Dor!
Suara peluru pistol begitu keras terdengar di sebuah taman hingga membuat semua orang panik dan ketakutan sekaligus.
Mereka menoleh ke arah dua orang, yaitu Ara dan Dhafin yang berdiri tidak jauh dari pohon rindang.
Ara terdiam, mulutnya kelu untuk berbicara. Dia sedikit terlambat menarik tubuh Dhafin dan tidak bisa menyelamatkannya.
Ara menoleh perlahan menatap perut Dhafin.
"Kau tidak apa-apa?" tanyanya spontan dengan raut wajah khawatir dan matanya berkaca-kaca.
Dhafin mengangguk dan sedikit tersenyum, ia menahan sakit dan berkata. "Tidak apa."
Ara memeluknya dengan erat dan melirik pelaku yang sudah berlari dan menghilang. Bukan itu yang harus dia khawatirkan sekarang, melainkan keselamatan Dhafin.
Dengan sigap ia membopong Dhafin menuju mobil. Tetapi Ara sedikit kebingu