuan yang tidak Kiara tahu siapa namanya.
"Lah buat apaan kak?"
"Ya, siapa tau nanti lo butuh bantuan gue" Kiara hanya menganguk sekilas tidak terlalu menanggapi ucapan Gilang, dan ia juga melihat ekspresi jijik perempuan yang tengah disandera Gilang saat laki-laki itu kepedean karna orang merasa orang penting di sekolah ini. Kia mengucapkan terimakasih sebelum ia pergi dari dua orang itu.
"Kak! Lepasin deh, kan lo udah tau nama gue siapa. Nama gue KANIA HERLAMBANG. Udah kan? Lepasin, gue mau minta tanda tangan yang lain"
"Gak! Gue gak percaya nama lo itu. Pasti kan ada nama lain? Kania itu pasaran banget disini."
"Lah! Dibilangin gak percaya. Gue emang beneran Kania. Kania. Kalau gak percaya tanya aja noh sama bagian tata usaha. Beneran gak nama gue Kania."
Kiara semakin menjauhi dua orang yang tengah memperebutkan masalah nama. Lebih tepatnya Gilang yang merupakan Ketua Osis SMA Nusa sih yang ribetnya minta ampun dari pandangan Kiara. Dia cukup prihatin dengan perempuan bernama Kania itu.
"Eitss! Mau kemana??" Langkah kaki Kiara berhenti mendadak karna kedatangan salah satu senior yang tiba-tiba menghadang langkahnya.
'Hah! Ngeselin deh. Gue dari tadi ngehindarin dia tapi disini malah dihadang. Dih! Sial banget nasib gue'
"Mau minta tanda tangan sama senior lain Kak"
"Ohhh. Tanda tangan gue kan belum lo minta" Dahi Kiara mengernyit.
'Lah bloon nih senior. Gue udah minta tanda tangan dia kali. Malahan dia minta-minta nomor gue segala.'
"Hmm.. bukannya udah ya Kak? Nama lo itu .... Yuda kan? Nah udah kak. Nih buktinya" Kiara memberikan bukunya dan menunjukkan jika Yuda sudah memberikan tanda tangannya saat ia minta tadi.
"Oh udah ya. Tapi nomor lo belum lo kasih ke gue. Berapa nih?" Kiara menatap jijik pada Yuda yang dengan pedenya mengeluarkan hape nya dan bersiap-siap mencatat nomor nya.
"Gak tau kak, gak inget juga. Hape gue sama temen"
"Minta dong sama temen lo itu. Biar gue tahu nomor lo"
"Yaudah bentar ya kak" Kiara langsung ngacir dan pergi dari hadapan Yuda karna terus menerus di kejar-kejar sama senior sengklek yang pedenya sialan bangke.
"Hah hah hah" Kiara bersandar pada dinding tempat dirinya bersembunyi dari kejaran Yuda. Untungnya sih Yuda tidak mengejarnya jadi dia masih aman sampai acara nanti. Perihal kalau di dihadang lagi, ia akan memikirkan jalan lain.
"Hei, lo kenapa?"
"Hik!"
Kiara langsung terkejut saat seseorang menepuk bahunya dari belakang dissat dirinya masih mengintai Yuda. Apakah senior itu masih mencarinya apa tidak. Ia memegang dadanya yang terkejut. Lalu menatap siapa yang mengejutkannya.
"Oh, Kak Irvan?" Tanya Kiara saat melihat siapa yang mengejutkannya tapi anehnya laki-laki itu tidak meresponnya melainkan malah raut wajahnya berubah kesal dan tertekuk.
"Bukan, nama gue Dimas"
Kiara menggigit bibirnya saat tahu jika dirinya salah orang. Astaga. Lagian agak mirip sih. Sekilas. Tapi kalau diperhatikan sekali lagi, beda. Uh! Mulutnya asal nyeplos aja.
"Kak Dimas ya, sorry Kak, kirain Kak Irvan. Sekilas mirip sih"
"Hmm.. lo ngapain pake ngumpet segala?"
"Ha? Oh, itu, tadi anak orang aneh yang nodong-nodong minta nomor gue"
"Eh iya Kak. Gue belum minta tanda tangan lo. Perkenalkan nama gue Kiara, anak IPA 2."
Kiara memperkenalkan dirinya pelan dan menyodorkan buku nya. Dimas mengambil bukunya dan melihat sekilas siapa saja yang sudah Ia dapatkan tanda tangannya lalu baru menanda tanganin bukunya.
"Makasih Kak. Kalau gitu gue-"
"Bentar, gue boleh tau nomor lo?" Tanya Dimas santai dan alis nya yang naik sebelah menatapnya. Lalu tersenyum tipis.
'Ah elah! Kenapa pada mintain nomor gue segala sih?'
"Oh. 38 kak"
"Apanya yang 38?" Tanya Dimas bingung saat mengembalikan buku Kiara yang awalnya ia tahan. Kiara terdiam sebentar.
"Nomor kan kak? Nah 38. Itu nomor sepatu gue. Daah Kak!" Kiara langsung kabur lagi sebelum si Dimas, Dimas itu menyadarinya. Sadar dengan tipuan receh yang membuatnya terpaku sesaat, Dimas tertawa kecil melihat tingkah aneh dan lucu perempuan itu.
"Hmm.. Kiara ya?" Ucap Dimas sembari mengulang nama Kiara dengan senyum tipis yang terulas di bibirnya.
Bersambung
_____________________________
T h a n k y o u
Holaa ha! Terimakasih sudah menyempatkan baca cerita ini ya. Semoga kalian sehat selalu
Big Hug
REN
See you soon...