“Argh! Armand, kamu di mana, sih?” teriak Amanda frustrasi, suara erangannya menggema di dalam kamar yang terkunci sejak sore tadi. “Kenapa teleponku tidak diangkat juga?!”
Amanda melemparkan ponselnya ke atas kasur. Dia kembali mengurung diri di dalam kamar sejak melihat sandiwara pria itu di halaman depan sore tadi. Bayangan wajah Reyner yang tersenyum ramah kepada Mama dan Andy terus terbayang-bayang di kepalanya, membuatnya amat kesal.
“Kak, ayo makan malam,” panggil Andy dari balik pintu.
Amanda menghela napas panjang. Dia bangkit sambil meraih ponselnya, melangkah lebar-lebar menuju pintu dan membukanya dengan kasar.
Srett!
Andy yang masih berdiri di sana tersentak kaget dan mundur setengah langkah setelah mendapati raut wajah kakaknya yang begitu tegang.
“Ma, apa Armand ada bilang dia mau ke mana hari ini? Teleponnya dari tadi pagi tidak diangkat sama sekali!” teriak Amanda tanpa basa-basi, suaranya melengking.
Di dapur, mamanya yang sedang memindahkan masakan dari wajan ke piring menoleh sebentar. “Apa, ya? Kemarin dia ada bilang mau ke mana gitu, Mama lupa. Kenapa, sih?” ujar mamanya santai.
Belum sempat Amanda membalas, Mamanya menyuruh anak bungsunya. “Andy, tolong antarkan piring yang Mama tutup mangkuk ke rumah sebelah, ya. Kasih tahu Mas Reyner, itu ada makanan untuk makan malam.”
Mata Amanda melihat ke arah piring beling yang sudah ditutupi dengan mangkuk plastik di atas meja depan.
“Takutnya dia tidak sempat masak, di sini kan jarang ada warung makan buka sampai malam,” tambah Mamanya.
Amanda melotot tak percaya. “Mama menyuruh Andy mengantarkan makanan ke rumah sebelah?!” tanya Amanda dengan nada suara kesal.
Andy yang sejak tadi memperhatikan interaksi itu mulai mengernyitkan dahi, menangkap ada sesuatu yang tidak beres dari tingkah laku kakaknya.
“Kenapa memangnya, Kak? Kan Mas Rey temannya Mas Armand...” gumam Andy polos.
“Kamu tahu dari mana dia itu teman Armand?!” potong Amanda cepat, suaranya terdengar ketus.
Andy hanya melongo melihat kakaknya.
Mamanya meletakkan wajan di tempat cucian piring dan menyahuti Amanda dari arah dapur. “Kamu ini kenapa, sih, Manda? Marah-marah tidak jelas. Tadi kan kamu juga sudah ketemu Rey.”
Amanda hanya berdiri kaku di depan dapur. Tangannya mengepal keras.
Kenapa dua orang di rumah ini sama sekali tidak menyimpan rasa curiga? Kenapa Mama dan Andy begitu mudah percaya pada seorang pria yang tiba-tiba muncul dan tinggal di rumah sebelah mereka?
Meskipun... jujur saja, Amanda tidak bisa membohongi ingatannya sendiri. Pria itu memang tidak mengarang cerita.
Amanda ingat betul wajah itu. Sebelas tahun lalu, saat Amanda duduk di kelas 12 SMA, sementara Armand berada di dua tingkat di bawahnya. Sebagai kapten tim bola basket junior yang populer di sekolah, Armand sering sekali membawa teman-temannya main ke rumah usai latihan.
Biasanya mereka memetik gitar sambil bernyanyi atau sekedar main game di pos ronda yang persis ada di depan deretan kontrakan.
Di antara anak-anak laki-laki yang riuh dan berisik itu, ada satu anak laki-laki tinggi yang perawakannya hampir menyamai Armand. Dia sangat pendiam, tidak banyak bicara seperti teman-temannya yang lain.
Teman Armand yang tangannya waktu itu selalu memegang ponsel, tetapi matanya selalu mengikuti setiap kali Amanda keluar pintu. Pandangan yang dulu sempat membuat Amanda sangat risih.
Tapi itu sudah lama sekali!
Greb.
“Kak Manda kenapa?” tanya Andy pelan. Remaja itu melangkah mendekat, lalu menyentuh punggung Amanda yang menegang.
Sentuhan di punggungnya membuat Amanda tersentak kaget. Tubuhnya bergidik pelan, memecah lamunan mengerikan yang baru saja menguasai kepalanya.
“Tidak... tidak apa-apa, Ndy,” bisik Amanda pelan, mengalihkan pandangan dari mata adik bungsunya.
“Sudah, sudah... Andy, antarkan makanan dulu sana ke tempat Mas Reyner,” sela Mamanya, memotong ketegangan itu sambil berjalan melewati Amanda yang masih mematung di depan pintu dapur.
Cih. Amanda hanya mendengus pelan dengan napas berat saat melihat adik bungsunya menghilang di balik pintu depan tanpa rasa curiga sedikit pun.
Dengan langkah lemas, Amanda menuju meja ruang depan, merosot dan duduk di salah satu kursi. Matanya menatap kosong pada hidangan makan malam yang tersaji di atas meja.
Dia menatap tumis labu siam dan tempe orek di atas meja.
Bukannya rasa lapar, yang dia rasakan hanyalah rasa mual. Entah sudah berapa kali dia menghembuskan napas cemas dan kesal sembari melihat Mamanya menyendoki makanan ke piring-piring mereka.
Tak lama kemudian, pintu depan terbuka. Andy kembali dengan wajah ceria.
“Mas Reyner tadi baru mau keluar cari makan. Katanya makasih untuk makanannya, Ma. Katanya berkat makanan dari Mama, Mas Reyner jadi tidak perlu keluar,” tutur Andy, lalu merogoh kantung celananya. “Oh iya, aku dikasih uang jajan, Ma!” kata Andy sembari menunjukkan beberapa lembar uang berwarna merah.
Dia sekarang mau menyuap Andy, batin Amanda pedih.
“Wah, Mas Reyner baik, ya. Sekarang sudah mapan sepertinya. Dulu dia hampir tiap hari sering makan di rumah waktu masih sekolah,” ujar Mamanya.
Heh, kapan? Kapan dia pernah makan di rumah? batin Amanda heran. Seingatnya, keluarga mereka tidak pernah memberi makan anak itu. Mamanya pasti salah ingat dan mengada-ngada.
Sepanjang makan malam berlangsung, Andy terus berceloteh nyaring menceritakan kegiatannya di sekolah dan betapa ramahnya sosok Reyner saat diantarkan makanan. Mamanya menyimak sambil terkekeh-kekeh, menikmati obrolan hangat anak bungsunya. Sementara, Amanda hanya duduk membisu sambil mengunyah nasi di mulutnya.
Pikirannya berputar bak pusaran angin. Dia ingat betul tadi pagi saat mereka berhadapan satu sama lain, tatapan mata Reyner seperti tatapan seorang pemburu yang menemukan mangsanya. Tetapi saat Andy dan Mamanya ada di sana sore tadi, kenapa pria itu berpura-pura bersikap sopan dan seolah-olah baru pertama kali melihat Amanda setelah bertahun-tahun berlalu? Apa sebenarnya maksud dari semua sandiwaranya itu?
Tring! Ring! Tririring riiing!
Suara nyaring dering telepon memecah suasana makan malam. Ponsel Amanda yang tergeletak di samping piringnya bergetar dengan nada yang nyaring.
Nama ‘Adik Durhaka’ menyala terang di layarnya.
“Akhirnya dia menelepon juga!” serunya lega.
Amanda langsung menggeser tombol hijau dan menyalakan mode speaker agar Mama dan Andy juga bisa mendengar konfirmasi dari Armand secara langsung.
“Halo? Kak?” suara Armand terdengar dari seberang telepon. Ada dengung halus suara bising di belakangnya. “Maaf, Kak. ponsel aku tadi pagi ketinggalan di kamar kos, jadi seharian tidak pegang ponsel. Waktu aku mau buru-buru pulang, bos menyuruh aku ke lokasi proyek. Ini aku baru saja pulang dan langsung ke atas buat telepon. Biasa... kamar aku berisik.”
Amanda teringat kamar kos yang ditunjukkan Armand sebelum dia, Mama, dan Andy pindah. Kamar kos sempit bercat hijau dengan dinding penyekat tipis antar ruangan. Kos putra yang selalu berisik dari pagi ketemu pagi lagi. Armand pasti sedang berdiri di rooftop kosnya agar bisa menelepon.
“Hehehe…” Armand terdengar terkekeh pelan di ujung sana, mencoba mencairkan suasana. “Ada apa, sih, Kak? Tumben menelepon berkali-kali begitu? Apa Kakak sekangen itu sama aku?”
“Mand! Jangan bercanda, aku serius!” potong Amanda cepat, napasnya memburu dan tidak sabaran. “Aku cuma mau tanya langsung sekarang. Kamu tahu tidak kalau teman sekolah kamu jaman SMA dulu sekarang tinggal di sebelah rumah kita?!”
Suara tawa Armand di seberang sana mendadak terhenti. Hening sejenak menyelimuti panggilan itu selama beberapa detik.
“Teman sekolah? Teman yang mana, Kak?” tanya Armand heran, nada suaranya berubah bingung. “Memangnya Kakak ketemu siapa?”
“Itu teman kamu yang—”
Brak! Aduh!
Terdengar bunyi benda jatuh di ujung telepon, diikuti ringisan kesakitan dari Armand.
“Kak...!”
Bip.
Layar ponsel di tangan Amanda mendadak mati. Suara Armand terputus begitu saja di tengah kalimat.
“Armand!!” jerit Amanda histeris.
Jari Amanda bergerak cepat menekan kembali kontak adiknya.
Tuut... Tuut... Nomor yang Anda tuju—
Dia menekan tombol panggil lagi dengan tangan gemetar.
Tuut... Tuut... Tuut... Nomor yang Anda tuju—
Dada Amanda terasa sakit karena diserang kepanikan. Sementara itu, Mama dan adiknya saling berpandangan dengan heran.
Armand, kamu kenapa?!