“Armand!” jerit Amanda histeris, membuat suara sendok-sendok yang beradu dengan piring terhenti.
Mama dan adiknya, Andy, bengong menatap Amanda yang berdiri dengan tubuh gemetar di sisi meja. Napas gadis itu kasar, matanya membelalak penuh kecemasan.
“Ini pasti gara-gara pria itu!” teriak Amanda lagi. Suaranya serak, nyaris pecah.
Makan malam keluarga yang biasanya tenang itu seketika berantakan. Sejak teleponnya putus tadi, kini Armand tidak bisa lagi dihubungi.
“Ini pasti ada hubungannya dengan dia, Ma. Pria itu… yang katanya teman Armand!” Suara Amanda terdengar begitu parau, dadanya naik turun tak beraturan.
Mamanya tidak menjawab. Tak lama, suara nada dering dari telepon Mamanya terdengar dari kamar. Wanita setengah baya itu hanya menghela napas panjang, bangkit dari kursi dengan raut wajah jengkel.
Mamanya kembali ke ruang depan sambil menempelkan ponsel ke telinganya.
“Halo, oh Pak Dani…”
Pak Dani, bapak kosnya Armand?
Amanda berdiri di sana, memperhatikan setiap ekspresi di wajah Mamanya.
“Iya… iya, kabar baik, gimana kabarnya?... Oooh begitu… Hahaha… Iya, iya…” Mata sang Mama melirik Amanda dengan cepat, memancarkan tatapan yang menyuruhnya untuk diam. “Iya Pak, maaf merepotkan, mana anaknya?... Oh begitu, baik kalau gitu Pak. Terima kasih loh sudah dikabari, sekali lagi maaf merepotkan ya Pak… Baik… Iya Pak, selamat malam.”
Panggilan terputus.
“Kamu kenapa sih, Manda? Coba kalau kamu tidak sepanik itu,” omel Mamanya sambil menaruh ponsel di atas meja dengan ketukan agak keras.
“Mas kenapa, Ma?” tanya Andy, yang masih santai menyelesaikan makanan di piringnya tanpa beban.
“Itu… katanya dia tertimpa asbes yang di atas jemuran,” ujar Mamanya, tangannya mulai menyendok sisa-sisa makanan dari piring satu ke piring lainnya sebelum menumpuknya menjadi satu. “Hahh… ponselnya jatuh dan layarnya retak. Tadi Pak Dani yang telepon mengabari.”
Jantung Amanda rasanya seperti merosot ke perut. “Terus keadaannya Armand?”
“Ya cuma lecet sedikit, tapi ponselnya mati total.”
“Kenapa dia tidak mengabari aku?” sergah Amanda cepat. “Kenapa Pak Dani telepon Mama?”
“Ya kan Pak Dani cuma simpan nomor Mama! Kamu ini kenapa sih?” Mamanya mengibaskan tangan, gusar.
“Armand-nya mana? Apa luka lecetnya parah? Bisakah aku bicara dengan dia sebentar saja?”
“Katanya sudah masuk kamar, mau istirahat. Besok kan dia masih harus kerja pagi-pagi. Sudah lah, Manda, jangan bertingkah begitu… Ah, bikin pusing saja.”
Amanda mematung di tempatnya. Dia menatap tumpukan piring kotor yang diangkat Mamanya ke dapur. Pertanyaan itu berputar-putar di kepalanya bagai gasing: Apakah reaksinya memang terlalu berlebihan? Apakah dia sudah gila karena ketakutan?
“Ma… maaf, Ma,” bisik Amanda menunduk, menelan bulat-bulat rasa paniknya yang masih tersisa di tenggorokan.
“Sudah, sudah… kamu kan masih ada sesi kuliah online sebentar lagi. Jangan banyak drama,” sahut Mamanya dari arah dapur.
Amanda tidak menjawab lagi. Dia melangkah menuju kamarnya.
Cklek.
Amanda memutar kunci kamar, lalu menyandarkan punggungnya di pintu. Napasnya terengah halus di tengah kamarnya yang sunyi. Dia memejamkan mata, membiarkan keheningan kamar perlahan membungkus tubuhnya yang kaku.
Letak kamar Amanda berada di pojok paling belakang, dekat dapur. Dulu, saat mereka baru pindah, Amanda yang memilih kamar itu. Dia menyukai jendela lebar yang menghadap halaman belakang.
Di luar, terdengar sang Mama masih sibuk di dapur dan Andy yang masih berceloteh.
Sedangkan di kamarnya, rasa sunyi justru mengundang riak penyesalan.
Bayangan dua tahun lalu memutar ulang di kepala Amanda. Saat dia memohon pada Mama untuk mempertahankan rumah peninggalan ini dan pindah dari ibukota. Saat itu, Amanda merasa sesak oleh udara pekat ibukota dan para p****************g yang mengincarnya di gang kontrakan.
Setitik cahaya muncul ketika lamaran kerja remote-nya ke perusahaan luar negeri diterima. Uang asing yang mengalir ke rekeningnya menjadi tiket untuk membujuk Mamanya.
“Ma, kita jual saja rumah peninggalan Bapak di sana. Uangnya kita pakai beli rumah kecil di sini biar kita tidak mengontrak lagi, Ma. Lagipula kan aku kerja di sini,” suara Armand waktu itu ikut memohon.
Tapi Amanda memegang bahu Mama. “Mama yakin masih mau tinggal di sini? Apa tidak sebaiknya kita cari suasana baru? Toh rumah yang di sana besar. Mama bisa menanam banyak tanaman karena tanahnya luas.”
Mamanya terdiam sejenak, menimbang-nimbang saran-saran dari kedua anaknya.
Setelah berpikir lama, mama pun memilih mengikuti saran anak sulungnya. Karena sudah merasa sumpek dengan kehidupan di ibukota dan kebetulan Amanda bisa kerja dari mana saja. Andy yang masih duduk di bangku sekolah ikut dengan mereka, sedangkan Armand saat itu hanya mendengus pelan.
Amanda mengingat momen ketika dia mengirimkan berbagai tautan ke Armand, menunjukkan lowongan kerja remote serupa. “Coba daftar yang ini, deh. Biar kamu bisa ikut pindah, tidak perlu merantau sendirian.”
Armand hanya tertawa pelan, menggaruk kepalanya. “Di tempat kerjaku sekarang banyak temanku, Kak. Aku kan diterima kerja lewat jalur orang dalam. Kakak tolong jaga Mama dan Andy di sana, ya,” ujarnya sambil berusaha memeluk Amanda, yang kemudian dihadiahi jitakan di kepalanya.
Amanda menghela napas panjang, membuka matanya perlahan.
Adiknya itu memang punya magnet yang tak dimiliki Amanda. Sejak sekolah, Amanda selalu menjadi sosok juara kelas yang hanya tahu belajar. Sementara Armand? Sejak dulu, prestasinya pas-pasan, tapi dia punya banyak teman dan koneksi yang membentang luas.
Meskipun begitu, dia adik yang mandiri. Bahkan saat kuliah, Armand mengandalkan keringatnya sendiri dengan kerja paruh waktu.
Sedangkan Amanda rela membayar biaya hari-hari di rumah. Waktu itu Mama sudah tidak bisa bekerja mencuci karena lututnya sering sakit.
“Armand itu tumpuan masa depan keluarga kita, Manda. Kamu kan anak sulung, sudah kewajibanmu mendukung dia,” kalimat Mama tahun lalu berdering ulang di telinganya.
Amanda meremas kedua jemarinya, bertanya-tanya apakah dia pernah membenci adiknya itu.
Tidak! Dia tidak pernah membenci Armand. Sedikit pun tidak. Amanda dan Armand tumbuh bagaikan saudara kembar karena usia yang hanya terpaut dua tahun. Mereka bagaikan matahari dan rembulan yang saling melengkapi.
Bagaimana mungkin dia membenci adiknya itu?
Justru karena rasa sayangnya, dadanya kini rasanya seperti dihantam batu.
Armand bukan tipe adik yang membiarkan telepon kakaknya berdering sampai panggilan ketiga tanpa jawaban. Dia pasti akan berlari menjawab teleponnya kapan pun Amanda menghubunginya.
Kenapa harus ada insiden asbes jemuran yang roboh malam ini? Kenapa ponselnya mati persis saat aku membutuhkan jawaban tentang teman sekolahnya dulu?
Dengan langkah lesu, Amanda berjalan menuju meja belajar yang menempel di dekat jendela. Di balik kaca itu, halaman belakang terhampar gelap. Rumput menyembul dari tanah yang lembap, dibatasi tembok tetangga.
Dia meletakkan ponselnya di meja, menutup tirai jendela, lalu menarik kursi. Amanda duduk dan menekan tombol power pada laptopnya. Cahaya biru dari monitor memancar, memantulkan bayangan wajahnya yang pucat.
Tak lama, bunyi denting memecah keheningan kamar.
Sebuah kotak notifikasi muncul di layar ponselnya.
Amanda mengerutkan dahi saat membuka pesan itu. Tangannya yang memegang ponsel membeku. Matanya membaca baris demi baris kalimat yang tertera di sana.
[Anonim]: Maafkan aku, adikmu cuma lecet sedikit di bahunya. Jangan menangis.
Darah Amanda serasa berhenti mengalir saat itu juga. Napasnya tercekat di d**a. Seluruh badannya menjadi dingin.
Belum sempat otaknya memproses rasa tak nyaman di perutnya, sebuah pesan susulan masuk dengan bunyi denting pelan.
[Anonim]: Ponselnya sekarang mati, tapi kupastikan dia akan mendapatkan gantinya yang lebih baik.
Samar-samar, tercium bau asap rokok di kamarnya. Setahu dia, Andy tidak merokok. Perlahan dia mengendus, mencari asal datangnya bau itu. Ternyata dari jendela di depannya.
Amanda menyingkap sedikit tirainya.
Terlihat asap tipis membumbung dari balik tembok tetangga baru itu.
“Uhuk… uhuk…” Amanda tersedak ludahnya sendiri.
Ternyata dia memang mencurigakan.
Apa yang pria itu lakukan di halaman belakang malam-malam begini?