Dimas Agastya
Cemburu. Itu yang aku rasakan saat ini. Dengan langkah cepat aku meninggalkan halaman rumah itu tanpa berniat untuk menoleh pada si empunya rumah yang sudah menitipkan kata-kata yang cukup pedas di telingaku hingga menusuk ke jantungku. Tapi mungkin aku pantas menerimanya. Situasi ini terasa jauh lebih mendebarkan dibandingkan situasi putus kami pertama kali dulu.
Kecelakaan yang aku alami tadi bisa jadi suatu pertanda juga bahwa aku tidak boleh lagi menyia-nyiakan waktu yang ada. Aku bersyukur aku masih diberi kesempatan hidup. Di detik-detik mobilku bergerak diluar kendali, berputar entah berapa kali hingga akhirnya berhenti dan membuat aku kehilangan kesadaran beberapa detik, terus melintas di kepalaku. Tidak ada luka di tubuhku, safety belt menyelamatkan hidupku, hanya