Sukma berangkat saat fajar belum sepenuhnya datang, ketika sungai masih berselimut kabut dan suara siamang belum mulai. Ia membawa sedikit: senapan tua berburu kaliber kecil yang ia dapat tahun lalu dari seorang penambang yang berutang, sekantong beras, ikan asin, garam, korek, sebilah parang, dan tali. Pengejaran ke hilir lebih masuk akal lewat air, tapi Sukma memutuskan menyusur darat dulu di sepanjang jalur kayu tua, karena di situlah Garan, jika ia waras, akan berusaha menghilang sebelum naik perahu lagi. Orang yang lari ke hilir selalu berusaha memutus jejak di darat dulu.
Kabut itu mengangkat perlahan, dan hutan mulai bicara. Bagi Sukma, hutan tak pernah diam. Setiap dahan patah, setiap daun yang rebah salah arah, setiap noda lumut yang terkelupas dari kulit kayu adalah kalimat. Ia menemukan jejak pertama Garan sebelum matahari sepenggalah. Dan begitu menemukannya, sesuatu di tengkuknya menegang.
Jejak itu jelas. Terlalu jelas.
Tapak kaki tercetak penuh di lumpur tepi jalur, bukan setengah, bukan menyamping, tapi penuh, dalam, seperti orang yang berhenti dan menginjak sengaja. Ranting yang dipatahkan setinggi pinggang menunjuk arah seperti tanda jalan. Sisa bara unggun yang ditinggal di tempat terbuka, bukan disembunyikan di bawah akar atau dalam lubang seperti yang dilakukan orang yang tak ingin ditemukan. Sukma berjongkok lama di samping unggun itu, jarinya mengaduk abu dingin.
Ia pernah melacak ratusan orang. Pembalak gelap, penambang liar, pencuri, pembunuh. Mereka semua, tanpa kecuali, ketika tahu diburu, berusaha menghilang. Mereka berjalan di air supaya jejak hilang. Mereka memanjat batu. Mereka berputar, kembali ke jejak sendiri untuk membingungkan. Mereka tidak meninggalkan unggun di tempat terbuka dan ranting penunjuk arah seolah memasang rambu. Orang yang bersalah lari seperti binatang yang terluka, tak beraturan, panik, ke mana saja asal jauh. Garan tidak. Garan berjalan dalam garis yang hampir teratur, meninggalkan jejak seperti orang menabur benih di sepanjang barisan, rapi, sengaja.
"Kau mau aku ikut," gumam Sukma pada hutan kosong. "Kenapa."
Ia tidak suka pertanyaan itu. Pertanyaan adalah barang mahal bagi pemburu bayaran. Yang dibayar untuk melacak tidak dibayar untuk bertanya kenapa. Tapi nalurinya, naluri lama yang dulu memakai seragam dan dulu menyelamatkan orang sebelum akhirnya mengkhianati satu orang, tidak bisa berhenti membaca.
Ia menguji teorinya. Di satu titik, jalur kayu bercabang. Satu cabang menuju tepi sungai, jalan logis menuju perahu dan hilir. Cabang lain menanjak ke punggung bukit, jalan sulit, buntu menurut peta yang ia hafal, tapi jalan yang akan dipilih orang yang benar-benar ingin menghilang, karena di punggung bukit berbatu jejak tak tertinggal. Sukma menahan napas dan mencari. Jejak Garan jelas-jelas membelok ke cabang yang menuju sungai. Ke jalan yang mudah dibaca. Ke jalan yang akan dipilih seseorang yang ingin diikuti.
Di tepi sungai, di lumpur lunak, Sukma menemukan sesuatu yang membuatnya berhenti lebih lama. Sebatang patok kayu kecil, jenis yang dipakai juru ukur menandai titik, ditancapkan tegak di tanah, sengaja. Di kepalanya ada goresan, angka-angka, dan satu garis melintang yang dicoret. Sukma tidak mengerti angka itu. Tapi ia mengerti satu hal: patok itu tidak jatuh dari kantong orang yang lari. Patok itu ditanam. Seperti pesan yang ditinggalkan untuk pembaca yang tahu cara membaca.
Ia mencabut patok itu, membolak-baliknya di tangan, lalu, setelah ragu, memasukkannya ke dalam tasnya. Ia berkata pada dirinya bahwa ia menyimpannya sebagai bukti untuk Wirsa, supaya jelas ia di jalur yang benar. Itu bohong dan ia tahu. Ia menyimpannya karena sesuatu di dalam dirinya, sesuatu yang ia kira sudah mati di hutan dua tahun lalu, ingin tahu.
Malam itu ia berkemah tanpa api besar, punggung ke batang pohon, senapan di pangkuan. Suara hutan malam mengepungnya, jangkrik, katak, sesuatu yang besar bergerak jauh di semak. Ia memikirkan Garan, orang yang belum pernah ia lihat wajahnya, yang menabur jejak seperti orang menabur umpan. Ada dua kemungkinan, pikir Sukma. Pertama, Garan bodoh, panik, dan kebetulan meninggalkan jejak yang mudah. Tapi orang bodoh tidak membunuh mandor dengan luka sebersih itu, dan orang panik tidak menanam patok dengan rapi. Kemungkinan kedua jauh lebih mengganggu: Garan tidak lari dari Sukma. Garan menuntun Sukma. Dan orang hanya menuntun pemburunya sendiri jika ia ingin pemburu itu melihat sesuatu, atau jika ia tahu sesuatu tentang pemburu itu yang Sukma sendiri tidak tahu.
Ia tidak tidur nyenyak. Ketika fajar datang lagi, ia menyusur lebih jauh ke hilir, dan jejak terus mengundangnya, rapi, sabar, menuruni sungai seperti tangan yang menariknya pelan-pelan. Sampai siang, jalur darat berakhir di tebing curam dan air deras, dan jejak Garan berhenti di sebuah pangkalan perahu kecil. Di sana, di antara gubuk-gubuk reot kampung sungai, Sukma tahu ia harus turun ke air. Dan untuk turun ke air, melewati riam-riam yang menanti di hilir, ia tahu, dengan enggan, bahwa ia tidak bisa sendiri.