“Ngapain ya, Teh Kinar ke rumahnya Dita?”
Kami akhirnya kembali pulang setelah menunggu beberapa waktu, tapi Teh Kinar tak kunjung datang. Di perjalanan pulang, yang kembali melewati pematang sawah itu, aku bertanya. Ada rasa penasaran mengapa Teh Kinar menghampiri Dita ke rumahnya? Kenapa tidak sekalian saja kami berkumpul di bale bambu di bawah pohon mangga seperti biasanya?
“Mungkin main mereun kaya biasanya. Siga teu apal awewe wae, Gis. Ini ge karena Nia ada Agis di rumah, jadi rada betah, ada temennya mau ngobrol teh. Ari Teh Kinar mah kan gak ada, Gis.”
Aku mengangguk anggukan kepala. Paham apa yang di maksud oleh Nia. Benar juga, Pasti suntuk sekali rasanya berdiam diri terus menerus di dalam rumah tanpa bertukar cerita dengan kawan. Aku juga merasakan hal yang sama beberapa ha