Tiba-tiba aku teringat bahwa hari itu, Icha, seorang cewek yang aku kenal di i********:, akan meneleponku. Dengan berat hati kunyalakan lagi HPku.
Baru saja kunyalakan, tiba-tiba HP ku berdering dan berdering. Huh, Dara lagi. Perawan tua sialan! Mengganggu saja! Tapi hmmm...tiba-tiba aku mendapat ide bagus.
"Hallo."
"Assalamualaikum, Dimas. Kenapa sih, HP kamu dimatiin?"
"Iya...eh sorry, tadi aku lagi BT aja. Aku sebenarnya lagi ada masalah, nih."
"Masalah apa, sih? Cerita aja sama aku."
"Well...sebenarnya aku malu ngomong ini."
"Ngomong aja. Nggak usah malu. Siapa tau aku bisa bantu."
"Mmm...gini...aku harus bayar kuliah. Uang gajiku bulan lalu buat bayar biaya berobat Mama. Mamaku kan sakit diabetes harus control terus ke dokter. Dan adikku baru aja ada pengurangan pegawai di kantornya. Maklum, lagi pandemi gini kan."
"So...jadi gimana?"
"Mmm...ya...kamu bisa bantu aku, nggak ?"
"Pinjamin kamu uang ? Itu maksud kamu? Berapa?"
"Ya...sekitar 8 juta lah."
"8 juta ?"
"Iya. Aduh, jadi ngerepotin. Kalau emang ngerepotin, nggak usah deh."
"Eh nggak...nggak apa-apa kok. Nanti aku fikir-fikir dulu, ya."
"OK, aku mau main game dulu ya. Nanti telpon aja lagi."
"OK. See you."
Hmmm, bagus, deh. Sudah berhasil aku memainkan jurusku untuk mendapatkan uang. Pasti dalam minggu ini, Dara akan meminta nomor rekeningku dan mentransfer 8 juta. 8 juta! Yeeey!
8 juta untuk apa saja, ya ? Hmmm, kufikir-fikir dulu. Pastinya aku beli sneaker baru, Nike atau Adidas. Terus kemeja flanel terbaru. Hmmm, rokok, vape, pemantik yang bagus. Kasih ke Mama. Dan yang penting, ajak Icha ke coffee shop yang buka selama PSBB dan beli hijab dan asesoris kesukaannya.
Well, nggak sia-sia deh, aku meladeni si perawan tua itu, kataku dalam hati. Hatiku bersorak riang sambil menunggu telepon dari Icha.
*****************************************