Dari lantai bawah ternyata ada citra dan anak bungsu nya sedang mengobrol dengan tv yang menyala.
"ma, pelan kan suara mama." ucap tasya memerintahkan mama nya untuk diam dan Mengecilkan volume tv.
"kenapa sayang? Apa maksud mu? Ada apa?. Tanya citra heran.
" ma, apa mama tidak mendengar sesuatu?. " tanya tasya serius namun masih dengan suara yang sangat pelan.
" tidak, apa yang kamu dengar sayang? Jangan membuat mama ketakutan ya. " citra menjewer telinga anak bungsu nya itu.
"awww maaa sakitttt, lepaskan ma. Apa mama tega lihat aku yang cantik ini hanya punya satu telinga. aah tidak lebih tepatnya tidak mempunyai telinga, omg maa bisa rusak reputasi ku sebagai wanita tercantik dan terbohay di sekolah." ucap tasya protes dan lupa seketika tentang sesuatu hal yang di dengarkan nya tadi.
"sudah mama mau ke kamar, kamu lanjutkan lah menonton . Oh iya rumah ini dulu ada penghu.... "
"maaa... Hentikan." tasya langsung memotong pembicaraan mama nya dan segera masuk ke kamar nya.
"kenapa dia marah? dasar anak nakal, kan emang benar dulu rumah ini adalah milik tuan nya yang kemudian di jual karena tuan rumah nya mau pindah ke luar negeri." umpat citra sepanjang jalan menuju kamar nya namun dengan senyuman lebar di wajahnya.
mereka berdua tampak nya tidak mengetahui bahwa suara tangis itu berasal dari kamar reysa.
Keesokan harinya,
Raisa masih sibuk dengan komputer nya dengan di temani sarapan pagi yang di buat kan oleh mama nya. Raisa memang selalu lupa makan dan istirahat karena agenda nya yang begitu padat. Makanya citra selalu mengingatkan putri sulung nya itu untuk setiap hal yang kecil.
"hello sayang ku, apa kamu sudah sarapan? Aku merindukan mu." ucap lelaki di seberang sana sambil menatap sinis wanita di depannya, sepertinya wanita itu merasa tidak nyaman.
"aku juga merindukanmu sayang, kembali lah ke dalam atau aku yang akan ke sana." jawab raisa dengan senyuman kikuk.
"akan lebih bagus jika kamu di sini." goda laki-laki itu.
"diam lah bim, kamu selalu saja mengganggu ku, apakah wanita itu sudah pergi?." jawab raisa ketus, karena dia tahu jika sahabatnya itu selalu di ganggu banyak wanita. Bima pun segera menutup kembali pintu apartemen nya. Seolah memberi isyarat kepada wanita itu untuk pergi.
"hahahaha maafkan aku rai, tapi apa kamu tega melihat sahabat mu ini di ganggu everytime sama wanita wanita itu? Jika tidak berpura-pura begini, bisa bisa aku jadi suka colok sana sini ." bima tertawa lepas.
"setidaknya cari lah pacar di sana, agar aku tidak di ganggu terus oleh mu."
"muaah hahahah." bima menggoda raisa dan langsung mematikan sambungan.
Bima adalah sahabat raisa dan lina sejak di bangku sekolah, hanya saja bima melanjutkan studi nya di luar negeri. Walaupun berjauhan mereka bertiga selalu memberi kabar dan bertemu di akhir tahun. Namun bima lebih sering berkomunikasi dengan raisa, tentu saja dia lebih dekat dengan raisa karena dia menjadi kan raisa pacar pura-pura nya setiap kali ada wanita tidak jelas yang ingin mencoba menggoda nya. Dan karena hal ini raisa menjadi malas setiap kali ada notif dari bima,bukan tidak suka hanya saja wanita wanita itu akan mengganggu raisa dan anehnya wanita itu mengetahui nomor ponsel bahkan akun sosial milik raisa dan itu membuat raisa sungguh risih.