Klinik dokter hewan kabupaten menempati bangunan setengah jadi di belakang pasar—dindingnya belum diplester rapi, dan satu-satunya mesin rontgen di situ adalah benda tua yang harus dipancing dulu dengan cara tertentu sebelum mau bekerja. Tapi drh. Banyu adalah orang yang Seruni percaya, dan kepercayaan itu lebih berharga dari mesin baru.
Kestrel berbaring di meja, dibius ringan supaya pinggulnya bisa diposisikan tanpa menyakitinya. Seruni memegang kepala anjing itu sepanjang proses, jari-jarinya di antara telinga, merasakan napas pelan yang naik turun.
Banyu memasang foto rontgen di kotak cahaya. Lampu menyala. Dan Seruni, yang sudah tahu cara membaca tubuh anjing lebih baik dari siapa pun, kini dipaksa membaca bagian dalamnya.
"Kau lihat ini?" Banyu menunjuk dengan ujung pulpen. "Sendi pinggul yang sehat itu seperti bola yang duduk pas di mangkuk. Bola di kepala tulang paha, mangkuk di panggul. Pas, licin, bertumpu rata." Ia menggeser pulpen. "Kestrel tidak begitu. Mangkuknya dangkal—displasia. Bawaan, lalu diperparah kerja keras bertahun-tahun. Bolanya tidak duduk; ia menggesek di pinggir. Setiap langkah di medan berat, gesekan itu mengikis. Yang harusnya jadi bantalan halus, sekarang sudah jadi tulang ketemu tulang."
Seruni menelan ludah. "Dan ligamennya?"
"Yang pernah robek dulu itu menyatu, tapi menyatunya rapuh. Seperti tali yang putus lalu disambung simpul. Bisa menahan beban biasa. Tapi sekali tarikan ekstrem—turun jurang, lompatan salah, putaran mendadak—" Banyu tidak menyelesaikan kalimatnya. Ia tidak perlu.
"Berapa lama?"
Dokter itu mematikan lampu kotak cahaya. Tanpa cahaya itu, ruangan terasa lebih kecil. "Aku tidak bisa kasih kau angka pasti, Run. Tidak ada yang bisa. Tapi aku bisa kasih kau gambaran jujur, dan kau tidak akan suka." Ia menarik napas. "Kerja ringan—latihan halaman, pelacakan medan datar, jejak segar—dia masih bisa lama. Tahunan, mungkin. Tapi kerja yang kalian lakukan? Medan ekstrem, turun naik jurang, jam-jam panjang di tanah berat? Setiap kali kau melakukannya, kau memajukan tanggalnya. Bukan kiasan. Secara fisik kau menggesek lebih banyak tulang dari yang bisa pulih."
"Berapa lama," Seruni mengulang, suaranya datar karena ia tahu kalau ia membiarkannya naik turun ia akan pecah.
"Kalau kau terus pakai dia di medan seperti kemarin? Realistisnya satu musim. Mungkin kurang. Setelah itu bukan soal mau atau tidak mau—pinggul itu akan sampai di titik dia tidak bisa berdiri sendiri di pagi hari."
Satu musim. Seruni memandang anjing yang masih setengah tidur di meja, dada yang naik turun, satu telinga yang berkedut dalam mimpi. Delapan tahun ringkas jadi satu musim.
Mereka pulang dalam diam.
Di kantor unit keesokan paginya, Pak Darto—kepala unit, lelaki bertubuh tambun dengan map yang selalu lebih banyak dari anggarannya—sudah menunggu dengan ekspresi orang yang akan mengatakan sesuatu yang tidak ingin ia katakan.
"Aku sudah dengar dari Banyu," katanya, langsung. "Run, aku turut sedih. Sungguh. Kestrel itu anjing terbaik yang pernah unit ini punya. Tapi justru karena itu aku harus bilang sekarang, bukan nanti."
"Bilang apa, Pak."
"Kita perlu mulai latih pengganti. Ada anjing muda—dari penyerahan warga, Malinois campuran, sembilan bulan, namanya sudah dikasih Lurik sama anak-anak posko. Drive-nya bagus, energinya gila. Kalau kita mulai sekarang, sebelum Kestrel benar-benar pensiun, kita punya satu tahun buat menyiapkan dia. Kalau kita tunggu sampai Kestrel tumbang, kita kosong. Tidak ada anjing pelacak di seluruh kabupaten ini, dan orang akan tetap hilang di gunung itu apa pun yang terjadi pada kita."
Semua yang dikatakannya benar. Itu yang membuatnya tak tertahankan. Seruni keras pada protokol justru karena ia pernah, bertahun lalu, kehilangan seorang target—seorang lansia yang akhirnya ditemukan terlambat—gara-gara kesalahannya sendiri sebagai handler muda yang ceroboh. Sejak itu ia tak pernah berdebat dengan logika. Logika menyelamatkan nyawa.
Tapi logika yang ini menyuruhnya menggali kubur untuk sahabatnya selagi sahabatnya masih bernapas di sebelahnya.
"Aku akan mulai latih Lurik," katanya akhirnya. Setiap kata terasa seperti mengangkat batu. "Tapi Kestrel masih anjing operasional. Selama dia bisa kerja, dia kerja. Aku yang putuskan kapan dan untuk kasus apa. Bukan tanggal di kalender, bukan anggaran. Aku."
Darto memandangnya lama. Ia bukan orang jahat; ia hanya orang yang terlalu sering harus memilih antara dua hal baik dengan uang yang tak cukup untuk keduanya. "Baik," katanya. "Kau yang putuskan. Tapi Run—jangan biarkan cintamu pada anjing itu jadi alasan kau mengirimnya ke medan yang harusnya kau tolak. Kadang mencintai sesuatu itu artinya tahu kapan berhenti memintanya."
Seruni tidak menjawab. Ia tidak bisa, karena ia tahu Darto mungkin benar, dan ia tahu juga bahwa ia tak akan sanggup menjalankannya.
Sore itu ia membawa Kestrel ke lapangan latihan di belakang kandang—tanah datar, rumput pendek, tidak ada jurang, tidak ada batu tajam. Ia menyembunyikan sebuah kain ber-bau di balik tumpukan ban, lalu melepas anjingnya.
Kestrel berlari—pincang sedikit, tapi berlari—dan menemukannya dalam tiga puluh detik, duduk dengan ekor berkibas, mata bersinar, menunggu pujian seakan ini hal terbesar di dunia.
Seruni berlutut dan memeluknya, menekan wajahnya ke bulu yang berbau matahari dan tanah. "Anjing pintar," bisiknya. "Anjing paling pintar."
Di balik tumpukan ban, di lapangan datar yang aman, Kestrel adalah dirinya yang dulu. Hanya di sini sekarang. Hanya di tempat yang tak membahayakannya. Dan Seruni tahu, dengan kepastian yang dingin, bahwa pekerjaan mereka tidak pernah terjadi di tempat yang aman.
Jam pasir itu sudah dibalik. Ia bisa merasakan pasir jatuh, butir demi butir, setiap kali ia memandang anjingnya berlari.