“Di setiap pertemuan akan ada perpisahan. Namun di kisah kita, aku menolak hal itu, aku ingin menua bersamamu menatap terbitnya matahari yang bersinar seperti senyumanmu.”
- ORIS DAREL TRISTAN.
Semilir angin dari luar bangunan besar rumah yang sudah di tinggali Arcylic sejak lama samar terdengar di telinga Oris, ia terdiam di tempatnya sambil memandang mayat Arcylic dengan tatapan kosong.
Untuk pertama kali dalam hidupnya ia merasa rapuh, perlahan Oris mengangkat tangannya yang menggenggam magnum yang sebelumnya sempat ia tembakkan ke kepala Arcylic, Oris menempelkan moncong magnum itu ke pelipis dahinya. Berselang beberapa detik, Oris menutup mata, hendak menghancurkan otaknya menggunakan s*****a yang sama dengan yang ia gunakan untuk membunuh kakak semata wayangnya, Arcylic.
Namun s