Bangun-bangun aku dikejutkan oleh posisiku sendiri. Ternyata semalaman aku tidur di lantai, terkapar seperti ikan sekarat di daratan. Sungguh mengenaskan.
Kuusap hidungku yang mendadak meler. Sepertinya efek tidur di lantai. Alamat bisa kena flu sih pasti. Sudah begitu badanku jadi terasa pegal-pegal semua.
Sementara itu tas, sepatu, dan jaketku berceceran—memberantaki sekitar. Aku benar-benar tumbang setibanya di rumah semalam.
Aku meringis menatap pantulan diriku sendiri di layar TV yang mati. Benar-benar menyedihkan. Rambutku mengembang kayak singa. Riasanku masih menempel—sudah acak-acakan. Mirip badut yang sudah tiga hari nggak touch-up.
“Iyuhhh—Masih cakepan badut ini mah.” Aku bergidik, mencibir diri sendiri.
Aku melarikan pandangan ke sekitar sekali lagi. Memastikan hanya aku yang ada di sana. Helaan napas otomatis keluar. Aku bangkit, dengan gontai menuju kamar.
“Sekacau kayak gimana juga utang tetap kudu dibayar.” gumamku. Berulang kali helaan napas keluar. Seolah-olah hidupku sedang tidak baik-baik saja.
Cukup lima belas menit mandi untuk sedikit menyegarkan penampilanku. Walau, normalnya aku butuh nyaris sejam hanya untuk mandi (dibaca: karaokean dan mainan air). Kali ini, jangankan sejam, lima belas menit saja rasanya sudah lama sekali.
Sedang badmood betul.
Aku menarik udara sebanyak-banyaknya, memenuhi paru-paruku. “Let's go.” Kataku, menyemangati diri sendiri sambil membuka pintu.
Begitu pintu rumah terbuka, embusan angin pagi langsung menyambut wajahku. Dingin—cukup menyegarkan. Dan... sedikit menyadarkan kalau hidup ternyata tetap berjalan, meski semalam rasanya ingin berhenti sebentar saja.
Aku mengunci pintu, lalu melirik pohon lemon di samping rumah.
Buahnya sedang banyak.
Entah kenapa, aku jadi kepikiran sesuatu.
Lima menit kemudian, aku sudah berjalan keluar pagar rumah sambil membawa satu kantong plastik bening berisi lemon segar yang kupetik sendiri. Tidak banyak. Mungkin sekitar belasan buah.
Mama selalu bilang, kalau belum sempat membalas kebaikan orang, jangan datang dengan tangan kosong.
Walaupun—yah, aku tidak yakin mekanik bertubuh hampir dua meter itu suka lemon.
***
“Ayah, Aku mau minum es. Panas banget.”
“Yahhhhhhh~”
Masih beberapa meter lagi sampai di bengkel atau lebih tepatnya garasi Viktor tapi suara bisingnya sudah terdengar jelas. Garasi yang semalam sunyi kini berubah ramai. Didominasi suara mesin, suara kompresor, bahkan dentingan besi.
Sesekali terdengar seseorang bersiul. Juga rengekan anak kecil yang makin kedengaran tak sabar.
Aku berhenti beberapa langkah di depan pintu bengkel. Papan kayu bertuliskan VOLKOV GARAGE tergantung sederhana di atas pintu. Tidak begitu mencolok. Persis seperti pemiliknya.
Begitu masuk, aroma oli langsung menyeruak, memenuhi hidungku.
Di dalam, ada tiga mobil yang sedang diperbaiki.
Seorang pria berusia sekitar lima puluhan tahun sedang mengobrol dengan pelanggan.
Satu mekanik lain—agak muda—sibuk bekerja. Dan, Viktor. Pria itu sedang berdiri membelakangiku. Kaus hitam polos tanpa lengan menempel di punggungnya yang lebar.
Lengannya bergerak memutar kunci roda dengan tenang, seolah baut sebesar itu sama ringannya dengan membuka tutup botol.
Aku baru sadar. Kalau semalam aku melihatnya sebagai pria bertubuh besar. Pagi ini—dia lebih terlihat seperti seseorang yang benar-benar tahu apa yang sedang dia kerjakan. Ada sesuatu yang bikin senang melihat dari cara kerjanya.
Bermenit-menit tanpa sadar melamun mengamati pria itu bekerja, aku terdistraksi oleh rengekan seorang bocah yang duduk di dekat Viktor. Bocah berkaca mata bulat dengan pipi tembam itu bahkan sudah merosot ke lantai dengan frustasi.
“Yahhhhhh… please?”
“Diam!”
“Nggak mau. Kata ibu, Ayah yang—”
Kalimat bocah itu terpotong oleh sapaan rekan Viktor padaku. “Eh, mbak cantik. Mau servis mobil, ya?”
Sekonyong-konyong semua yang di garasi itu menoleh padaku. Aku menggaruk tengkukku yang tidak gatal. Sembari menggeleng dengan cengiran.
“Mau ketemu Viktor.” Balasku. Kontan saja tatapan semua orang beralih ke Viktor. Pria itu tidak bereaksi. Bahkan, tidak berekspresi—masih sama datar dan kakunya kayak semalam.
“Pacar baru si bos, ya?” Dia bersiul menggoda.
Belum sempat aku meluruskan, bocah yang tadi merengek bereaksi lebih dulu. “Ayah punya pacar??” Dia mencecar ke arah viktor. Seolah-olah dia ini detektif yang sedang menanyai penjahat. “Aku bilangin ibuk!”
Viktor meliriknya tajam. Bocah itu otomatis bungkam. Walau, ekspresinya tetap defensif—menatapku menyelidik.
Tampaknya bocah itu memang anak viktor. Mungkin Mama lupa menambahkan informasi ini—bahwa Viktor rupanya sudah menikah.
“Ya sudahlah. Memangnya kenapa kalau dia lajang atau sudah menikah?” Aku membatin. "kesini kan bayar utang bukan nyari jodoh."
“Mogok lagi?” Viktor akhirnya bersuara. Dia menatapku tepat di mataku. Membuatku mendadak jadi gugup.
“Ee—itu, aku—” Astaga! Kenapa jadi gagap begini. Aku menunduk cepat. Mencoba mengalihkan rasa gugup ini dengan menatap sandalku. Aku menelan ludah susah payah sebelum mendongak kembali.
“Aku bawa ini.” Aku mengangkat sekantung lemon yang kubawa. “Kebetulan banyak. Nggak akan habis kalau cuma dimakan sendiri.” Dalihku. Nyengir konyol ke arahnya.
“Hm.”
Aku melongo. Viktor cuma berdeham lalu balik dengan kesibukannya. Seolah aku cuma angin lewat yang kebetulan sempat menggoyangkan helaian rambutnya beberapa detik.
“Taruh situ aja, Mbak.” Kata bapak montir yang tadi ngobrol sama pelanggan. Beliau menunjuk meja kecil dekat kursi tunggu.
Aku mengangguk kecil. "Oh... oke."
Kutaruh kantong berisi lemon itu di atas meja seperti yang diminta. Rasanya canggung sekali. Aku datang ke sini, sudah latihan kalimat sepanjang jalan, lalu respons yang kudapat cuma... hm.
Luar biasa.
Bahkan tukang parkir di minimarket lebih ekspresif waktu menerima uang receh.
"Terima kasih, ya, Mbak." Bapak montir yang tadi tersenyum ramah padaku.
"Iya, Pak."
Aku berniat langsung pamit. Serius. Harga diriku masih cukup sehat untuk tahu kapan harus mundur dengan anggun. Sayangnya, lagi-lagi aku terdistraksi bocah itu.
"Yah." Suara kecil itu terdengar lagi. "Es."
"Nggak."
"Sedikit aja."
"Nggak."
"Panas banget lhoo."
"Nggak."
Aku menoleh tanpa sadar. Bocah berkacamata itu kini menggelayuti lengan Viktor seperti koala. Viktor tetap bekerja sambil mengencangkan baut. Bahkan tidak melirik sedikit pun ke bawah.
"Yah..."
"Nggak."
"Tapi aku haus."
"Minum air."
"Nggak mau. Air nggak dingin."
"Ya sudah."
Bocah itu mendengus keras-keras. "Kalau aku meleleh gimana?"
"Tinggal dipel."
Aku spontan menutup mulut. Astaga. Jawaban macam apa itu?
Bocah itu membelalak tak percaya. "Ayah jahat."
"Hm."
"Kejam banget."
"Hm."
Aku menggigit bibir, mati-matian menahan tawa.
Entah kenapa, pemandangan pria setinggi itu sedang berdebat datar dengan anak kecil terasa... lucu.
Bocah itu akhirnya mengembuskan napas panjang. Lalu, tau-tau tatapannya kembali mengarah kepadaku. Matanya menyipit. Seolah baru ingat ada orang asing di ruangan ini.
Dia melepas lengan Viktor, lalu berjalan mendekatiku dengan langkah kecil-kecil.
Aku ikut berjongkok supaya tinggi kami sejajar. "Hai." Sapaku ringan
Dia tidak menjawab. Malah terus menatapku heran.
"Namamu siapa?" tanyaku pelan.
"Leo."
"Nama aku Cassie."
"Hm."
Oke. Mirip ayahnya. Sama-sama hemat bicara.
"Kakak temannya Ayah?"
Aku melirik Viktor yang masih membelakangi kami. "Ehm... Mungkin?” balasanku terdengar tidak yakin. Bagaimanapun kami baru bertemu semalam, tidak bisa disebut teman juga.
“Jangan jadi pacar ayah.”
Aku nyaris tersedak ludahku sendiri.
“Ayah punya ibu.” Dia menambahi. Seolah sedang memberi ultimatum.
Aku tersenyum canggung. Kesannya kayak aku datang buat menggoda pria beristri. Astaga, bocah itu!
“Aku tau.” Aku mencoba terdengar meyakinkan. “Aku ke sini cuma mau bayar utang.” Kataku menjelaskan supaya dia tidak salah paham.
Mendengar kata utang bikin Viktor otomatis menoleh padaku. “Tidak perlu.” Katanya.
“Tidak perlu?” aku membeo. Selama beberapa detik aku bengong, mencoba mencerna balasannya.
“Tidak perlu bayar?” Akhirnya aku mengerti maksudnya. “Nggak bisa gitu. Kamu sudah membantuku memperbaiki mobilku semalam. Aku harus bayar.” Aku refleks berdiri. Tinggiku menjulang, menelan tinggi bocah tadi.
Tapi alih-alih dapat balasan, viktor lagi-lagi membelakangiku. Aku menghela napas lelah. Oke, aku menyerah.
Aku beralih ke bapak montir yang ramah tadi. “Bapak, maaf, boleh minta nomor rek—”
Kalimatku tidak selesai. Aku kicep dapat tatapan tajam Viktor. Spontan aku menunduk lesu dan undur diri.
“Besok kutagih lagi.” Kataku serupa bisikan tanpa nyali. Takut beneran dilempar kunci inggris.
“Ciee ditolak sama ayah!!”
Ledekan itu otomatis bikin semua orang—kecuali Viktor—tertawa.
Bocah itu—sialan!
Aku tidak berani menoleh, terus saja berjalan. Hingga—
"Acacia."
panggilan itu membuatku refleks berhenti. Itu suara Viktor. Dia benar-benar memanggil namaku. Itu membuatku diam-diam mesem sendiri.
Akankah dia akhirnya menyerah dan membiarkanku membayar utang? Atau malah nyuruh aku balik?
"Lemonmu."
Sontak saja aku menoleh. "Hah?"
"Aku tidak suka lemon."
***