Mereka turun dua hari lagi, melewati dua riam kecil yang Inai lewati seperti orang menyeberang jalan, dan pada hari ketiga mencapai sebuah kamp tebang terbengkalai di tikungan sungai. Konsesi ini sudah lama ditinggalkan; pohon-pohon di sekitarnya tunggul-tunggul kelabu, jalur kayunya kembali ditelan belukar, dan di tepi air berdiri gudang-gudang papan yang atapnya runtuh. Tempat seperti ini ada di sepanjang sungai, bangkai dari kerakusan yang sudah berpindah ke hulu lain. Sukma ingin singgah karena kamp terbengkalai adalah tempat orang yang lari berlindung, dan ia ingin tahu apakah Garan tidur di sini.
Mereka menambatkan perahu dan naik. Dan begitu kakinya menyentuh tanah kamp, Sukma tahu ada yang salah. Bukan jejak Garan. Jejak lain. Banyak.
Ia berjongkok di tanah berlumpur di antara gudang. "Tiga orang," katanya pelan, lebih kepada dirinya. "Bersepatu bot, bagus, baru. Bukan kuli. Mereka membawa beban berat, lihat kedalamannya. Senapan, ransel." Jarinya menyusur tapak. "Datang dari air, dengan perahu motor, bukan dayung. Cepat. Dan tidak menyembunyikan diri."
Inai berdiri di belakangnya, diam, tangannya dekat dengan parang di pinggangnya.
Sukma berjalan menyusuri kamp dan menemukan lebih banyak. Di salah satu gudang, ada bekas perapian besar, jauh lebih besar dari kebutuhan tiga orang untuk menghangatkan diri. Ia menggali abunya dan menemukan tulang. Bukan tulang babi atau rusa. Ia mengangkat satu, memutarnya di cahaya, dan rahangnya mengeras. Tulang lengan manusia, hangus. Di sudut gudang, terlempar seolah tak ada artinya, sandal jepit yang sudah meleleh sebagian, terlalu kecil untuk lelaki dewasa. Anak, atau perempuan.
Di luar, di dinding gudang lain, ada lubang-lubang peluru, baru, kayunya masih terang di tepi luka. Dan di tanah, noda gelap yang lebar, sudah mengering kecokelatan, terlalu banyak untuk berasal dari binatang.
Sukma berdiri lama di tengah kamp mati itu, mendengar sungai mengalir dan tak ada lagi. Lalu ia mengerti.
"Ada penghuninya," katanya, suaranya datar dan dingin. "Kamp ini tidak benar-benar kosong. Ada keluarga, mungkin penambang liar, mungkin orang sungai, yang tinggal di bangkai konsesi ini. Tiga orang bersenjata datang, membakar, menembak. Membersihkan tempat." Ia menatap Inai. "Kau tahu siapa mereka."
Inai tidak menjawab langsung. Wajahnya, untuk pertama kalinya, kehilangan ketenangan dingin itu. Ada sesuatu di matanya yang lebih tua dari curiga, sesuatu seperti kemarahan yang sudah lama dipendam. "Mereka mencari orang yang sama denganmu," katanya akhirnya. "Tapi mereka tidak diupah untuk membawanya pulang hidup."
Sukma merasa tanah bergeser di bawahnya, meski ia berdiri diam. "Apa maksudmu."
"Maksudku, orang darat, kau pikir kau satu-satunya anjing yang dilepas. Tuanmu, atau orang yang membayarmu, melepas dua kawanan. Satu untuk menyeret, satu untuk membunuh. Kau di depan, mereka di belakang. Atau," matanya menyipit, "kau di depan supaya kau yang menemukan jejaknya, dan mereka tinggal mengikuti jejakmu sampai ke buruannya. Kau bukan pemburu. Kau anjing pelacak. Mereka yang membawa senapan."
Kata itu menghantam Sukma lebih keras dari riam mana pun. Anjing pelacak. Itu kata yang ia pakai untuk dirinya sendiri, jauh di dalam, di malam-malam ketika wajah yang ia khianati datang. Dua tahun lalu ia adalah anjing pelacak yang membaca jejak, dan jejak yang ia baca menuntun orang-orang bersenapan ke seseorang yang tak bersalah, dan ketika ia sadar apa yang ia perbuat, sudah terlambat. Ia tidak menarik pelatuk. Ia hanya menunjuk arah. Tapi tangan yang menunjuk dan tangan yang menembak, di hutan, sama berlumur darah.
Dan sekarang ia melakukannya lagi. Tanpa sadar, ia menabur jejaknya sendiri di sepanjang sungai, jejak yang ia tinggalkan secara naluri, ranting yang ia patahkan, abu unggun yang tak ia sembunyikan dengan benar karena ia tak menyangka ada yang membuntutinya, dan tiga orang bersepatu bot baru tinggal mengikutinya seperti membaca peta menuju Garan.
Sukma duduk di atas balok kayu, tangannya gemetar sedikit, dan untuk pertama kalinya ia menimbang sesuatu yang lebih besar dari uang. Wirsa berkata, hidup, biar diadili. Wirsa memberinya senyum guru sekolah dan teh dan kata-kata tentang hukum. Dan sepanjang itu Wirsa mengirim regu kedua dengan perintah yang sebenarnya: bawa kepalanya, jangan bawa mulutnya. Kalau itu benar, maka tugas Sukma bukan menangkap Garan. Tugas Sukma, yang sesungguhnya, adalah menemukannya, supaya orang lain bisa membunuhnya. Ia umpan. Ia, lagi, anjing pelacak yang menyerahkan orang ke moncong senapan.
"Kenapa kau peduli," tanya Sukma pada Inai, suaranya serak. "Kenapa kau membawaku, kalau kau tahu aku menuntun pembunuh ke arahnya. Kenapa tidak kau biarkan aku mati di Kuku Lang."
Inai menatapnya lama, dan dalam tatapan itu Sukma melihat perhitungan, taruhan putus asa, sesuatu yang sudah diputuskan jauh sebelum mereka bertemu. "Karena," katanya pelan, "orang yang kau buru memintaku, kalau ada pelacak datang, untuk membawanya kepadanya. Bukan menjauhkannya." Ia berhenti. "Dia tidak takut padamu, orang darat. Dia menunggumu. Dan aku mulai mengerti kenapa, meski aku belum yakin dia tidak gila."
Malam turun di kamp mati. Sukma tidak menyalakan api. Ia duduk di gelap dengan tulang hangus dan sandal meleleh dan noda darah yang mengering, dan untuk pertama kalinya sejak ia menerima upah Wirsa, ia berhenti melihat Garan sebagai buruan, dan mulai melihatnya sebagai pertanyaan. Pertanyaan yang, ia takut, jawabannya akan menyeretnya kembali ke dosa yang ia kira sudah ia kubur.