Dua hari berlalu sejak pertemuan singkat di kedai kopi.
Nadira kembali menjalani rutinitas yang mulai terasa melelahkan. Pagi ia membuka berbagai situs lowongan kerja. Siang mengirim lamaran. Sore mengikuti wawancara daring yang sering kali berakhir dengan kalimat, "Kami akan menghubungi Anda kembali." Kalimat yang terdengar sopan, tetapi hampir selalu berarti penolakan.
Tabungannya terus menipis.
Ia mulai menghitung pengeluaran dengan lebih cermat. Kopi sachet menggantikan kopi kafe. Makan siang cukup nasi, telur, dan mi instan. Lampu apartemen dimatikan lebih awal untuk menghemat listrik.
Jakarta mengajarkan bahwa hidup bukan hanya soal bermimpi, tetapi juga bertahan.
Suatu sore, saat Nadira sedang menjemur pakaian di balkon sempit apartemennya, ia mendengar suara ribut dari unit sebelah.
"Aku bilang minggu depan aku bayar!"
Suara laki-laki.
"Lho, Mas. Saya juga cuma menjalankan tugas."
Suara Bu Ratna terdengar sabar.
Nadira mengintip pelan.
Seorang pria berdiri di depan pintu apartemen sebelah. Rambutnya sedikit acak-acakan, mengenakan kaus hitam dan celana jins pudar. Di tangannya tergenggam kamera yang talinya melingkar di pergelangan tangan.
Nadira langsung mengenalinya.
Pria dari kedai kopi.
"Mas Arga, saya kasih waktu seminggu," kata Bu Ratna akhirnya.
Arga mengusap tengkuknya sambil tersenyum canggung.
"Terima kasih, Bu."
Begitu Bu Ratna pergi, Arga menghela napas panjang lalu baru menyadari ada seseorang memperhatikannya dari balkon.
Mata mereka bertemu.
"Oh... kita pernah ketemu di kafe, ya?"
Nadira mengangguk kecil.
"Iya."
"Power bank laptopku masih awet?"
Nadira tertawa pelan.
"Masih. Terima kasih waktu itu."
"Syukurlah. Berarti belum rusak gara-gara dipinjam."
Candaan sederhana itu membuat Nadira tersenyum untuk pertama kalinya setelah berhari-hari.
---
Malamnya, hujan turun lagi.
Listrik apartemen sempat berkedip sebelum akhirnya padam.
Keluhan terdengar dari berbagai unit.
Nadira menyalakan senter ponselnya. Ia baru saja hendak memasak ketika terdengar ketukan di pintu.
Tok.
Tok.
Tok.
Dengan sedikit ragu ia membuka pintu.
Arga berdiri sambil membawa lilin kecil dan dua bungkus mi instan.
"Listrik mati lama, sepertinya."
"Iya."
"Aku mau masak pakai kompor portable. Daripada makan sendirian, mau ikut?"
Nadira terdiam beberapa detik.
Biasanya ia tidak mudah menerima ajakan orang yang baru dikenalnya.
Namun suara perutnya yang sejak siang belum diisi membuat logikanya sedikit goyah.
"Aku... merepotkan, nggak?"
Arga menggeleng.
"Kalau dua orang makan mi, rasanya lebih enak daripada satu."
Kalimat itu terdengar sederhana.
Tetapi ada kehangatan yang sulit dijelaskan.
Beberapa menit kemudian mereka duduk di lorong apartemen bersama beberapa penghuni lain yang juga keluar karena gerah.
Kompor portable menyala.
Air mendidih.
Aroma mi instan memenuhi lorong.
"Kerja di mana?" tanya Arga.
"Baru saja kehilangan pekerjaan."
"Oh..."
"Bulan lalu masih kerja."
"Sekarang?"
"Sedang cari."
Arga mengangguk pelan.
"Aku juga pernah."
"Kehilangan pekerjaan?"
"Kehilangan semuanya."
Nadira menoleh.
"Maksudnya?"
Arga tersenyum tipis.
"Nanti saja ceritanya. Terlalu panjang."
Jawaban itu justru membuat Nadira penasaran.
---
Listrik kembali menyala hampir satu jam kemudian.
Sebelum masuk ke unit masing-masing, Arga berkata,
"Kalau butuh bantuan edit CV atau portofolio, bilang saja. Aku lumayan sering bantu teman."
Nadira mengangguk.
"Makasih."
"Anggap saja balas jasa karena sudah meminjam power bank."
"Harusnya aku yang balas."
"Kalau begitu nanti gantian traktir kopi."
Mereka tertawa kecil sebelum kembali ke kamar masing-masing.
---
Keesokan paginya, Nadira menerima pesan dari nomor yang tidak dikenal.
"Halo. Ini Arga. Nomormu dikasih Bu Ratna. Katanya kamu lagi cari kerja. Ada teman yang sedang butuh copywriter freelance. Kalau berminat, nanti kukirim kontaknya."
Nadira membaca pesan itu beberapa kali.
Ia tidak langsung membalas.
Sudah terlalu sering ia kecewa oleh harapan.
Namun beberapa menit kemudian, ia mengetik singkat.
"Terima kasih. Aku berminat."
Tak lama kemudian, sebuah nomor dan alamat surel masuk.
Untuk pertama kalinya sejak di-PHK, Nadira merasa masih ada pintu yang belum tertutup.
---
Sore harinya mereka kembali bertemu di lift.
Arga membawa tas kamera besar.
"Wawancara?"
"Iya."
"Semoga berhasil."
"Kamu sendiri?"
"Mau liputan festival musik."
"Keren."
"Kelihatannya keren. Padahal dibayar setelah klien lunas."
Nadira tertawa.
"Ternyata hidupmu juga tidak semudah yang kelihatan."
Arga mengangkat bahu.
"Hidup siapa yang benar-benar mudah?"
Pintu lift terbuka.
Sebelum keluar, Arga sempat berkata tanpa menoleh,
"Jakarta itu aneh."
"Kenapa?"
"Kota ini sering mempertemukan orang yang sama-sama sedang kehilangan."
Nadira terdiam.
Kalimat itu terus terngiang bahkan setelah lift kembali menutup.
Ia belum mengenal Arga.
Belum tahu masa lalunya.
Belum tahu alasan mengapa pria itu selalu tampak santai meski hidupnya sendiri berantakan.
Yang Nadira tahu hanya satu.
Di kota sebesar Jakarta, yang selama ini terasa begitu asing, akhirnya ada satu wajah yang mulai terasa akrab.
Dan tanpa disadarinya, perkenalan sederhana itu perlahan menjadi awal dari perubahan besar yang akan menguji keyakinannya tentang cinta, kepercayaan, dan arti sebuah rumah.