Pangkalan itu bukan kampung sungguhan, hanya selusin gubuk panggung yang merunduk di tepi sungai, tempat orang menjual pisang dan ikan kering kepada perahu yang lewat. Tapi di sini sungai berubah watak. Di hilir pangkalan, airnya menyempit di antara dua dinding batu, dan dari kejauhan Sukma sudah mendengar suaranya, gemuruh rendah yang terus-menerus, seperti binatang besar yang menggeram dalam tidur. Riam pertama. Orang-orang pangkalan menyebutnya Riam Kuku Lang, cakar elang, dan dari cara mereka mengucapkannya, Sukma tahu sungai itu pernah menelan orang.
Ia sendiri tidak pandai air. Ia pelacak darat, jejak dan tanah dan jejak kaki, bukan arus dan batu tersembunyi. Sukma menyewa sebuah sampan kecil dari seorang tua, mendorongnya ke arus, dan dalam tujuh menit hampir mati. Arus menyambar sampan itu seperti tangan yang marah, memutarnya, dan sebuah batu yang tak terlihat di bawah buih merobek lambungnya. Air masuk dingin dan cepat. Sukma sempat meraih akar yang menjuntai dari tebing dan menariknya keluar, basah kuyup, kehilangan separuh berasnya, senapannya selamat hanya karena ia mengikatnya di punggung. Sampan itu hancur, hanyut, hilang di buih.
Ia duduk di batu, menggigil, dan untuk pertama kalinya sejak Muara Kelawit, ia tertawa, tawa pendek yang pahit. Ia akan mati sebelum sampai ke buronannya, bukan oleh peluru, tapi oleh batu.
Suara itu datang dari atas, dari tepi tebing. "Orang darat," katanya, datar, tanpa ejekan, hanya pernyataan. "Kau masuk Kuku Lang dengan sampan ikan. Itu cara bunuh diri yang lambat."
Sukma mendongak. Seorang perempuan, mungkin tiga puluhan, kulit gelap terbakar matahari, rambut diikat ke belakang, berdiri di tepi tebing dengan dayung di tangan seperti orang lain memegang parang. Di tubir di bawahnya, terikat pada akar, sebuah perahu panjang ramping dari satu batang kayu, jenis yang dibuat orang hulu, ramping dan kuat sekaligus.
"Aku perlu turun sungai," kata Sukma.
"Semua orang perlu turun sungai. Tidak semua orang perlu mati melakukannya." Ia menuruni tebing dengan keseimbangan orang yang lahir di air. Dari dekat, matanya tajam, menimbang, tidak ramah. "Namaku Inai. Aku antar barang dan orang ke pangkalan-pangkalan hilir. Bukan amal. Kau punya uang?"
"Cukup."
"Cukup itu tidak ada artinya. Berapa."
Mereka tawar-menawar di atas batu, dingin, basah, sementara riam menggeram di samping mereka. Akhirnya sepakat, harga yang membuat Sukma meringis, tapi ia tidak punya pilihan. Hanya setelah uang berpindah tangan dan mereka mendorong perahu Inai ke air, ia memberitahukan tujuannya yang sebenarnya.
"Aku mencari orang. Lelaki, sendiri, turun beberapa hari lalu dengan sampan. Mungkin lewat sini."
Dayung Inai berhenti sekejap di air. Hanya sekejap. Lalu mengayuh lagi, halus, seolah tak terjadi apa-apa. Tapi Sukma melacak manusia sama baiknya seperti ia melacak babi, dan keraguan sekejap itu sama nyatanya seperti tapak kaki di lumpur.
"Banyak lelaki turun sungai," kata Inai, menghadap ke depan.
"Yang ini juru ukur. Namanya Garan."
Kali ini tidak ada jeda, terlalu tidak ada jeda, terlalu rata, seperti orang yang sengaja menjaga wajahnya tetap kosong. "Aku antar barang, bukan kabar," katanya. "Kalau kau bayar untuk turun, aku turunkan kau. Urusanmu dengan orang lain bukan urusanku."
Sukma membiarkannya. Memburu manusia mengajarkan kesabaran. Orang menyimpan rahasia seperti perahu menyimpan air, sedikit demi sedikit, dan kalau kau menekan terlalu cepat, mereka menutup celah. Ia menyimpan apa yang ia lihat: Inai tahu nama Garan tanpa diberitahu apa pun, dan Inai tahu lebih banyak dari yang ia akui. Itu cukup untuk sekarang.
Riam Kuku Lang di tangan Inai menjadi makhluk yang berbeda. Sukma melihat perempuan itu membaca air seperti ia sendiri membaca tanah, mengenali pusaran yang berarti batu, garis buih yang berarti jalur aman, lekuk arus yang berarti maut. Inai menyuruhnya merunduk dan mendayung kasar saat ia perintahkan, dan perahu ramping itu meliuk di antara batu-batu seperti ikan, naik di gelombang, terjun, basah, tapi utuh. Ketika mereka keluar di air tenang di hilir, Sukma sadar tangannya gemetar, dan Inai sama sekali tidak.
"Kau bilang orang darat," kata Sukma, terengah.
"Kau memang orang darat. Tapi kau tidak panik. Itu lebih baik dari kebanyakan." Itu hampir, hampir, sebuah pujian. Lalu wajahnya menutup lagi.
Malam itu mereka berkemah di gosong pasir, api kecil, ikan bakar yang ditangkap Inai dengan tombak dalam waktu yang sama dengan Sukma menyalakan api. Dua orang asing, saling curiga, dipaksa duduk di api yang sama oleh sungai yang tak peduli pada keduanya. Sukma memperhatikan cara Inai memandang ke hilir, ke arah yang sama dengan tujuan Garan, dan sebuah pikiran perlahan mengeras di kepalanya: perempuan ini tidak sekadar pendayung yang ia sewa. Ia membawa Sukma ke arah yang Inai sendiri ingin tuju, dan entah itu berarti ia menuntun Sukma ke Garan, atau menuntun Sukma ke perangkap, Sukma belum tahu. Ia tidur dengan senapan di pelukan, dan untuk pertama kalinya dalam pengejaran ini, ia tidur dengan satu mata terbuka bukan terhadap hutan, tapi terhadap orang yang duduk di seberang apinya.