Sinar rembulan tampak semu, malam semakin larut. Allana yang memakai sweater warna biru demgan celana panjang melangkah kecil sembari sebelah tangannya menyeret koper hitam.
"Sekarang, orang-orang yang bahkan gak kenal aku turut membenci dan menghakimi aku, padahal mereka cuma tau aku dari kata orang," gumam Allana menghela napas berat.
Perih rasanya ketika sebuah kata-kata yang tertuju padanya menyimpang dari fakta. Kedua mata Allana terpejam sesaat.
Di saat keadaannya yang terpuruk, Allana benar-benar sendiri. Hari ini merupakan hari yang sulit untuk dia lalui. Berulang kali Allana hanya bisa mengubur luka di dasar hatinya.
Dirinya dipaksa untuk tegar namun kondisi ini semakin menyakiti. Menyayat hati Allana sampai tak tersisa.
Sungguh Allana mengharap apakah dia nanti bisa bersa