H a p p y r e a d i n g
..
Kiara menghabiskan 1 mangkok baksonya tepat lima menit sebelum bel berbunyi pertanda ujian selanjutnya akan dilaksanakan. Ia menatap Vivian yang sedari tadi mengoceh tentang senior bernama Dimas Suryadi itu.
"Pokoknya lo harus gebet dia Kia, lumayan kan lo bisa jadi famous" Kiara hanya mengiya - iyakan apa yang di ucapkan Vivian tanpa mempermasalahkan lebih lanjut, lagipula ia tidak peduli. Seharian ini ia belum bertemu dengan Anyelira maupun Rosalita yang sepertinya mereka berdua mager untuk ke kantin. Dasar kaum marger.
"Udah selesai kan? Cabut yuk." Vivian segera mensejajari langkah Kiara saat perempuan itu berdiri untuk pergi dari kantin karna mereka telah selesai makan. Mengisi perut sudah, tinggal menghadapi ujian yang paling tidak disukainya.
Grab!
"Eh ap-" ucapan Kiara terhenti saat ada seseorang yang menahan langkahnya dengan memegang tangannya. Kiara menoleh dan memutar bola matanya jengah saat melihat siapa pelakunya. Sedangkan ia tidak lagi melihat Vivian yang tadi jalan beriringan dengannya.
"Kutu kupret si Vivian! Gue ditinggal aja sama dedemit satu ini"
"Ada apa ya Kak?" Kiara memaksakan senyuman nya saat melihat wajah mengesalkan milik Yuda Pratama. Senior sengklek dan bodoh yang pernah meminta nomornya dan menyatakan perasaannya saat acara MOS berakhir yang sayangnya ia tolak. Ia tidak terpengaruh dengan pasal bodoh yang di ciptakan. Kalau tidak suka ya tolak. Kenapa harus takut dengan peraturan sialan yang merugikan itu.
"Kok sms gue gak lo bales? Gak ada pulsa? Lo beneran gak mau nih jadi pacar gue? Gue suka sama lo Kiara" beberapa siswa/i yang berlalu lalang melihat ke arah mereka berdua bahkan senior yang melihat pun melemparkan padangan mencemooh dirinya. Kiara melepaskan dengan pelan pegangan Yuda pada tangannya. Ia sebenarnya iba sih melihat si kutu kupret ini memohon-mohon padanya tapi apa boleh buat, Ia tidak mau pacaran dengan laki-laki ini, perasaan pun tidak ada.
"Kak, jangan gini deh, lo gak malu apa di lihatin banyak orang? Gue aja malu. Mending lo cari yang lain ya? Gue gak ada perasaan apapun sama lo. Gue gak mau bikin anak orang sakit hati dengan gue nerima lo tapi terpaksa"
Kiara melihat pada jam tangannya dan waktunya tinggal dua menit untuk bicara dengan Yuda.
"Kan perasaan bisa tumbuh seiring berjalannya waktu Kiara. Lo coba aja deh dulu sama gue? Ya?"
"Gak Kak. Sorry. Perasaan gue bukan makanan yang bisa di coba gitu aja dan kalau gak cocok di buang"
"Ta...."
Tettttt... Teeetttttt
Ucapan Yuda terpotong dengan bel sekolah yang berbunyi nyaring. Kiara mengucap syukur.
"Udah ya Kak. Jawaban gue tetap sama. Lo mending cari yang lain. Yang bisa nerima lo apa adanya dan gue bukan orangnya. Bye! Gue mau ujian dulu"
Kiara langsung pergi tanpa menghiraukan bisik bisikan beberapa teman angkatannya dan juga senior yang tadi melihat adegannya dengan Yuda. Masa bodoh. Inikan hidupnya kenapa mereka yang susah dengan mengomentari apa yang terjadi padanya.
Sesampainya di dalam kelas, Kiara langsung menuju meja Vivian yang berada paling belakang. Dari urutan tempatnya duduk. Entah bagaimana sekolah ini menyusun urutan duduk mahasiswanya. Acak kali.
"Eh lo dimana tadi? Main kabur aja ninggalin gue"
Vivian nyengir tidak berdosa yang langsung ditempeleng Kiara dengan wajah tidak berdosa pula. "Sialan" desis Vivian yang ditanggapi oleh Kiara
"Noh balasan buat lo yang ninggalin gue seenaknya." Ingin membalas perbuatan Kiara, namun pengawas selanjutnya sudah datang dengan membawa kertas ujian yang akan mereka kerjakan.
Kiara duduk manis di kursinya menunggu lembaran soal yang sudah jelas akan ia isi dengan sembarangan.
Beberapa menit sebelum waktu habis, Kiara telah menyelesaikan ujiannya, ia meletakkan alat tulisnya dan meletakkan lembar ujian nya sudut meja nya lalu bersantai ria tanpa harus repot memeriksa kembali apakah ada jawaban yang salah satau hal lainnya karna ia bahkan tidak mengerti dengan soal-soal yang kebanyakan cerita itu.
"Apaan sih Rom? Lo mau nyontek gue? Nih gue udah selesai" sahut Kiara pelan saat Romi, teman seangkatannya yang mencolek-colek punggungnya.
"idih, gue gak mau contekan dari lo yang udah pasti isinya asal semua" dengus Romi lalu ia menunjuk ke arah Vivian yang sedari tadi mengkode Romi untuk minta tolong memanggilkan Kiara.
Kiara mengalihkan pandangannya ke arah Vivian yang mengkode nya untuk melirik ke sampingnya dimana ada Dimas yang duduk disana, meja dibarisan ketiga setelah satu urutan daru tempat duduknya. Lalu Kiara kembali melirik pada Vivian yang seolah mengatakan
"Noh, dari tadi Kak Dimas ngeliatin lo"
Tidak percaya dengan maksud dari gerakan mulut yang ditangkap oleh Kiara dari Vivian, ia melihat ke arah Dimas yang memang benar ternyata menatapnya. Dan lebih anehnya tersenyum padanya saat pandangan mereka bertemu.
"Itu orang kenapa dah? Freak banget senyum nya, aneh!"
Sebenarnya senyuman Dimas itu manis dan membuat temannya yang lain betah memandang Dimas tapi bagi dirinya, itu aneh. Dia saja tidak ada urusan apalagi dekat dengan Dimas tapi kenapa laki-laki itu tersenyum padanya? Seolah-olah mereka mengenal baik satu sama lain. Dan bagi Kiara senyumannya itu aneh. Freak.
Kiara segera memutuskan pandangannya saat tersadar dan mengarahkan pada hal lain yang lebih menarik daripada memikirkan tentang Dimas yang tiba-tiba tersenyum padanya.
Hampir dua menit Kiara mengabaikan Dimas yang ternyata masih menatapnya, Kiara kembali melemparkan pandangan pada Dimas untuk memastikan jika yang ia lihat sebelumnya hanyalah halusinasi saja. Namun yang terjadi lebih parah.
Bukan hanya tersenyum tapi Dimas juga melambaikan tangan padanya, menyapanya. Kiara makin bingung dengan tingkah aneh seniornya itu. Tadi ketemu Yuda yang hopeless romantic sekarang, dia harus dihadapkan dengan Dimas yang tiba-tiba tersenyum dan melambaikan tangan padanya. Oh ya tuhan! Ini bencana.
Kiara bergidik ngeri dengan hal hal aneh yang terjadi pada nya. Tidak mau berlama-lama larut dalam hal yang membuatnya bingung. Kiara langsung membereskan pelaratan tulisnya dan segera meletakkan lembar jawaban serta soal ujiannya di meja guru. Ia menjadi orang pertama yang mengumpulkan ujian karna biasanya ia menunggu bel berbunyi baru mengumpulkannya seperti yang lain.
"Sudah selesai Kia?"
"Sudah Bu, saya keluar dulu" ucap Kiara langsung saat mengumpulkan lembar ujiannya dan keluar tanpa menoleh lagi pada Dimas yang ia rasakan masih menatapnya.
Setelah keluar dari ruangan ujian, Kiara mengela napas lega. Apa tadi si Dimas kesambet hantu sekolah ini kali ya? Kiara mengenyahkan segala pemikirannya tentang Dimas dan lebih memilih bermain di hapenya sembari menunggu Vivian keluar dari ruang ujian.
Beberapa menit bel berbunyi pertanda ujian selesai, Kiara menyimpan hapenya dan melihat ke arah kelas yang satu persatu siswa/i mulai berhamburan keluar tapi tidak ada tanda-tanda Vivian keluar dari ruangan ujian.
"Ah elah, itu anak lama amat sih"
Saat akan menghampiri Vivian, tidak sengaja pandangan Kiara bertemu dengan Dimas yang sialannya juga baru keluar dari ruang ujian.
Astaga!
Kiara shock! Ia benar-benar terkejut dengan apa yang barusan di lakukan oleh Dimas padanya. Dimas mengedipkan mata padanya! Oh Tuhan! Apa lagi ini. Kiara benar-benar yakin kali ini jika Dimas kesambet hantu sekolah ini. Seoalah tidak terjadi apa-apa, Dimas melenggang pergi bersama teman-temannya.
"Hei! Lo kenapa?" Vivian yang baru saja keluar menyadarkan Kiara dari shock terapi yang baru saja ia terima dari Dimas.
"Ga-gak! Gak apa- apa. Lo lama amat sih di dalam"
"Heheh. Sorry.. Oh iya. Ada yang nitip sesuatu buat lo. " Vivian memberikan secarik kertas yang terlipat rapi. Kiara curiga saat Vivian memberikan kertas itu padanya disertai dengan senyuman misterius dan alis yang dinaik-naik kan. Padahal dia tidak memiliki alis. Ada sih tapi tipis jadi seolah - olah Vivian tidak memiliki alis.
"Dari siapa?"
"Buka aja" dengan Ragu Kiara membuka lipatan kertas itu hingga ia menemukan satu kalimat yang membuatnya mengumpat.
Hai Calon Pacar
Dimas S.
Vivian yang penasaran apa isi suratnya langsung merebut nya dari Kiara saat perempuan itu lengah dan ia bersorak saat melihat apa isinya. Sedangkan Kiara mengumpat dalam hatinya karna sudah jelas si Dimas itu playboy. Dan calon pacar dari mana? Kenal dekat atau pernah PDKT saja tidak! Kiara meragukan beberapa bulan kedepan hidupnya akan tenang dan bebas dari gangguan Dimas karna dari surat itu saja sudah tersirat jika Dimas akan merecoki hidupnya.
TBC
T h a n k y o u
Holaa ha! Terimakasih sudah menyempatkan untuk membaca cerita ini yaeeehh!!
Semoga kalian sehat selalu dan bahagia.
Big Hug
Ren
Instagram: Nonore_h