“Andy! Kamu dari mana saja, hah?!” teriak Amanda begitu pintu depan terbuka. “Ini sudah jam tiga sore!”
Rambut Amanda berantakan dan wajahnya terlihat kusut saat menyambut adiknya di ambang pintu. Dia baru keluar dari kamar setelah seharian mengunci pintu depan dan mengurung diri di kamar dengan perasaan waswas.
Armand masih belum juga mengangkat telepon atau membalas pesannya sejak Amanda melarikan diri ke dalam rumah setelah pertemuan dengan Reyner tadi pagi. Entah sudah berapa belas kali dia menelepon Armand, bahkan di jam yang seharusnya jam makan siang. Namun, adiknya itu belum juga merespons.
Amanda hanya ingin tahu kenapa teman sekolah adiknya dulu bisa sampai di kota ini. Terlebih lagi, tinggal tepat di sebelah rumah.
Andy menatap wajah kakaknya heran. “Aku kan kalau hari Kamis memang ada ekskul, Kak,” jawab Andy cuek sambil nyelonong melewati kakaknya.
Remaja laki-laki itu langsung duduk di kursi ruang depan sambil membuka tas sekolahnya.
“Tumben kunci pintu segala, Kak? Aku kira Kakak tidur. Aku tadi panggil-panggil Kakak lumayan lama,” lanjut Andy seraya meletakkan buku-bukunya di atas meja. “Oh iya, Kak, ini ada tugas Bahasa Inggris, bantuin aku, ya?”
Amanda hanya melirik sekilas ke arah buku pelajaran milik adiknya. Pikirannya masih kacau. Dia bingung harus menjelaskan ketakutannya pada anak seusia Andy. Dia tak mungkin mengerti, pikir Amanda sambil menghela napas panjang.
“Loh, Kakak sakit?” tanya Andy sambil menyentuh punggung tangan Amanda. “Mama pasti tadi pagi tidak sempat masak, kan? Aku buatkan telur orak-arik, ya? Kakak kan pasti capek kerja.”
Amanda hanya menatap kosong ke arah meja. Tanpa menunggu jawaban, Andy langsung beranjak ke dapur.
“Kak, ini apa? Kok banyak bunga?” teriak Andy dari arah dapur. Tak lama, dia keluar sambil membawa segenggam kelopak mawar merah yang Amanda buang ke tempat sampah.
“Hm... bukan apa-apa,” jawab Amanda pendek, mengalihkan pandangan.
Amanda ingat betul, Andy masih sangat kecil saat dia rutin dikirimi bunga mawar merah segar sepuluh tahun lalu. Mana mungkin anak ini ingat. Pandangan Amanda tertuju ke lantai, bingung harus berkata apa.
“Kakak diganggu pria mana lagi?” tanya Andy, nada suaranya meninggi, setengah berteriak. Dia berjongkok di depan Amanda, menatap lurus mata kakaknya. “Ayo, Kak, cerita!” Andy mengguncang pelan tubuh Amanda. “Siapa orangnya?!”
Amanda menatap wajah Andy, adik bungsunya. Usia mereka terpaut tiga belas tahun. Anak ini lahir tepat saat Amanda dan Mamanya mengetahui perselingkuhan sang Bapak. Momen kelam saat Bapaknya menjual seluruh aset keluarga, meninggalkan utang, lalu kabur begitu saja.
Andy dulu begitu kecil, tetapi sekarang anak itu sudah berusia lima belas tahun dengan tinggi badan yang hampir setinggi Armand. Anak yang terlihat cuek, tetapi raut wajahnya saat ini memancarkan rasa khawatir yang tulus hanya karena melihat rontokan kelopak mawar di tempat sampah.
Amanda tersenyum tipis, tersentuh oleh perhatian adiknya. "Bukan apa-apa, Ndy. Cuma sampah bunga biasa."
“Kakak bohong, ya?” Wajahnya terlihat curiga.
“Mana mungkin?” Tangannya mengelus kepala Andy. “Ayo cepat masak, Kakak sudah lapar nih.”
Andy menatap Amanda sejenak sebelum beranjak dan kembali ke dapur sambil menggerutu pelan.
Lalu mereka berdua makan dalam diam.
Sepanjang makan siangnya yang terlambat itu, pikiran Amanda terus tertuju pada kejadian tadi pagi. Dia terus bertanya-tanya, mengapa teman Armand bisa ada di sini? Kenapa kepindahan pria itu pas sekali dengan teror yang dia terima? Apakah Reyner pelakunya?
Selesai makan, Andy membawa piring kotor ke belakang dan mulai mencuci piring. Amanda menyandarkan tubuhnya di kursi.
Setelah basa-basi busuknya tadi pagi, dari jendela aku melihat dia dan mobilnya pergi entah ke mana. Semoga saja dia tak kembali lagi, batin Amanda sambil meremas jemarinya.
Satu jam kemudian...
BRUMMM...
Suara deru mesin menggetarkan keheningan sore itu. SUV merah itu sudah kembali, dan lagi-lagi berhenti di pekarangan rumah sebelah.
Saat itu Andy sedang menyapu halaman depan rumah.
Waktu pintu pengemudi terbuka, kali ini kemeja Reyner sudah digulung hingga siku. Wajahnya terlihat lelah. Meskipun begitu, pria itu menghentikan langkah di dekat tembok pembatas saat melihat Andy yang bengong sambil memegang sapu lidi.
"Andy, ya?" sapa Reyner. Suaranya mengalun ramah.
Andy meletakkan sapu lidinya, melangkah menuju pria tinggi di seberang tembok rendah itu dengan wajah bingung. "A... iya, Pak. Siapa, ya?" sahut Andy polos, agak ragu.
Reyner tersenyum tipis. "Lupa, ya? Aku temannya Armand. Dulu zaman masih sekolah, aku sering main ke rumah. Waktu itu kamu masih kecil."
Mata Andy langsung berbinar lega. "Oh! Temannya Mas Armand?! Wah, maaf Mas, aku tidak mengenali!"
“Sudah besar ya, kamu,” puji Reyner dengan senyum ramah.
Tepat saat itu, Mama memasuki pekarangan rumah membawa kantong belanjaan. Mendengar Andy berbicara dengan pria asing bertubuh tinggi yang berdiri di sana, Mama menghentikan langkahnya.
"Loh, Andy... ada siapa ini?" tanya Mama penasaran.
"Ini temannya Mas Armand waktu sekolah dulu, Ma!" sahut Andy antusias.
Mendengar itu, wajah Mama seketika berseri-seri. "Ya ampun, sudah besar sekali?! Yang temannya Armand itu? Eh, siapa namanya ya, Nak? Maklum sudah tua jadi pelupa."
"Reyner," sahut pria itu seraya membungkuk sopan.
"Iya, iyaaa... Si Rey ini! Baru ingat sekarang. Duh, makin tampan saja!"
"Iya, Tante. Kebetulan saya ada urusan bisnis di kota ini dan baru saja pindah ke rumah sebelah. Ternyata kita bertetangga."
"Aduh, ya ampun, dunia sempit sekali ya! Ayo masuk sini main sama Andy.” tangan Mama mengusap pundak Andy pelan. “Eh, ada Kak Manda juga loh."
Di dalam rumah, Amanda yang baru selesai mandi dan berganti pakaian dengan daster, mendengar gelak tawa Mama dan Andy dari luar.
Ada apa sih di luar kok ramai sekali? pikirnya bingung.
Sambil mengusap-usap rambutnya dengan handuk, Amanda melangkah perlahan menuju pintu depan dan berdiri di ambang pintu. Apa yang dilihatnya di halaman membuat langkahnya terhenti.
Di sana, di dekat tembok pembatas, Mama dan Andy tampak tertawa lepas, begitu hangat dan akrab berbincang dengan Reyner. Pria itu masih melanjutkan obrolannya dengan Mama, tetapi perlahan matanya melirik ke arah pintu. Pandangannya lalu terpaku pada Amanda.
"Hohoho... ya ampuun..."
Gelak tawa Mama dan adiknya memecah dari tempat mereka berdiri, lalu meredup begitu saja di telinga Amanda. Tawa hangat mereka bagaikan suara yang tenggelam di bawah air. Dunia Amanda menyempit hanya pada sepasang mata Reyner yang menatapnya.
Di situ, Amanda merasa pandangan Reyner seolah sedang menelanjanginya dari kejauhan. Dia hanya berdiri tegak disertai sensasi dingin di tengkuknya, membuat wanita itu bergidik tanpa sadar.
“Kak Manda, sini!” seru Andy. “Ini Kak Manda, Mas,” celoteh Andy.
"Halo, Kak Manda. Lama tidak bertemu. Apa kabarnya?" ujar Reyner sambil menyunggingkan senyum ramah, matanya tak lepas sedikit pun dari Amanda.
Handuk di genggaman tangan Amanda meluncur begitu saja ke lantai.
Sandiwara macam apa ini?!