Hati Allana hancur berkeping-keping. Haruskah Allana mengalami penderitaan sesakit ini? Allana telah merasakan kerasnya lika-liku kehidupan diumurnya yang masih belasan tahun.
Lagi, kedua manik mata Allana menyorot ke atas. Di atas sana, kapas awan membumbung tinggi saling menyatu membentuk warna kelabu. Seolah-olah mengerti bagaimana kondisi Allana kini. Kejadian ini telah mengubah hidupnya secara drastis. Perlahan gerimis turun membasahi diri, tangisan langit seakan ingin menyamarkan air mata Allana.
"Sekarang aku harus kemana? Kenapa orang tua aku setega ini? Apa aku ini memang tidak pantas dianggap sebagai anak?" tanya Allana dadanya semakin sakit seakan ribuan sembilu menghujam relung hatinya yang paling dalam.
"Tuhan, tolong temani aku dalam setiap detik hidupku. Jika memang ini