Rea masih memegang gagang pintu ketika suara mobil Kean menjauh. Ia menunggu sampai lampu kendaraan itu tidak lagi terlihat melalui celah tirai, lalu menggelengkan kepala sambil tersenyum sendiri.
“Gue yang ngajak sarapan, gue juga yang deg-degan. Aneh banget!”
Ia memeriksa ponselnya. Tidak ada pesan baru. Tentu saja. Kean baru pergi bahkan belum lima menit. Rea mendengus, kesal karena sempat berharap laki-laki itu mencari alasan untuk menghubunginya lagi.
Di meja dekat jendela, pot pemberian Kean masih menyisakan tanah yang tercecer. Rea mengambil lap, membersihkannya perlahan. Rumah itu mulai memiliki bunyi-bunyinya sendiri lagi. Kulkas yang berdengung. Keran dapur yang belum tertutup rapat. Juga langkahnya, yang malam ini tidak lagi tergesa ingin keluar.
Setelah memastikan pintu terkunci, Rea masuk ke kamar.
Matanya berhenti pada lemari pakaian.
Tangga di belakangnya masih ada. Nico tidak menyentuh barang-barang di loteng ketika membantu membereskan rumah. Kakak angkatnya itu hanya bertanya apakah bagian atas perlu dibersihkan, dan Rea menjawab belum.
Kini, ia tidak punya alasan lagi untuk menghindar.
Rea menyalakan lampu, lalu menaiki tangga satu per satu. Udara pengap menyambutnya. Ia membuka jendela kecil dan membiarkan angin malam masuk, menggerakkan ujung kain penutup kasur.
Bony terbaring di dekat bantal.
“Maaf, yah. Lama banget gue tinggal.”
Rea mengangkat boneka beruang itu. Salah satu telinganya tertekuk, sedangkan jahitan di lengan kirinya mulai longgar. Ia mengusap bulu cokelatnya sebelum mendekapkannya ke dada.
Di meja kecil, bingkai foto tertutup debu tipis.
Rea membersihkannya dengan ujung lengan baju. Dua wajah muncul dari balik kaca. Seorang anak perempuan dengan rambut dikuncir dua. Di sebelahnya, anak lelaki yang kehilangan satu gigi depan tertawa sambil memeluk Bony.
Senyum Rea perlahan menghilang.
Tiba-tiba rumah terasa terlalu sunyi.
Ia ingat suara air. Tangan kecil yang berusaha meraih tepi. Juga teriakannya sendiri, yang seolah tidak pernah benar-benar selesai meskipun belasan tahun telah berlalu.
“Bukan sekarang,” bisiknya.
Rea meletakkan bingkai itu kembali. Ia duduk di kasur lantai, memeluk Bony sambil mengamati lampu jalan dari jendela.
Dulu, ia datang ke sini setiap malam karena hanya di tempat inilah ia berani merindukan adiknya. Setelah kejadian dengan Mike, bahkan kerinduan itu ikut terasa berbahaya. Seolah setiap orang yang pernah mendapat tempat dalam hidupnya harus berakhir sebagai alasan untuk menangis.
Ponselnya bergetar.
Besok jam tujuh? Gue bawa roti kalau Lo belum belanja.
Rea membaca pesan Kean dua kali. Lalu membalas.
Gue ngajak sarapan, bukan buka warung. Datang aja. Jangan bawa sekampung.
Balasan Kean membuatnya mendengus.
Andre dihitung berapa orang? Makannya banyak.
Jangan bawa dia!
Baik, Bu Pemilik Warung.
Rea tertawa kecil. Suaranya terdengar asing di loteng yang biasanya hanya menampung tangis.
Ia menatap foto di meja sekali lagi.
“Besok ada yang sarapan di bawah,” katanya pelan. “Gue belum tahu dia bakal jadi siapa. Tapi kayaknya gue pengen kenal lebih jauh.”
Tidak ada jawaban, tentu saja. Hanya angin yang membuat tirai menyentuh bahunya.
Kali ini Rea tidak menunggu sampai dirinya kelelahan menangis. Ia membawa Bony turun, meletakkannya di sisi bantal, kemudian mengatur pengingat untuk menghubungi dokter yang selama ini menanganinya.
Ada hal yang sudah terlalu lama ia simpan sendiri.
***
Kean tiba tepat pukul tujuh dengan kantong kertas di tangannya.
Rea berdiri di ambang pintu, mengenakan kaos longgar dan celana panjang. Rambutnya diikat sembarangan. Ia menatap kantong itu lebih dulu sebelum melihat wajah tamunya.
“Gue bilang jangan bawa apa-apa.”
“Ini roti.”
“Gue tahu bedanya roti sama batu.”
“Kalau ternyata masakan Lo gagal, kita masih selamat.”
Rea langsung memukul lengannya dengan lap dapur.
Kean tertawa sambil mundur. Untuk beberapa detik, laki-laki yang biasanya tampak kaku di foto majalah itu terlihat seperti orang biasa yang datang terlalu pagi untuk mencari masalah.
“Masuk! Tapi cuci tangan dulu. Dan jangan menghina kokinya.”
“Siap.”
Di dapur, dua piring sudah tertata. Nasi goreng masih mengepulkan uap, ditemani telur yang bentuknya tidak sama besar. Kean menarik kursi, lalu berhenti ketika melihat Rea mendadak diam.
Tangannya menggenggam ujung meja.
“Ada apa?”
“Nggak.”
Kean tidak segera duduk.
Rea memandang kursi di hadapannya. Dulu Mike duduk di sana, menggodanya, mengeluhkan rasa lapar, membuat pagi terasa berbeda. Ia tidak menyangka sebuah kursi bisa menyimpan begitu banyak hal.
“Gue kira bakal biasa aja,” katanya akhirnya.
Kean mengikuti arah pandangnya. Ia tidak bertanya nama siapa yang sedang memenuhi kepala Rea.
“Mau makan di teras?”
“Lo nggak keberatan?”
“Selama nasinya ikut.”
Rea mengembuskan napas yang tanpa sadar ditahannya. Ia mengambil kedua piring, sementara Kean membawa minuman. Mereka duduk di teras kecil dengan meja lipat yang salah satu kakinya harus diganjal potongan kardus.
Kean mencoba memotong telur. Meja bergoyang.
“Jangan brutal, dong. Meja gue bukan meja rapat perusahaan Lo.”
“Gue cuma mengambil telur.”
“Telurnya belum rela.”
Kean menunduk, menahan tawa. Rea akhirnya ikut tertawa, meskipun matanya masih terasa panas.
Sarapan itu tidak semulus yang dibayangkannya semalam. Namun Kean tidak terlihat kecewa.
Ia makan dengan lahap, bahkan meminta tambahan sambal. Rea mengamatinya diam-diam, lalu menggeser piring kecil lebih dekat.
“Jangan banyak-banyak. Nanti sakit perut.”
“Tadi katanya masakan Lo aman.”
“Yang nggak aman itu kerakusan Lo.”
Mereka kembali tertawa.
Ketika selesai makan, Kean mengangkat piring-piring kotor tanpa menunggu disuruh. Rea mengikutinya ke dapur, lalu menyodorkan spons.
“Bisa cuci piring?”
“Bisa.”
“Jangan pecah.”
“Standar Lo terhadap gue rendah sekali.”
“Belum ada bukti yang bisa dibanggakan.”
Kean mencuci, sementara Rea mengeringkan. Tidak ada gerakan mendadak atau tangan yang mencari pinggangnya. Hanya percakapan tentang sabun yang hampir habis dan keran yang harus diputar lebih kuat.
Justru hal sederhana itulah yang membuat Rea bertahan di dapur sampai piring terakhir selesai.
Ponselnya berdering di meja. Nama Mama muncul.
Rea mengangkat setelah menimbang sebentar.
“Ya, Ma?”
Helena menanyakan apakah ia sudah sarapan, lalu mengabarkan bahwa beberapa album lama ditemukan saat membereskan lemari. Mendengar kata album, Rea menoleh ke arah kamarnya.
“Ada fotonya?” tanyanya perlahan.
Suara Helena berubah hati-hati. “Ada.”
“Yang waktu kita di taman?”
“Juga yang di rumah Kakek Subrata.”
Rea memejamkan mata. “Jangan dibuang, Ma.”
“Tidak akan.”
Setelah panggilan berakhir, Rea mendapati Kean sedang melipat lap di dekat wastafel. Ia tampaknya mendengar, tetapi tidak berusaha menebak.
“Mama nemu foto lama,” ujar Rea.
Kean mengangguk.
“Gue punya adik.”
Gerakan tangan Kean berhenti.
Rea tersenyum, tetapi bibirnya gemetar. “Dulu. Sebelum semua orang mulai memperkenalkan gue sebagai anak tunggal.”
Kean menatapnya dengan sungguh-sungguh.
“Gue boleh tahu namanya?”
Rea menunduk cukup lama. Selama ini, ia lebih mudah menyebutnya dia. Menyembunyikan nama itu terasa seperti menyimpan bagian terakhir yang belum bisa diambil siapa pun.
Namun pagi ini, seseorang bertanya tanpa terdengar ingin merebutnya.
“Damar.”
Nama itu lolos bersama air mata yang tidak sempat ia tahan.
Rea mengusap pipinya cepat, kesal pada dirinya sendiri. Kean mengambil tisu, meletakkannya dalam jangkauan, lalu menarik kursi.
“Gue dengerin,” katanya.
Dan untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, Rea tidak mengubah pembicaraan ketika seseorang menawarkan diri untuk mendengar tentang adiknya.