Di kantor,
"permisi tuan , ini berkas berkas yang tuan minta." ucap dean dengan sopan sambil mengulurkan tangannya untuk menyerahkan dokumen.
"oh iya terimakasih Dean. ummm apakah saya boleh bertanya?." ucap David ragu.
"iya tuan tentu saja." jawab Dean sedikit tersenyum.
"apakah anak saya memiliki kekasih?"
" yang saya tahu tuan muda tidak sedang mendekati wanita manapun tuan, dia bahkan hanya fokus ke perusahaan."
"saya dengar Alvin memperkerjakan seorang mahasiswa, apakah itu benar?."
"soal itu benar apa adanya tuan. Tuan muda merekrut seorang mahasiswi sebagai pegawai desain arsitektur, dan karena status nya mahasiswi maka dia di pekerjakan di rumah." jawab dean tegas.
" Bagaimana bisa anak itu mempekerjakan pegawai yang status nya masih seorang mahasiswi." ucap nya heran dan sungguh tidak percaya.
"maaf tuan, saya rasa dia cukup kompeten dalam bidang ini. Hanya saja tuan muda belum pernah memperkerjakan seseorang dengan waktu paruh."
"apa Alvin menyukai nya?" tanya David penasaran.
" maaf tuan, saya kurang tau akan hal itu."
" baiklah, cari tahu lebih dalam mengenai ini dan cari tahu juga apakah mereka berdua mempunyai suatu hubungan. Sekarang antar kan aku bertemu klien" perintah David bramatsya.
Mobil David melaju ke kota F menuju kediaman klien nya, Ini adalah pertemuan bisnis sekaligus makan siang.
"selamat siang pak David, mari silahkan duduk." arya mempersilahkan david untuk masuk.
"honey tolong buatkan minum."
"iya sayangg." jawab alesha. ia segera berjalan ke arah dapur untuk menyiapkan minuman dan makanan.
David dan arya sibuk berbincang mengenai proyek yang mereka rancang. mereka saling bertukar pikiran dan juga pendapat.
" wah pak Arya anda sangat gesit dalam urusan bisnis ya, saya merasa sedang berdiri di depan cermin." David tertawa renyah melihat kemiripan di antar dia dan Arya.
" saya akan bertambah senang bila menjadi cermin anda pak David." jawab Arya tak kalah antusiasnya. mana mungkin arya akan menyia-nyiakan kesempatan emas ini. Bertemu klien yang satu frekuensi sangatlah langka dalam dunia perbisnisan. Namun mereka berdua tampak sangat kompak bila sudah di dampingi bersama seperti ini.
"kak, biar aku yang bawa. Kakak duduk aja, biar aku yang mengurusi ini." ucap anin cemas melihat perut kakak sepupu nya yang sudah membesar.
"nga apa apa kok sayangg, kamu kan mau keluar. Udah biar kk aja ya."
" kecil kamu dengar itu? bukan nya onty yang tidak mau membantu tapi ibumu yang tidak mau sayangg. Gimna dong? apa kamu punya ide? apa ? gimana? gimana sayangg? " ucap Anin sambil mengelus elus perut kakak nya dengan lembut. Dia mendekatkan telinganya di perut kakaknya itu seolah olah bayi kecil itu sedang membisikkan sesuatu.
" aaaa benar kayaknya onty nga bisa bawain oom kamu ke sin...." ucapan Anin langsung di potong oleh alesha.
" sayangg... onty kamu ini baik banget loh mau bantuin bundaa.. ni sayangg makasih loh, janji jangan lupa." alesha mengedipkan matanya ke Anin dan berjalan menuju kursi. yaa begitulah bumil ngidamnya suka aneh aneh. Takut permintaannya tidak di kabulkan oleh Anin, alesha membiarkan Anin mengambil alih soal dapur kali ini.
"tuan silahkan di cicipi, ini spesial buatan adik sepupu saya." alesha memberi isyarat agar sepupu nya memperkenalkan diri.
"hallo om, saya anin. Senang bertemu dengan anda." sapa anin hangat.
"hai sayang, panggil saya om david." jawab david sambil mengagumi kecantikan anin.
"iya om, silahkan di nikmati makanan nya om semoga suka. Anin permisi kebelakang dulu ya om." ucap Anin dengan sangat sopan dan membungkuk kan sedikit tubuh nya untuk memberikan hormat. sebelum meninggalkan ruang tamu Anin memberikan isyarat kepada kakak nya, agar kakak nya tahu kalau dia mau pulang.
"dia cantik dan penuh kelembutan. Ku rasa dia cocok untuk alvin." batin david.