Mereka memaksa kapal trawl itu berhenti delapan ratus meter sebelum garis batas, dan mengawalnya sepanjang sisa malam dengan lampu sorot terus terkunci di anjungannya seperti tatapan yang tak bisa dipalingkan.
Mala tidak tidur. Ia berdiri di dek tengah dengan secangkir kopi yang sudah dingin, menghafal kapal itu lekuk demi lekuk seiring langit di timur memucat dari hitam menjadi kelabu menjadi jingga kotor. Buritan yang berat. Gulungan jaring pukat yang basah, masih meneteskan air laut — baru ditarik, baru dipakai. Lambung yang oleng tidak wajar di sisi kanan; sesuatu yang berat di palka kanan. Ia mencatat semuanya di kepala sebelum mencatatnya di buku saku. Bukti dimulai dari mata, bukan dari kertas.
Ketika matahari akhirnya cukup tinggi untuk membuat geladak basah berkilau, Hendra datang dengan kameranya. "Laut sudah bisa dilihat," katanya. "Komandan kasih lampu hijau. Kita naik."
RHIB diturunkan dengan derek. Mala duduk di haluan, Yance di kemudi, Edo dan Edo di tengah dengan senjata laras panjang tertunduk aman, Hendra terjepit di belakang memeluk kotak tahan air berisi kamera dan formulir. Begitu sekoci karet itu menyentuh air, ombak setinggi pinggang langsung menamparnya, dan seluruh dunia menjadi gerakan — naik, jatuh, naik lagi, dinding air abu-abu yang datang dan pergi.
"Dekati dari sisi bawah angin," perintah Mala, suaranya nyaris hilang ditelan deru. "Jangan dari buritan, jaringnya bisa menyangkut baling-baling kita."
Yance memutar RHIB dengan luwes, menjajari lambung baja yang tinggi itu, mencari irama ombak. Lambung kapal trawl naik turun di hadapan mereka seperti dinding hidup. Memanjat ke geladak yang dua setengah meter di atas sekoci yang sendiri terombang-ambing adalah perkara hitungan detik dan keberanian yang dingin. Mala mengaitkan tangga tali dengan galah berkait, menunggu satu, dua, tiga ayunan ombak, lalu di puncak gelombang ketika jarak paling dekat ia melompat dan menangkap tangga, menarik diri ke atas dengan kekuatan kedua lengannya sementara air laut menghantam punggungnya.
Ia berguling ke geladak dan langsung berdiri, satu tangan di kepala, mata menyapu seluruh ruang. Edo dan Edo menyusul di belakangnya, menyebar, menutup sudut-sudut.
Geladak kapal trawl itu adalah dunia tersendiri dari licin dan bahaya. Lapisan minyak ikan dan lendir membuat baja sehalus es. Bau amonia dan ikan busuk menyengat hingga ke pangkal tenggorokan. Dan di tengah geladak berdiri tujuh, delapan lelaki dengan wajah keras dan tangan kosong yang tidak benar-benar kosong — mereka menggenggam udara dengan cara orang yang terbiasa menggenggam sesuatu yang berbahaya.
"Siapa nakhoda?" Mala bertanya, lantang, dalam bahasa Inggris.
Tidak ada yang menjawab. Seorang lelaki bertubuh tegap di belakang, dengan topi pelaut kusam dan mata yang menilai cepat, hanya memandanginya dari ujung kaki ke kepala. Seorang perwira pemeriksa perempuan, muda, dengan rambut diikat ketat di balik helm. Mala melihat perhitungan di mata lelaki itu, dan ia membalasnya dengan tatapan yang tidak menawarkan ruang.
"Saya ulangi. Siapa yang bertanggung jawab atas kapal ini?" Ia mengangkat tangan, memberi isyarat ke Hendra yang naik terakhir dan kini berdiri di sisinya. "Kapal ini berada dalam Zona Ekonomi Eksklusif Republik Indonesia. Kalian akan diperiksa berdasarkan hukum perikanan kami. Setiap penolakan akan dicatat."
Lelaki bertopi itu akhirnya melangkah maju, dan dalam bahasa Inggris yang patah-patah ia berkata bahwa mereka hanya melintas, bahwa mesin GPS mereka rusak, bahwa mereka tidak menangkap apa pun di perairan ini.
"Jaring kalian basah," kata Mala datar. "Pukatnya baru ditarik. Dan kapal ini berat sebelah karena ada beban di palka kanan." Ia tidak menunggu jawaban. "Pak Hendra, rekam kondisi geladak dulu sebelum kita buka palka. Tanggal, waktu, posisi. Semua urut."
Ini adalah bagian yang Mala cintai dan benci sekaligus. Dicintai karena di sinilah kebenaran menjadi terlihat. Dibenci karena ia tahu betapa rapuh kebenaran itu — bagaimana ia bisa menguap kalau satu langkah dilewati, satu formulir salah isi, satu menit tidak terdokumentasi. Maka ia melakukannya seperti ritual. Hendra memvideokan geladak, menyebutkan koordinat dengan suara keras, menempelkan label. Edo berjaga di tangga palka. Edo mengawasi kru yang dikumpulkan di buritan.
Ketika tutup palka kanan diungkit, bau ikan menyergap lebih keras, dan di bawah sana, dalam cahaya senter, terhampar harta curian: ribuan kilogram ikan, berlapis es, jenis-jenis yang Mala kenal sejak kecil — ikan yang dulu mengisi kapal ayahnya, kini memenuhi palka kapal yang mencurinya dari laut yang sama.
Mala berjongkok di bibir palka, menyorot tumpukan itu. "Pak Hendra, ini bukan tangkapan lewat. Ini hasil operasi penuh. Tonase sebesar ini butuh berhari-hari menjaring di satu daerah." Ia mengambil satu ikan, membaliknya, memeriksa insangnya. "Segar. Maksimal dua hari. Mereka menjaring di sini, di perairan kita."
Di belakangnya, ia mendengar gerakan. Salah satu kru bergeser ke arah pintu anjungan, terlalu kasual. Mala berdiri dalam satu gerakan. "Edo, jangan biarkan siapa pun masuk ke anjungan. Mereka bisa membuang dokumen atau mengirim pesan."
Edo menghadang dengan tubuhnya. Lelaki bertopi itu berkata sesuatu dengan tajam pada krunya, dan mereka mundur. Tapi Mala sudah melihat ke mana lelaki itu melirik tadi — bukan ke laut, bukan ke arah pelarian, melainkan ke arah radio kapal. Bukan orang yang takut tertangkap. Orang yang ingin memberi tahu seseorang bahwa ia tertangkap.
Untuk siapa? pikir Mala. Tapi pertanyaan itu belum punya tempat hari ini.
"Pak Hendra," katanya, suaranya tenang sekarang, karena semua sudah jelas, "buat berita acara. Pelanggaran ZEE, penangkapan ikan tanpa izin, dokumen kapal tidak ada, identitas kapal dihapus. Saya akan kawal mereka ke pelabuhan."
Hendra mengangguk, jemarinya sudah bergerak di formulir. "Bukti telak, Bu Mala. Kasus seperti ini tidak bisa lepas."
Mala menatap garis cakrawala, ke arah selatan, ke arah daratan yang masih jauh di balik lengkung bumi. "Tidak ada kasus yang tidak bisa lepas," katanya pelan. "Cuma belum ketahuan caranya saja."
Ia belum tahu betapa benarnya ucapan itu.