Kantor konsesi di dalam lebih dingin dari yang Sukma duga. Ada kipas angin yang berputar dari langit-langit, ditenagai generator yang menderu di belakang, dan udara berbau kertas baru dan tembakau cerutu. Di dinding tergantung peta besar, garis-garis merah membelah hijau, angka-angka dan kotak-kotak yang Sukma tak mengerti. Di bawah peta itu, di balik meja kayu ulin yang dipernis sampai mengilap, duduk Tuan Wirsa.
Wirsa bukan apa yang Sukma bayangkan. Bukan jagal bertubuh tambun dengan cincin di tiap jari. Ia lelaki kurus berusia lima puluhan, kacamata bulat, kemeja putih dengan lengan dilipat rapi sampai siku, tangan yang bersih. Ia tampak seperti guru sekolah, atau pegawai bank, kalau bukan karena cara matanya menimbang Sukma seperti menimbang sebatang kayu, menghitung berapa kubik yang bisa diambil.
"Duduk," katanya. Suaranya halus, sopan. "Kau pelacak itu. Yang dulu di kehutanan."
"Bekas."
"Bekas yang terbaik, kata orang." Wirsa menuang teh dari teko, dua gelas, dan mendorong satu ke arah Sukma. Sopan santun yang dingin. "Kau tahu kenapa kau ada di sini."
"Aku tahu kau butuh sesuatu dilacak. Selebihnya tidak."
Wirsa tersenyum tipis, seperti menghargai kejujuran. Ia berdiri, berjalan ke peta, dan menunjuk satu titik jauh di pedalaman. "Kamp tebang nomor empat. Tiga hari lalu, mandorku ditemukan mati di sana. Namanya Hasbi. Orang baik, sudah delapan tahun ikut aku. Lehernya nyaris putus." Ia mengatakannya dengan tenang, seolah melaporkan stok solar yang menyusut. "Juru ukurku, namanya Garan, kabur malam itu juga. Turun ke hilir. Membawa beberapa barang dari kamp dan satu sampan. Orang-orangku melihatnya pergi."
"Dan kau ingin dia ditangkap."
"Aku ingin dia dibawa pulang. Hidup." Wirsa menekankan kata terakhir. "Aku bukan binatang. Aku ingin dia diadili, oleh hukum, supaya semua orang melihat bahwa di tanahku, membunuh ada harganya. Aku sudah lapor ke distrik, tapi kau tahu sendiri aparat di sini. Lambat. Sungai ini panjang, Sukma, dan Garan tahu hutan hampir sebaik dia tahu angka. Dalam seminggu dia akan hilang di pedalaman dan tak ada yang pernah menemukannya. Kecuali seseorang yang bisa membaca jejak."
Sukma diam. Di luar jendela, ia bisa melihat dermaga, tongkang, hidupnya yang lapar. "Berapa."
Wirsa menyebut angka. Angka itu cukup untuk makan setahun. Cukup untuk meninggalkan Muara Kelawit kalau ia mau, untuk memulai sesuatu yang lain di kota lain, untuk berhenti menjadi anjing tua yang tidur dengan punggung ke dinding. Sukma merasakan angka itu menarik perutnya seperti kail.
"Aku ingin lihat mayatnya dulu," katanya. "Dan kampnya."
"Untuk apa? Pembunuhnya sudah jelas."
"Aku tidak melacak orang yang tidak kupahami. Jejak orang ketakutan beda dengan jejak orang marah. Aku perlu tahu Garan ini jenis yang mana." Itu separuh benar. Separuh lainnya adalah naluri lama yang tak pernah benar-benar mati, naluri yang dulu memakai seragam.
Mereka membawanya ke kamp empat dengan perahu motor, dua jam ke hulu menyusuri jalur kayu yang membelah hutan seperti luka. Kamp itu sepi, ditinggalkan sejak kematian, hanya dijaga dua orang Wirsa. Mayat Hasbi disimpan di gudang papan, ditutup terpal, diawetkan dengan es balok yang sudah setengah mencair dan garam. Bau itu menampar Sukma begitu terpal dibuka, tapi ia sudah pernah mencium yang lebih buruk.
Ia berjongkok di samping mayat dan memaksa dirinya menatap. Luka di leher itu, kata orang, dibuat parang. Tapi Sukma pernah melihat banyak luka parang. Parang mengayun, memutus serat dari satu arah, meninggalkan tepi yang miring dan memar lebar. Luka ini berbeda. Bersih, dalam, hampir lurus, masuk dari satu sisi dan keluar, seperti tusukan benda tipis dan sangat tajam, bukan ayunan. Dan di sana, di tepi lukanya, ada memar kecil berbentuk setengah lingkaran, seakan ada yang menekan kuat sebelum menusuk.
Ia juga melihat tangan Hasbi. Kuku-kukunya bersih. Tidak ada darah orang lain, tidak ada serpihan kulit, tidak ada tanda ia sempat melawan, mencakar, berkelahi. Orang yang dibunuh dalam pertengkaran panas hampir selalu meninggalkan sesuatu di kukunya. Hasbi tidak. Ia mati seperti orang yang tidak menyangka, dari seseorang yang sangat dekat, yang ia percaya cukup untuk membiarkan berdiri sedekat itu.
Sukma merasakan dingin yang sudah lama tidak ia rasakan. Garan seorang juru ukur. Tangan juru ukur memegang pensil dan tali dan patok, bukan parang. Dan luka ini bukan luka pertengkaran tukang ukur dan mandor. Ini luka yang direncanakan, oleh orang yang tahu cara membunuh tanpa keributan.
Ia menutup terpal kembali. Di kepalanya, satu suara berkata: ini bukan urusanmu, kau dibayar untuk melacak, bukan menimbang. Suara itu adalah suara dua tahun lapar. Suara itu menang, seperti biasanya.
"Aku ambil pekerjaannya," kata Sukma ketika ia kembali ke perahu, kepada anak buah Wirsa. "Bilang ke tuanmu, separuh uang di muka."
Ia tidak mengatakan apa pun tentang luka. Ia memilih, seperti dulu, untuk tidak peduli. Tapi sepanjang perjalanan turun kembali ke Muara Kelawit, dengan sungai cokelat mengalir di bawah lambung perahu, ia tidak bisa melupakan satu hal: kuku Hasbi yang bersih, dan memar setengah lingkaran itu. Sesuatu di kamp empat tidak cocok, dan Sukma sudah cukup tua untuk tahu bahwa hal-hal yang tidak cocok tidak pernah benar-benar diam. Mereka menunggu, jauh di hilir, untuk ditemukan.